Paket Malam Hari

Hekto Kopter
Chapter #6

Lepas Kendali

Surabaya, 17 April 2025

Hari Kamis


Bagas terbangun dengan terengah-engah untuk kesekian kalinya. Bantalnya basah karena keringat. Semalaman berkali-kali Bagas terbangun oleh mimpi yang sama. Dalam mimpinya, Bagas mengirim paket ke rumah Farhan. Tidak seperti kejadian aslinya, setelah mengetuk pintu rumah, pemuda itu keluar dengan wajah yang pucat. Sosoknya berbeda jauh daripada yang biasa Bagas lihat dari video-video pendek yang selalu dilihatnya.

Bagas memberikan paketnya tanpa berkata-kata. Farhan langsung membuka paket itu di depannya yang ternyata isinya berupa pisau. Lalu, tiba-tiba Farhan langsung menyergapnya. Berteriak histeris dan menikam Bagas berulang kali.

"Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau melakukannya?!"

Saat itulah Bagas terbangun. Kali ini, dia terduduk lemas. Kepalanya berat dan perutnya terasa mual. Dia menyentuh dahinya, panas.

Tok! Tok! Tok!

Ibunya mengetuk pintu. "Bagas, sudah jam berapa ini? Kok masih belum bangun?"

Matanya berputar melihat jam dinding, pukul tujuh lebih lima. Tapi dia belum ingin beranjak dari ranjangnya. Dia masih ingin sendiri. Sedangkan di luar, ibunya terus mengetuk.

"Bagas, kamu tidak apa apa?!"

Bagas membuka pintu. "Bagas kurang enak badan. Bagas mau lanjut tidur saja."

Ibunya menghela napas. Wajahnya terlipat. Khawatir. Menyentuh dahi Bagas. "Ya sudah, ibu ambilkan obat."

"Begitu hasilnya kalau melawan orang tua, kena karma itu," sahut Bapaknya yang duduk di ruang keluarga. Segelas kopi masih menyangkut di tangannya. Menikmati pagi dengan menonton TV.

Bagas masih kesal dengan ayahnya. Dia kembali menutup pintu dan merebahkan diri di ranjang. Pandangannya kosong menatap langit-langit yang menguning termakan usia. Kamarnya kecil, ukuruan 3 x 3 m. Hanya ada ranjang, lemari kecil di dekat pintu dan meja belajar yang penuh dengan buku. Bukan berarti dia suka membaca, tapi kadang buku bisa menjadi pelariannya. Tak ada poster atau action figur seperti remaja pada umumnya. Tak ada juga lampu-lampu aesthetic yang dipasang di ruangan. Hanya satu lampu neon yang usianya sudah cukup lama. Bagas tak begitu memikirkan kondisi kamarnya. Satu-satunya tempelan yang ada di kamarnya hanya stiker kecil pemain sepak bola di pintu yang Bagas sendiri tak tahu siapa namanya. Waktu kecil dia mendapatkannya dari bungkus permen karet.

Pintu kamar Bagas terbuka. Ibunya masuk dengan nampan berisi bubur ayam, air putih, dan obat. Meletakkannya di meja belajar setelah menyingkirkan buku besar yang seminggu lalu Bagas baca.

"Untung, bubur Pak Said masih ada. Makan dulu, biar ada isinya. Setelah itu minum obat."

Bagas terdiam. Dia merasa malu diperlakukan seperti anak kecil. Meski sebenarnya dirinya sangat senang diperlakukan demikian. Hanya saja, akhir-akhir ini, dia sering mengecewakan orang tuanya. Rasanya tak pantas untuk mendapatkan perlakuan baik seperti ini.

Tanpa bicara, Bagas menuruti perkataan ibunya. Sementara ibunya duduk di tepi ranjang. Tersenyum lembut. Dan munculah pertanyaan sederhana itu.

"Kamu baik-baik saja kan?"

Sendok di tangan bagas terhenti di udara. Untuk sesaat dunianya berhenti perkara pertanyaan kecil itu. Pertanyaan yang selama ini terdengar biasa. Namun, pertanyaan itu membuat tubuhnya mematung.

Bagas hanya menatap ibunya. Cukup lama. Entah kenapa matanya terasa pedih tiba-tiba. Ada rasa sedih, kecewa, takut, semuanya menjadi satu. Rasanya saat itu juga ingin mengatakan semuanya pada perempuan yang melahirkannya. Merasa tak sanggup menahannya seorang diri. Tapi rasa gengsinya sebagai laki-laki, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dan dengan perasaan yang menyangkut di leher, dia menjawab dengan suara lirih, "Bagas baik-baik saja, kok."

Ibunya menghela napas pelan. "Ya sudah kalau nggak mau cerita."

Bagas terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan makan buburnya. Setiap suapan rasanya seperti menelan paku. Karena dia telah berbohong pada ibunya. Tapi, iapun juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskan. Juga tidak ingin ibunya khawatir atau ketakutan. Masalah yang dihadapinya tidak sekecil dia nabrak orang dijalan dan harus ganti rugi. Semalam dirinya telah membuang mayat.

Lihat selengkapnya