Paleis Bobrok

Vitri Dwi Mantik
Chapter #5

Lagu-Lagu Floortje

Sudah hampir dua minggu sejak Sarah mulai rutin datang ke De Dam Paleis.

Tidak ada yang tahu dari mana ia berasal.

Ia selalu datang lebih dulu daripada anggota The Bull Fighters, lalu menghilang sebelum malam benar-benar larut.

Namun kehadirannya perlahan mengubah arah perjalanan band itu.

"Yang ini coba."

Sarah menyodorkan buku liriknya kepada Brett.

Judulnya sederhana.

Rumah yang Menunggu.

Rumah ini menunggu langkah yang tak kembali,

menyulam debu menjadi jejak di lantai sepi.

Jendelanya terbuka memeluk angin senja,

seolah tahu masih ada nama yang akan menyapa.

Waktu boleh menghapus wajah dari bingkai tua,

namun rindu tak pernah mengenal usia—

sebab setiap pintu yang tetap terbuka selalu percaya, seseorang akan pulang juga.

Brett membaca perlahan setiap bait.

Bahasanya terasa berbeda.

Puitis, tetapi tidak berlebihan. Melankolis, namun tetap kuat.

"Bagus," gumamnya.

Boris yang sedang menyetel snare ikut mendekat.

"Kalau Brett bilang bagus, biasanya memang bagus."

Andra mengambil gitar.

"Coba."

Tanpa banyak diskusi, Brett mulai memainkan progresi akor.

Alvin mengikuti dengan bass.

Beberapa detik kemudian Boris masuk membawa tempo sedang.

Seolah lirik itu memang sudah memiliki melodinya sendiri.

Sarah hanya duduk diam memperhatikan.

Matanya berbinar mendengar kata-kata yang selama ini hanya hidup di dalam buku tua itu kini berubah menjadi sebuah lagu.

Selesai memainkan lagu, ruangan hening.

Boris menjadi orang pertama yang berbicara.

"Ini lebih bagus daripada lagu kita yang lama."

Alvin mengangguk.

"Jauh."

Andra menatap Sarah.

"Kau benar-benar menulis semua itu sendiri?"

Sarah mengangguk pelan.

"Iya."

"Hebat."

Ia hanya tersenyum malu.

Hari demi hari, semakin banyak lagu baru lahir.

Gelas yang Retak.

Mentari di Ufuk Sunyi.

Pulang Sebelum Fajar.

Tak Ada yang Benar-Benar Pergi.

Setiap lirik Sarah selalu memancing ide musik baru dan bulu kuduk berdiri.

Brett memberi melodi.

Andra memperkaya harmoni.

Alvin membuat groove yang semakin matang.

Boris menyusun dinamika lagu.

Tanpa mereka sadari, identitas musik The Bull Fighters mulai terbentuk.

Lagu-lagu mereka terdengar lebih emosional.

Lebih hidup.

Dan entah mengapa...

Lihat selengkapnya