Jam sepuluh kurang beberapa menit. Bagas keluar dari rumah Farhan. Tangannya belum berhenti bergetar sejak tadi. Langkahnya benar-benar terasa ringan. Sampai-sampai dia tak yakin tubuhnya sedang menginjak tanah. Dia membawa sebuah kardus yang agak besar. Seukuran koper. Kardus yang berisi mayat Farhan.
Komplotan pembunuh tadi sedang membersihkan kekacauan di dalam sana. Bagas yang tak punya pilihan hanya bisa menurut. Karena dia tahu, jika sampai melawan, nyawanya bakal ikut melayang. Dia tak siap untuk itu.
Setelah menaikkan kardus itu ke atas motor, Bagas langsung berlari ke ujung halaman, mengeluarkan isi perutnya di sana. Ketakutannya benar-benar menekan segalanya. Jadi begitu, dirinya berhasil keluar, satu per satu reaksi tubuhnya kembali normal.
Air mata Bagas keluar lagi. Dia merasa sangat sial malam itu. Dia menampar pipinya berkali kali. Berharap semua ini hanya mimpi. Merutuki ketidakmampuannya melawan. Marah kepada diri sendiri karena menjadi sosok yang lemah.
Setelah cukup tenang, Bagas melihat kembali kardus besar di atas motornya. Masih tak percaya dengan apa yang akan di bawanya. Pelan-pelan rasa takut kembali mencekiknya. Semuanya sudah terlanjur, batinnya. Sekarang tujuannya adalah, membuang paket itu tanpa ketahuan siapapun.
Bagas menaiki motornya seperti biasa. Jalanan di sana begitu sepi. Rumah-rumah telah tertutup rapat dengan lampu rumah yang padam. Dengan hati yang gelisah, Bagas mulai menyalakan motornya. Bergerak keluar dari halaman rumah Farhan. Meninggalkan komplotan penjahat yang tertinggal di dalam rumah. Bagas berangkat membawa mayat di kursi belakang.
***
Jalanan Surabaya tak pernah sepi, selalu ada pengendara yang berlalu-lalang bahkan ketika malam telah benar-benar larut. Hal itu sedikit membuat ketakutan Bagas semakin menguat. Dia merasa seolah-olah semua pengendara yang lewat menatapnya dengan kecurigaan. Seolah tahu apa yang sedang di lakukan Bagas—sebuah kejahatan.
Memikirkannya membuat dada Bagas sesak. Keringat dingin mengalir tak henti hentinya dari pelipis, leher, bahkan punggungnya telah basah. Matanya berkali-kali melihat paket kardus yang diikat di bangku belakang lewat kaca spion. Memastikan barang bawaannya aman. Begitu gelisah pikiran dan hatinya.
Penjahat tadi, Bagas bahkan tak tahu namanya. Tapi dia ingat jelas bagaimana penampilan mereka. Cara bicara mereka. Juga kekejaman yang terpancar di mata mereka. Sosok-sosok yang tak mampu dia lawan.
Si Besar telah memberikan arahan untuk membuang paket itu di sebuah jembatan sekitar tiga puluh menit perjalanan dari lokasi mereka. Jembatan yang selalu sepi ketika malam. Sungai di bawahnya juga cukup deras untuk menghanyutkan sebuah paket besar.
Ciiit!
Bagas mengerem mendadak. Hampir menabrak pengendara di depannya. Beberapa orang melihat kejadian itu. Orang di depannya yang hampir ia tabrak mengumpat pendek.
"Cok, matane!"
"Maaf, Mas!" balas Bagas setengah menunduk. Di depan, lampu lalu lintas baru saja berwarna merah. Pikirannya yang kacau membuatnya sulit fokus. Bagas kembali melirik ke spion, paketnya aman.
Saat itu posisinya di kepung. Di bagian depan dan kedua sisi diapit oleh pengendara motor. Sedangkan di belakang ada mobil hitam besar. Mata bagas melebar saat mengenali itu sebagai mobil polisi. Jantungnya berdegup kencang.
Dug! Dug! Dug!
Telinganya penuh dengan suara detak jantungnya sendiri. Tak ada yang dia harapkan lagi selain lampu berganti hijau.
Tapi hal yang paling buruk terjadi, Bagas mendengar suara pintu mobil terbuka. Dia melirik ke kaca spion. Polisi itu turun dari mobil. Dia berdiri sesaat. Memperhatikan paket yang sedang di bawa Bagas. Sebelum akhirnya, dia melangkah mendekat.
Dug! Dug! Dug!
Bagas sudah berpikir untuk langsung tancap gas saat itu juga. Tak peduli dengan lampu yang masih merah. Tapi, otaknya masih bisa berpikir cepat. Jika dia melakukannya, itu pasti bakal mengundang kecurigaan. Polisi itu bakal mengejarnya dan dirinya akan ketahuan.