Hujan turun sejak sore.
Atap tua De Dam Paleis berderit pelan diterpa angin. Di ruang latihan, The Bull Fighters baru saja menyelesaikan lagu terbaru mereka.
"Kurang sesuatu," gumam Boris sambil memutar stik drum di tangannya.
"Liriknya belum dapat," jawab Brett.
Mulyani membuka buku catatan mereka.
"Melodinya sudah enak. Tinggal cari kata-kata yang pas."
Semua terdiam.
Menulis lagu ternyata lebih sulit daripada memainkan musik.
Brett berjalan ke lorong untuk mengambil udara segar.
Lorong itu remang-remang. Lampu yang dipasang Boris belum menjangkau seluruh sudut bangunan. Di ujung koridor berdiri cermin tua dengan bingkai kayu yang mulai lapuk.
Retakannya tampak semakin jelas saat terkena cahaya petir.
Brett berhenti di depannya.
Entah mengapa, setiap kali melewati cermin itu, ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.
Ia menatap bayangannya sendiri.
Lalu... bayangan itu berkedip lebih lambat darinya.
Brett mengerutkan dahi.
"Capek..."
Ia mengusap wajahnya.
Saat menurunkan tangan, seseorang sudah berdiri di belakangnya.
Seorang gadis berambut hitam panjang mengenakan gaun sederhana berwarna krem. Wajahnya cantik, tetapi pucat. Matanya teduh dengan senyum yang nyaris tak terlihat.
Brett spontan berbalik.
"Astaga..."
Gadis itu ikut terkejut.
"Maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkan."
"Kau dari mana?"
"Dari sini."
Brett mengira maksudnya dari sekitar bangunan itu.
"Oh... kukira tidak ada orang tinggal di dekat istana."
Gadis itu hanya tersenyum.
"Aku sering datang ke sini."
Mereka kembali ke ruang latihan.
Boris yang sedang menyetem drum langsung menyapa.
"Halo! Pengunjung?"
"Bukan," jawab gadis itu sopan. "Aku cuma suka mendengar musik."
"Namamu?"
"Sarah."
Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan.
"Sarah Sumayani."
Nama itu terdengar biasa.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui bahwa di kalangan para penghuni lama De Dam Paleis, gadis itu dikenal sebagai Floortje.
"Wah, kebetulan," kata Mulyani. "Masuk saja."
Sarah mengangguk pelan.
Matanya berkeliling ruangan, seolah sedang mengenang sesuatu yang hanya ia pahami sendiri.
Latihan kembali dimulai.
Sarah duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan mereka.
Sesekali ia menganggukkan kepala mengikuti irama.
Sesekali ia tersenyum kecil ketika Brett memainkan melodi gitar.
"Lagu kalian bagus," katanya setelah mereka selesai.
"Masih berantakan," ujar Boris.
"Belum."
Sarah memandang buku catatan di meja.