Suara lagu terakhir masih menggantung di udara ketika Brett meletakkan gitar pinjaman itu kembali ke stand.
Ruangan hening.
Boris menatap Andra. Andra menoleh kepada Alvin. Alvin memandang Mulyani, lalu mengangkat bahu sambil tersenyum.
"Kurasa kita semua berpikir hal yang sama," kata Boris.
Brett tersenyum tipis. "Apa?"
"Mulai hari ini, kau bukan tamu lagi."
Brett mengernyit.
"Kami ingin kau bergabung dengan The Bull Fighters."
Brett tidak langsung menjawab. Ia mengamati ruangan sederhana itu—karpet bekas, dinding yang mulai bersih, drum yang sudah penuh bekas pukulan, kabel berserakan, dan termos kopi di sudut ruangan.
"Studio kalian jauh dari sempurna."
Boris terkekeh.
"Kami tahu."
"Peralatannya juga seadanya."
"Itu juga kami tahu."
"Tapi..." Brett menatap mereka satu per satu. "Aku suka semangatnya."
Ia mengulurkan tangan kepada Boris.
"Kalau kalian tidak keberatan, aku ikut."
Boris langsung menjabat tangannya erat.
"Selamat datang di keluarga."
Latihan berikutnya terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya, The Bull Fighters memiliki formasi yang utuh.
Boris menghitung tempo.
"Satu... dua... tiga... empat!"
Dentuman drum mengawali lagu.
Bass Alvin masuk dengan groove yang mantap. Andra mengisi rhythm guitar, sementara Brett langsung mengambil melodi utama sekaligus vokal.
Suara Brett mengalir tanpa dipaksakan. Nada rendahnya hangat, lalu naik dengan tenaga yang cukup untuk memenuhi ruangan tua itu.
Tidak ada yang saling berebut.
Semua instrumen menemukan tempatnya sendiri.
Bahkan lagu-lagu lama mereka terdengar seperti karya yang benar-benar baru.
"Kutatap malam mengunyah cahaya,
bulan berkarat di bibir maya.
Kubangun mimpi dari pecahan kaca,
darah bernyanyi, luka membaca.
Langkah membara, bayang membeku,
waktu menggiling nama menjadi debu.
Bila dunia memaku sayapku diam,
aku jadi petir yang belajar tajam."
"Api berbisik dalam hujan kaca,
langit terkoyak membuka rahasia.
Kutabur gema di nisan sunyi,
hingga batu pun ikut bernyanyi.