Paleis Bobrok

Vitri Dwi Mantik
Chapter #1

The Damned Palace

Bandung tidak pernah benar-benar sunyi.

Ketika malam turun dan lampu-lampu pertokoan mulai dipadamkan, kota itu hanya mengganti bunyinya. Deru kendaraan berubah menjadi dengung yang jauh. Suara pedagang kaki lima digantikan gerisik dedaunan, salakan anjing dari gang sempit, dan sesekali raungan sepeda motor yang melintas seperti sedang dikejar setan.

Di pusat kota, lampu kafe dan pusat perbelanjaan masih menyala. Anak-anak muda memenuhi trotoar, duduk sambil menyesap kopi, tertawa terlalu keras, dan berbicara tentang musik, cinta, pekerjaan, atau hal-hal lain yang akan mereka lupakan keesokan paginya.

Namun, jauh di ujung kota, ada sebuah kawasan yang selalu kehilangan suara lebih cepat daripada tempat lain.

Jalan menuju ke sana cukup lebar, tetapi jarang dilalui setelah matahari tenggelam. Deretan pohon tua berdiri di kedua sisi, cabang-cabangnya menjulur di atas jalan seperti jari-jari kurus yang saling bertaut. Beberapa lampu jalan telah lama mati. Yang masih hidup berkedip setiap beberapa detik, seolah sedang mengirimkan peringatan dalam bahasa yang tidak dimengerti manusia.

Di ujung jalan itulah De Dam Paleis berdiri.

Bangunan itu dulunya sebuah kediaman megah milik keluarga Belanda. Warga sekitar menyebutnya istana karena ukurannya jauh lebih besar dibandingkan rumah-rumah lain yang pernah dibangun di kawasan tersebut. Dinding luarnya tinggi dan tebal, dihiasi pilar-pilar bergaya Eropa. Jendelanya menjulang dengan bingkai kayu yang dahulu dicat putih. Di halaman depan terdapat kolam air mancur yang kini kering dan dipenuhi lumut.

Tidak ada lagi kemegahan yang tersisa.

Cat dinding mengelupas. Akar pohon merambat masuk melalui retakan fondasi. Sebagian genting hilang, membuat atapnya tampak seperti mulut tua dengan deretan gigi yang tanggal. Pintu utama terbuat dari kayu jati yang mulai menghitam, tetapi masih berdiri kokoh meski engselnya berkarat.

Nama resminya tetap De Dam Paleis.

Akan tetapi, tidak seorang pun di sekitar sana memanggilnya dengan nama itu.

Mereka menyebutnya The Damned Palace.

Istana terkutuk.

Konon, pejalan kaki yang melintas pada malam hari sering mendengar suara pesta dari dalam bangunan. Musik dansa, denting gelas, langkah-langkah sepatu, dan tawa perempuan. Ketika mereka berhenti untuk mendengarkan, semua suara itu akan lenyap. Namun saat mereka berjalan lagi, terdengar seseorang mengikuti dari belakang.

Ada juga cerita tentang pengendara motor yang melihat seorang gadis bergaun merah berdiri di depan gerbang. Gadis itu melambaikan tangan, meminta tumpangan. Jika pengendara berhenti, ia akan menghilang. Jika pengendara mengabaikannya, wajah gadis itu muncul di kaca spion.

Menurut cerita lain, seorang tukang bangunan pernah mencoba membongkar salah satu kamar di lantai dua. Setelah tiga kali memukulkan palu ke dinding, ia mendengar suara anak kecil menangis dari balik tembok. Tukang itu melarikan diri dan tidak pernah kembali.

Tidak ada yang tahu apakah cerita-cerita itu benar.

Namun, semua orang sepakat pada satu hal: De Dam Paleis lebih baik dibiarkan kosong.

Semua orang, kecuali Boris Mulder.

“Ini keren.”

Boris berdiri di depan gerbang besi yang berkarat, kedua tangan bertolak pinggang. Kepalanya yang nyaris plontos berkilau tertimpa sinar matahari pagi. Kaus hitam ketat yang dikenakannya membuat otot-otot lengannya terlihat menonjol.

Di sebelahnya, Andra Mulder menatap bangunan tua itu tanpa berkedip.

“Keren dari mananya?” tanya Andra.

“Lihat bentuknya.”

“Aku sedang melihat bentuknya.”

“Megah.”

“Bobrok.”

“Bersejarah.”

“Berjamur.”

“Punya karakter.”

Andra mengembuskan napas panjang. “Punya rayap.”

Boris menoleh kepada adiknya. Mereka hanya terpaut usia dua tahun, tetapi hampir semua orang yang baru mengenal mereka mengira Andra adalah kakaknya. Tubuh Andra lebih tinggi, rambutnya panjang hingga bahu, dan wajahnya selalu tampak lelah meski baru bangun tidur.

Boris yang berusia dua puluh tiga tahun justru terlihat lebih muda, terutama ketika sedang menyeringai seperti anak kecil yang baru menemukan tempat bermain.

“Rayap tidak akan mengganggu latihan,” kata Boris.

“Kalau lantainya ambruk?”

“Kita latihan di lantai dasar.”

“Kalau atapnya roboh?”

“Kita pindah ruangan.”

“Kalau seluruh bangunannya roboh?”

Boris mengangkat bahu. “Kita jadi legenda.”

Andra menatapnya datar. “Kau yakin kita bersaudara?”

Suara klakson terdengar dari belakang.

Sebuah mobil kecil berwarna abu-abu berhenti di pinggir jalan. Dari pintu pengemudi, turun seorang laki-laki tua berkemeja batik, mengenakan celana bahan dan sepatu kulit mengilap. Ia membawa map cokelat tebal di bawah lengannya.

Boris segera mengangkat tangan.

“Om Rowan!”

Rowan Irama berjalan mendekati mereka dengan langkah pelan. Wajahnya menunjukkan ekspresi seseorang yang sudah menyesali keputusan bahkan sebelum keputusan itu dijalankan.

“Jangan panggil Om keras-keras,” katanya. “Di sini saya datang atas nama pemerintah kota.”

Boris mengangguk serius. “Baik, Om.”

Rowan memejamkan mata sesaat.

“Pak Rowan,” Boris memperbaiki.

Andra menahan senyum.

Rowan Irama adalah tangan kanan wali kota Bandung. Jabatannya cukup tinggi untuk membuat banyak orang berdiri lebih tegak ketika berbicara dengannya, dan cukup sibuk untuk membuatnya sering lupa pulang. Ia juga paman Boris dan Andra dari pihak ibu.

Hubungan keluarga itulah yang membuka jalan bagi Boris mendapatkan izin menggunakan De Dam Paleis.

“Ada beberapa syarat,” kata Rowan sambil membuka map. “Kalian hanya mendapat izin penggunaan sementara selama enam bulan.”

“Cukup,” jawab Boris.

“Bangunan ini tercatat sebagai aset bersejarah. Kalian tidak boleh mengubah struktur, membongkar dinding, mengganti jendela, atau membawa keluar barang apa pun yang masih ada di dalam.”

“Kami hanya mau latihan musik.”

“Tidak boleh mengadakan konser.”

“Kalau konser kecil?”

“Tidak.”

“Pertunjukan privat?”

“Tidak.”

“Acara ulang tahun?”

“Boris.”

“Baik.”

Rowan mengeluarkan beberapa lembar dokumen. “Kalian juga bertanggung jawab atas keselamatan sendiri. Pemerintah kota sudah memasang tanda bahwa bangunan tidak layak huni. Kalau terjadi sesuatu, jangan bilang saya tidak memperingatkan.”

Andra mengangkat alis. “Kalau tidak layak huni, kenapa kami boleh masuk?”

“Karena kakakmu mengganggu saya selama dua bulan.”

Boris tersenyum bangga.

“Dan karena ada rencana pendataan ulang bangunan ini,” lanjut Rowan. “Selama kalian menggunakannya, setidaknya tempat ini tidak sepenuhnya kosong.”

“Bagus,” kata Boris. “Musik akan menghidupkannya kembali.”

Rowan memandang De Dam Paleis. Ekspresinya berubah sedikit. Kesal yang tadi tampak jelas di wajahnya perlahan digantikan sesuatu yang lebih sulit dibaca.

“Kalian jangan berada di sini terlalu larut,” katanya.

Boris tertawa. “Pak Rowan juga percaya cerita hantu?”

“Saya percaya bangunan tua punya banyak bagian rapuh.”

Lihat selengkapnya