Surabaya, 17 April 2025
Hari Kamis
Pupil mata Arya bergerak cepat mengikuti kursor di layar komputernya. Ke atas ke kanan. Membaca cepat. Tak luput gerakan tangan kanannya yang lincah menekan dan menggeser mouse. Masuk dari satu halaman ke halaman yang lain. Dari yang penuh tulisan sampai yang satu layar penuh berisi gambar.
Sesekali pandangannya beralih ke catatan kecil di samping kanannya. Mencatat sesuatu yang dia pikir itu memang perlu di catat. Gerakannya cepat tapi tampak terstruktur. Saking cepatnya, catatan yang dia tuliskan sering tampak seperti cakar ayam. Jika rekannya yang melihat, sudah pasti mereka bingung dengan apa yang Arya tulis. Tapi selama Arya bisa membacanya, baginya itu bukan suatu masalah.
Entah sudah berapa kali Arya membenarkan kaca mata hitam yang melorot menggunakan telunjuk kirinya. Melanjutkan tugas yang tak ada habisnya. Menggarap laporan penipuan online. Setiap hari selalu saja ada laporan masuk. Modusnya pun bermacam-macam. Kebanyakan lewat telepon dan link-link phishing yang meresahkan.
Tapi untungnya sebagai reserse, dia tidak perlu mendata, mengelompokkan, atau memasukkan satu per satu laporan yang masuk. Tugasnya hanya mencari keterkaitan kasus-kasus yang kemungkinan punya pola yang sama. Untung-untung kalau dia menemukan sebuah petunjuk. Justru itu yang membuat pekerjaannya sedikit rumit.
Alasan kenapa tugas ini diserahkan padanya adalah karena dirinya dianggap reserse paling muda. Atasan bilang, anak muda selalu pintar dengan internet dan teknologi. Mendengar dirinya mendapat tugas seperti ini, dia cuma bisa mengangguk. Padahal dalam hati, dirinya cuma bisa geleng-geleng. Dipikir bisa bermain internet, bisa melacak orang kali ya? Pikirnya. Dia memang sempat belajar soal per-hacking-hacking-an ini, hanya saja yang dia pelajari hanya ilmu dasar. Kalau terlalu dalam dia belum begitu paham.
Untungnya ada rekan yang katanya ditugaskan mengerjakan ini dengan Arya. Katanya orangnya sudah profesional. Arya sudah sedikit lega ketika mengetahuinya. Tapi harapannya pupus, saat tahu kalau rekan yang dimaksud adalah bapak-bapak umur lima puluhan.
Meski begitu, sedari kecil Arya selalu di ajari untuk tidak cepat menilai orang. Makanya saat pertama kali bertemu—Pak Rahmat namanya—Arya tersenyum dengan menjabat tangannya. Meminta arahan untuk diajari ilmu yang beliau punya.
Namun harapannya benar-benar runtuh saat Pak Rahmat kebingungan saat memasuki suatu situs. Katanya dia lupa sandinya. Beliau sudah mencari di buku catatannya, baik yang baru maupun yang lama. Tapi tetap tidak ketemu.
Dengan senyum ramah, Arya akhirnya membantu dengan fitur lupa sandi. Pak Rahmat senang sekali dan memuji-muji Arya karena bisa memulihkan akunnya.
"Wah ternyata bisa begitu ya?"
Arya cuma tersenyum saja. Pantas pekerjaan ini gak selesai-selesai, pikirnya. Akhirnya seminggu kemudian, Arya mengambil kursus hacking. Sedikit-sedikit dia mulai mengerti bagaimana aksi penipuan itu dilakukan.
Kepala Arya mulai pusing melihat banyaknya data tersebut. Bahkan yang dia kerjakan masih belum setengahnya. Saat itulah, Pak Sena datang, Kasat Reskrim (Kepala Satuan Reserse Kriminal) yang menjadi mentornya saat ini. Tubuhnya tinggi dan kulitnya gelap. Tinggi Arya hanya setelinganya. Padahal tinggi Arya 170 cm.
Tampilan Pak Sena biasa saja, kaos polos dan jaket kulit. Jika orang belum mengenalnya, pasti berpikir kalau Pak Sena ini ya bapak-bapak biasa. Padahal, beliau punya segudang prestasi dalam melakukan penyelidikan. Arya sangat menghormatinya.
Pak Sena datang membawa sebuah ordner hitam yang isinya cukup tebal. Dia menaruhnya di meja Arya. Matanya langsung bisa menangkap tulisan besar di Odner itu.
Kasus Pencurian Motor 2025
"Akhir-akhir ini banyak lagi kasus pencurian motor. Saya belum menyelidiki apakah modus mereka sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Tapi yang jelas minggu ini, sudah masuk empat puluh laporan kehilangan motor. Lima puluh persennya adalah seorang mahasiswa. Saya harap kamu bisa menganalisis laporan ini," terang Pak Sena tanpa banyak basa-basi. Dia berdiri menatap Arya dengan ekspresi datar.
Arya yang masih bingung langsung berdiri. "Baik, Pak. Akan saya coba kerjakan," jawab Arya buru-buru.
Pak Sena mengangguk. "Bagus, minggu depan laporannya harus sudah masuk ke saya, ya? Hitung-hitung buat latihan. Saya ingin melihat bagaimana kamu menganalisisnya."
Setelahnya Pak Sena keluar sebagaimana dia masuk. Tanpa aba-aba, tanpa suara. Seperti angin saja.
Arya melirik ordner besar di mejanya. Menghela napas panjang. Saat melihat jam, sudah hampir pukul setengah sebelas. Gelas kopinya juga sudah kosong hanya tersisa ampasnya saja. Arya berpikir untuk mengisinya lagi ke pantry. Hitung-hitung supaya matanya segar kembali.