Paleis Bobrok

Vitri Dwi Mantik
Chapter #10

Rosario yang Mengingat

Hujan turun sejak siang.

Awan kelabu menggantung rendah di atas De Dam Paleis. Sesekali petir menggelegar dari kejauhan, disusul suara hujan yang memukul genting tua tanpa henti.

Hari itu latihan dibatalkan.

Sebagian aliran listrik di istana padam akibat kabel tua yang kembali bermasalah. Boris dan Alvin sibuk memeriksa generator di halaman belakang. Mulyani pulang lebih dulu setelah membantu membereskan ruang latihan, sementara Andra memilih pulang karena sakit kepalanya kembali kambuh.

Ruang latihan yang biasanya dipenuhi suara musik kini terasa asing.

Hanya ada Brett dan Sarah.

Brett duduk di atas amplifier sambil memutar pick gitar di sela-sela jemarinya.

Sarah berada di dekat jendela dengan buku lirik yang selalu menemaninya.

Keheningan di antara mereka tidak pernah terasa canggung.

Justru hujan membuat percakapan menjadi lebih mudah lahir.

"Aku ingin bertanya sesuatu."

Sarah mengangkat wajah.

"Tanyakan saja."

Brett tersenyum kecil.

"Aku suka memperhatikanmu."

Sarah tidak tampak terkejut.

Sudut bibirnya justru terangkat sedikit.

"Aku sudah menduga suatu hari kau akan mengatakan itu."

"Benarkah?"

"Kau terlalu sering melamun ketika melihatku."

Brett terkekeh pelan.

"Ketahuan, ya?"

Sarah menutup bukunya.

"Ketahuan."

Beberapa detik mereka hanya saling memandang.

Brett akhirnya berkata pelan,

"Kau mengenal istana ini lebih baik daripada siapa pun."

Sarah tidak menyangkal.

"Kau tahu lorong-lorong yang bahkan Boris belum pernah masuki."

Sarah mengangguk tipis.

"Kau tahu sejarah rumah ini."

"Hanya sedikit."

"Dan..."

Brett berhenti sesaat.

"...aku belum pernah melihatmu pulang."

Tatapan Sarah perlahan beralih ke jendela.

Air hujan mengalir seperti tirai tipis di balik kaca.

"Ada beberapa jawaban..." ucapnya pelan, "...yang belum boleh kau dengar."

"Kenapa?"

"Karena kau belum siap."

Brett tersenyum.

"Aku rasa aku siap."

Sarah menggeleng pelan.

"Bukan itu yang menentukan."

"Lalu siapa?"

Sarah berdiri.

"Ayo ikut aku."

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua.

Semakin tinggi mereka melangkah, suara hujan semakin samar.

Koridor itu tetap sama.

Sunyi.

Dingin.

Dan selalu membuat bulu kuduk Brett berdiri.

Mereka berhenti di depan cermin tua yang retak memanjang dari atas hingga bawah.

Brett mengusap lengannya.

"Aneh."

"Apa?"

"Setiap lewat sini ...aku selalu merasa ada seseorang sedang memperhatikanku."

Sarah memandang cermin itu cukup lama.

"Memang seharusnya begitu."

Lalu perlahan ia memasukkan tangan ke dalam saku gaunnya.

Ia mengeluarkan sebuah rosario tua.

Butiran kayunya telah menghitam dimakan usia.

Salib kecil dari perak masih tergantung utuh meski warnanya telah kusam.

Sarah menatap benda itu dengan tatapan yang begitu lembut hingga Brett hampir merasa ia sedang memandang seseorang.

"Ini milik siapa?"

Sarah mengusap salah satu butiran kayu.

"Oliviera."

"Siapa dia?"

Sarah tidak menjawab.

Sebaliknya, ia mengulurkan rosario itu.

"Pegang."

"Begitu saja?"

Sarah mengangguk.

Brett menerima rosario itu.

Jari-jarinya baru saja menyentuh salib kecil tersebut... ketika seluruh udara di koridor berubah.

Suara hujan lenyap.

Keheningan pecah oleh denting gelas, langkah kaki, suara orang berbicara dalam bahasa Belanda dan Sunda.

Koridor tua dipenuhi cahaya keemasan.

Brett menutup mata karena silau.

Ketika kembali membuka mata...

De Dam Paleis telah berubah.

Tidak ada debu.

Tidak ada retakan.

Dindingnya putih bersih.

Lampu gantung kristal memantulkan cahaya sore.

Lantai marmer mengilap seperti cermin.

Kereta kuda berhenti di halaman depan.

Pelayan berlalu-lalang membawa koper, bunga, dan peti kayu.

Rumah itu... hidup.

Brett berdiri terpaku.

"Apa..."

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Di dekat tangga utama berdiri seorang perempuan berkebaya sederhana.

Rambutnya disanggul rapi.

Wajahnya... sama persis dengan Sarah.

Namun usianya tampak sedikit lebih muda.

Seorang pelayan berlari kecil menghampirinya.

"Floortje!"

Perempuan itu menoleh.

"Ya?"

Jantung Brett seakan berhenti berdetak.

Lihat selengkapnya