Paket Malam Hari

Hekto Kopter
Chapter #2

Kurir Paket

Surabaya, 16 April 2025

Hari Rabu


Rumah yang didatangi Bagas sore itu tidak ada belnya. Sejenis rumah-rumah sederhana di pinggiran Surabaya. Dengan beberapa pot yang menggantung di teras depan. Bagas turun dari motornya dengan memegang paket hitam menggunakan sebelah tangan.

"Permisi! Paket!" Bagas mengucapkannya dengan lantang. Sebuah kalimat tamplate ketika mendatangi rumah tanpa tuan rumah yang siap sedia di depan rumah.

Sambil menunggu pemiliknya membuka pintu, Bagas memperhatikan paket di tangannya. Meski paket itu terbungkus plastik hitam yang tebal, dia tahu kalau isinya adalah pakaian. Setahun lebih bekerja menjadi kurir membuatnya memiliki kemampuan baru, mengetahui isi paket sebelum dibuka. Dia bisa tahu dari bentuk packing-an, tekstur, hingga baunya. Sayangnya, dia belum tahu fungsi dari kemampuan barunya itu.

Klek!

Pintu terbuka. Perempuan paruh baya yang memakai daster motif bunga muncul dengan mata setengah menutup. Bagas menerka, perempuan itu baru saja bangun. Padahal saat itu hari udah sore. Bisa-bisanya tidur. Tapi itu bukan urusannya.

"Dua puluh lima ribu, ya Bu."

"Boleh saya cek dulu, Mas?" Tangan perempuan itu siap menerima paket. Tapi Bagas menariknya menjauh.

"Wah, tidak bisa, Bu. Yang ibu pesan bukan jenis yang bisa dicek dulu."

Perempuan itu langsung berbalik sambil menggerutu, "Oalah, Mas. Saya biasanya juga boleh ngecek paketnya dulu." Perempuan itu kembali dengan uang pas. "Masnya baru ya?"

"Iya, Bu. Saya kurir baru," jawab Bagas asal. Tak mau urusannya panjang. "Terima kasih."

Sebelum muncul masalah lain, Bagas segera kembali ke atas motornya. Ini kemampuan lain setelah lama menjadi kurir paket, yaitu mengetahui pelanggan-pelanggan yang bisa membuat kurir pusing. Instingnya saat ini mengatakan, bahwa sosok perempuan itu adalah salah satunya. Pilihan terbaik adalah segera menjauh.

Dan benar saja, baru berjalan beberapa meter, perempuan itu keluar dari rumahnya lagi sambil mengacungkan paketnya yang sudah terbuka. Dia melambai-lambai sambil mengejar setengah berlari.

"Mas! mas! Paketnya salah. Saya nggak pesen yang ini. Saya persennya yang warnanya merah!"

Bagas mempercepat laju motornya. Pura-pura tidak mendengar teriakan perempuan itu. Dari spion motornya, dia bisa melihat wanita itu sudah berhenti tapi mulutnya masih bergerak-gerak. Mungkin mengumpat atau mengutuk dirinya.

Bagas bisa bernapas lega setelah motornya belok ke gang lain dan perempuan tadi tidak terlihat lagi.

Kejadian semacam itu, bukan sekali dua kali dialami oleh Bagas. Dia sudah cukup kebal setelah lama bekerja menjadi kurir. Baginya selama paket sudah dia antar, paket di bayar, tugasnya sudah selesai. Dia malas menghadapi penerima yang keras kepala dan ingin menang sendiri.

Maka dari itu Bagas punya daftar hitam untuk orang-orang menyebalkan seperti perempuan tadi. Setelah ini, pasti dia akan menaruh alamat perempuan tadi ke daftar hitam. Jadi, jika kedepannya dirinya mendapat paket dengan tujuan dan alamat yang sama, dia bisa menolak paket tersebut atau menyerahkannya ke teman-temannya yang mau. Baginya, lebih baik kehilangan beberapa rupiah daripada menghabiskan energi bersama orang-orang gila seperti mereka.

Motor Bagas akhirnya keluar dari gang-gang sempit perkampungan padat. Tapi pandangannya tak serta merta leluasa. Dari padatnya rumah-rumah, sekarang berubah menjadi padatnya kendaraan. Ya, jalanan sore hari Kota Surabaya. Tepat di jam pulang anak-anak sekolah atau pegawai kantoran.

Bagas melirik ke ponsel yang melekat di phone holder. Pukul lima lebih seperempat. Jalanan semakin padat. Perutnya juga sudah cukup lapar. Seingatnya dia hanya makan dua potong gorengan untuk makan siang demi mengejar target hariannya. Akhirnya Bagas memutuskan untuk mampir ke sebuah kedai mie ayam di pinggir jalan. Hitung-hitung sambil menunggu kepadatan jalan sedikit reda.

Lihat selengkapnya