Paleis Bobrok

Vitri Dwi Mantik
Chapter #8

Di Antara Nada dan Hening

Hujan turun perlahan sejak sore.

Atap tua De Dam Paleis memantulkan bunyi rintiknya menjadi irama yang aneh, seperti seseorang sedang mengetukkan jari di atas piano tua.

Latihan hari itu berlangsung lebih singkat.

Boris pamit lebih dulu karena harus menemui pemilik toko alat musik.

Alvin ikut pulang bersama Mulyani.

Andra mengeluh pusing sejak siang.

Tak lama kemudian, ruang latihan hanya menyisakan dua orang.

Brett.

Dan Sarah.

Brett duduk di atas amplifier sambil memetik gitar akustiknya.

Sesekali ia berhenti, lalu mengulang nada yang sama.

"Masih ada yang mengganjal?" tanya Sarah tanpa mengangkat kepala dari buku lirik.

"Bagian reff."

"Liriknya atau melodinya?"

"Melodinya."

Sarah menutup bukunya.

"Lagu itu terdengar seperti orang yang belum siap melepaskan."

Brett tersenyum kecil.

"Itu memang maksudnya."

"Tapi gitarmu seperti sudah menyerah."

Brett tertawa.

"Itu kritik yang aneh."

Sarah ikut tersenyum.

"Karena musikmu sedang mengatakan dua hal yang berbeda."

Brett memandang gadis itu beberapa detik.

Ia belum pernah bertemu seseorang yang mampu mendengar lagu sedetail itu.

"Sejak kapan kau suka menulis?" tanya Brett.

Sarah mengusap sampul buku lusuh di pangkuannya.

"Sudah lama."

"Berapa lama?"

Sarah terdiam.

"Cukup lama sampai aku lupa."

Brett mengira itu hanya gurauan.

Ia tidak tahu bahwa jawaban itu adalah kejujuran.

Ruangan kembali sunyi.

Hanya terdengar suara hujan dan petikan gitar.

Brett mencoba memainkan melodi baru.

Sarah memejamkan mata.

Ia tidak sedang tidur.

Ia sedang mendengarkan.

Setelah lagu itu selesai, Sarah membuka mata perlahan.

"Bagian akhirnya terlalu terang."

"Maksudmu?"

"Kalau semua rasa sakit langsung selesai, lagu ini kehilangan alasan untuk dikenang."

Brett mengangguk pelan.

"Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu."

Sarah tersenyum tipis.

"Kenangan yang baik selalu menyisakan sedikit luka."

Entah mengapa, kalimat itu membuat dada Brett terasa sesak.

Angin sore tiba-tiba masuk melalui jendela yang terbuka.

Beberapa lembar kertas lirik beterbangan.

Sarah buru-buru mengejarnya.

Satu lembar hampir keluar jendela.

Brett lebih cepat menangkapnya.

"Nih."

Sarah menerima kertas itu dengan kedua tangan.

"Terima kasih."

Brett berjalan ke arah jendela.

Ia menutupnya perlahan.

"Kalau tetap terbuka, nanti kau kedinginan."

Sarah memandangnya tanpa berkata apa-apa.

Sudah sangat lama... tidak ada yang mengkhawatirkan hal sesederhana itu.

Lihat selengkapnya