Paket Malam Hari

Hekto Kopter
Chapter #3

Paket Malam Hari 1

Bagas masih ragu bahwa penerima paket adalah Farhan. Jika benar begitu artinya selama ini dia sering melewati rumah Farhan. Tapi kalau dia pikir-pikir lagi, tentu sangat lazim bagi mereka yang terkenal untuk menjaga privasi. Banyak artis yang juga melakukannya. Entah hanya sekadar mendapat ruang pribadi atau menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Meski begitu, dengan teknologi saat ini, bukankah mengetahui tempat tinggal seseorang semudah mengetik pertanyaan di google?

Bagas jadi teringat salah seorang teman perempuannya, Anggi. Perempuan itu sudah seperti hacker papan atas. Informasi sekecil apapun tak luput dari perhatiannya. Dia sering melakukanya untuk stalking crush pujaannya. Bahkan pernah, dari sebuah foto selfie saja, dia tahu lokasi tempat crush-nya berada. Sungguh menyeramkan perempuan satu itu.

Bagas sampai di rumah Farhan sekitar pukul 18.30. Jarak menuju rumahnya tinggal lima belas menitan. Masih ada waktu untuk bersih bersih sebelum acara dimulai, pikirnya. Asalkan, dia segera menyerahkan paket ini untuk Farhan. Sayangnya, setelah berlama-lama mengobrak-abrik isi keranjangnya, paket yang ditujukan ke Farhan tak kunjung dia temukan.

"Pak Surya, nih nyelipinya di mana sih?" gerutunya.

Sampai-sampai dia mengeluarkan beberapa paket ke atas sepeda motornya untuk memastikan satu per satu nama penerimanya. Disitulah akhirnya Bagas menemukan sebuah amplop coklat tipis dengan nama penerima Farhan Adiputra.

Buru-buru, Bagas memasukkan kembali paketnya yang tadi sempat dia keluarkan dengan asal. Tanpa dia sadari, sebuah paket kecil warna hitam jatuh di antara rerumputan. Bagas tak menyadarinya. Dia langsung berlari ke depan pintu.

Rumah Farhan tidak begitu besar. Halamannya cukup luas. Jika dilihat dari atas, bangunan rumahnya dikelilingi pagar tinggi. Bagas ingat, di salah satu videonya, Farhan bilang meski tinggal di kota, dia tak mau rumahnya menempel satu sama lain dengan dinding tetangganya. Setidaknya harus ada jarak tiga meter antara rumah dan dinding pagarnya.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi, Paket!"

Bagas meneriakkan kalimat tamplate-nya. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba sedikit berdebar. Rasanya sudah seperti mau bertemu artis besar saja. Tapi dia harus tetap profesional. Berusaha memasang wajah datarnya. Bahkan dia sudah mengatur rencana waktu bertemu Farhan.

Pokoknya nanti harus pura-pura kaget, lalu dengan cepat minta foto, begitu kira kira yang ada di benaknya. Namun, setelah beberapa waktu dia berdiri di depan pintu seperti patung, pintu itu tak kunjung terbuka.

Jika diperhatikan lagi, rumah ini agak seram. Satu-satunya penerangan hanya ada dari lampu depan. Pelataran kanan kiri tampak gelap. Tanaman-tanaman yang tumbuh di sana membentuk siluet aneh yang sedikit menyeramkan.

Tok! Tok! Tok!

"Paket! Halo?!"

Antusiasme Bagas mulai meredup. Lampu di dalam rumah terlihat menyala, tapi tidak ada tanda tanda kehidupan di dalamnya. Bagas berpikir, mungkin saja pemiliknya sedang keluar. Memikirkannya membuat Bagas sedikit kecewa. Padahal, dia sudah sangat semangat tadi. Rasanya sayang kalau pergi begitu saja.

Makanya, kemudian Bagas berinisiatif untuk mengecek pintu belakang. Di belakang sana terdapat pendar lampu yang agak redup. Mungkin saja orangnya sedang di belakang, batinnya. Jadi, dengan keberanian sebutir debu, Bagas memasukkan amplop itu ke saku jaketnya, lalu menyusuri pelataran samping yang gelap dengan kedua tangan meraba dinding. Matanya hanya fokus ke arah cahaya di belakang sana. Tak mau memperhatikan tanaman-tanaman hias yang tampak rimbun di sebelahnya.

Bagian belakang hanya terdapat pintu kayu yang sangat tua dengan cat yang terkelupas di sana sini. Pintunya sedikit terbuka. Secercah harapan kembali menerangi pikiran Bagas. Sepertinya perkiraannya tidak salah.

"Paket! Halo?!"

Teriak Bagas sekali lagi. Berharap sosok Farhan keluar dari balik pintu. Sayangnya lagi-lagi nihil. Bahkan setelah di panggil beberapa kali tetap tidak ada sahutan.

Di saat Bagas sudah menyerah dan siap berbalik arah, pintu kayu itu akhirnya terbuka. Mata Bagas membulat untuk sesaat. Bersiap memainkan skenario yang sudah dirancangnya dalam kepala. Sayangnya bukan Farhan yang muncul dari balik pintu, melainkan pria botak dengan tampang seram.

Bagas terkejut. Itu bukan Farhan.

Belum sempat berpikir siapa sosok tersebut. Sebuah pukulan keras menghantam kepalanya.

Lihat selengkapnya