Paleis Bobrok

Vitri Dwi Mantik
Chapter #2

Studio Baru

Pagi setelah malam pertama di De Dam Paleis terasa lebih ringan daripada yang dibayangkan Andra.

Ia terbangun dengan punggung pegal, bukan karena dihantui mimpi buruk, melainkan karena semalaman memikirkan bayangan perempuan yang muncul di cermin retak. Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah pantulan cahaya senter yang mengenai kain putih atau lemari tua.

Namun satu kalimat yang terdengar sebelum lampu padam tidak bisa dijelaskan.

"Jangan pulang dulu."

Saat ia menanyakan hal itu kepada Boris melalui telepon, kakaknya justru tertawa.

"Kurangi nonton film horor."

"Aku serius."

"Aku juga serius. Generator mati, suasana gelap, otakmu mengarang."

"Lalu Mulyani juga dengar."

"Itu namanya sugesti."

Andra menghela napas.

Sejak kecil Boris memang tidak pernah percaya cerita-cerita gaib. Menurutnya, sembilan puluh persen penampakan adalah salah lihat, dan sepuluh persen sisanya adalah orang iseng.

"Jam sembilan kumpul," kata Boris.

"Ngapain?"

"Bangun studio."

Matahari belum terlalu tinggi ketika mereka kembali ke De Dam Paleis.

Kali ini Boris datang membawa sebuah mobil bak terbuka berisi papan multipleks, gulungan kabel listrik, karpet bekas studio, cat putih, lampu sorot, serta sebuah kulkas kecil yang entah mengapa dianggapnya sangat penting.

"Musisi tanpa kulkas bukan musisi," katanya.

Alvin datang dengan membawa amplifier baru hasil menabung hampir dua tahun.

"Aku titip nyawa amplifier ini," katanya.

"Bukan nyawa kami?" tanya Boris.

"Amplifier lebih mahal."

Mulyani muncul paling akhir dengan membawa sapu, ember, cairan pembersih lantai, dan beberapa pot tanaman kecil.

Andra memandang heran.

"Ngapain bawa bunga?"

"Supaya tempat ini kelihatan hidup."

"Bunganya bisa hidup?"

"Kalau tidak diinjak Boris, harusnya bisa."

Boris pura-pura tidak mendengar.

Renovasi mereka berlangsung sangat sederhana.

Karena bangunan itu termasuk cagar budaya, mereka tidak boleh memaku dinding, mengecat ukiran, ataupun membongkar ruangan.

Sebagai gantinya mereka membersihkan debu, mengganti kaca jendela yang pecah dengan lembaran akrilik, memasang karpet agar gema ruangan berkurang, dan menarik kabel listrik dari generator menuju ruang latihan.

Ruangan yang semula tampak seperti gudang tua perlahan berubah.

Drum Boris berdiri gagah di sudut timur.

Amplifier gitar berjajar di sisi kiri.

Bass Alvin mendapat tempat dekat jendela.

Di salah satu sudut, Mulyani menata meja kecil berisi termos kopi, mi instan, dan biskuit.

"Ini yang paling penting," katanya.

Boris mengacungkan jempol.

"Akhirnya ada orang yang mengerti prioritas."

Siang harinya mereka beristirahat di beranda depan.

Alvin memainkan bass tanpa amplifier.

Mulyani sibuk memotret bangunan tua dari berbagai sudut.

Andra duduk sambil mengasah pick gitar menggunakan amplas halus.

Boris rebahan di lantai kayu sambil memandangi langit-langit.

"Aku punya mimpi."

"Tolong jangan sekarang," kata Andra.

"Nanti kita rekaman di sini."

"Hm."

"Lalu album kita meledak."

"Hm."

"Kita tur Asia."

"Hm."

"Kemudian Eropa."

"Hm."

"Lalu Grammy."

"Hm."

"Kau tidak percaya?"

Andra menoleh.

"Aku percaya kita bisa terkenal."

"Lalu?"

"Aku cuma tidak yakin bangunan ini akan bertahan sampai album kedua."

Semua tertawa.

Hubungan mereka memang seperti itu.

Boris selalu menjadi orang pertama yang berani bermimpi terlalu tinggi.

Andra adalah rem yang membuat mimpi itu tetap menyentuh tanah.

Alvin menjadi penengah yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Sedangkan Mulyani...

Ia adalah alasan mengapa mereka masih ingat makan siang.

Kalau tidak ada Mulyani, kemungkinan besar seluruh personel The Bull Fighters hanya hidup dengan kopi dan mi instan.

Menjelang sore, studio akhirnya selesai.

Tidak mewah.

Tidak kedap suara.

Tidak estetik.

Namun cukup nyaman.

Boris berdiri di tengah ruangan sambil mengembangkan kedua tangan.

"Mulai hari ini..."

Ia berhenti sejenak.

Lihat selengkapnya