Sejak Sarah menjadi bagian dari keseharian The Bull Fighters, latihan mereka berlangsung hampir setiap sore.
Lagu-lagu baru terus lahir.
Semangat mereka pun semakin besar.
Namun bersamaan dengan itu... hal-hal aneh mulai terjadi.
Brett menarik napas panjang, lalu mulai menyanyikan lirik baru yang ditulis Sarah.
Namun, begitu bait pertama keluar dari mulutnya, semua orang langsung saling berpandangan.
Nadanya meleset jauh dari melodi, beberapa kali suaranya pecah saat mencapai nada tinggi, sementara vibratonya terdengar dipaksakan.
Lagu yang seharusnya terdengar sendu justru berubah canggung dan sumbang.
Bahkan Boris tanpa sadar berhenti memukul drum, Alvin menurunkan bassnya, dan Mulyani menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Sarah sendiri hanya tersenyum tipis, menahan geli.
Brett tetap bertahan menyelesaikan lirik itu dengan penuh keyakinan, meski setiap kalimat terdengar semakin fals.
"Saatnya kau pulang sebelum malam memanggil,
sebelum angin lupa menyebut namamu.
Jangan biarkan rindu tinggal sendiri,
karena rumah masih menunggumu..."
Ketika nada terakhir berakhir, ruangan mendadak sunyi beberapa detik.
Boris menggaruk kepalanya, lalu berdeham pelan.
"Liriknya... bagus."
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan wajah datar, "Tapi mungkin... yang nyanyinya bukan kamu."
"Aneh..."
"Ayo, mulai lagi!"
Boris menghitung tempo.
Dentuman drum memenuhi ruangan.
Brett membuka lagu dengan riff gitar yang baru selesai ia ciptakan.
Andra mengiringi dari belakang.
Belum sampai satu menit...
Twang!
Senar gitar Brett putus.
Ujung senar mencambuk udara hingga mengenai lengannya.
"Astaga!"
Brett meringis.
"Senar baru, kan?" tanya Alvin.
"Bahkan belum seminggu."
Boris mengangkat bahu.
"Mungkin kualitasnya jelek."
Brett tidak terlalu memikirkannya.
Ia mengganti senar, lalu latihan kembali dilanjutkan.
Lagu kedua.
Tempo lebih cepat.
Boris memukul crash cymbal sekuat tenaga.
Krek!
Drumstick di tangan kanannya patah tepat di bagian tengah.
Potongannya melayang hingga mengenai dinding.
Boris menatap gagang stik yang tersisa.
"Serius?"
"Itu stik baru juga?" tanya Mulyani.
"Pagi tadi baru kubeli."
Andra mulai mengernyit.
"Dua alat rusak dalam sehari?"
Boris tertawa kecil.
"Namanya juga alat."
Namun tawanya terdengar dipaksakan.
Keesokan harinya.
Mereka kembali berlatih.
Kali ini semuanya berjalan normal.
Hingga Brett mulai bernyanyi.
Suaranya mendadak hilang.
Bukan karena ia salah nada.