Tidak semua penghuni De Dam Paleis tidur ketika malam tiba.
Justru ketika langkah manusia mulai menjauh dan lampu-lampu kota meredup, kehidupan lain perlahan bangkit dari balik dinding tua istana.
Lampu gantung kristal yang telah puluhan tahun padam kembali memancarkan cahaya keemasan.
Lantai marmer yang retak tampak utuh.
Jam dinding tua kembali berdetak.
Lorong-lorong yang siang hari dipenuhi debu kini dipenuhi langkah para penghuni yang tak lagi memiliki usia.
Seolah waktu memilih berhenti hanya untuk mereka.
Di ruang makan utama, meja panjang telah tertata rapi.
Piring-piring porselen.
Gelas kristal.
Taplak putih.
Tak ada makanan.
Tak ada aroma masakan.
Semua hanya bayangan dari kenangan yang terus berulang setiap malam.
Namun bagi para penghuninya...
semuanya terasa nyata.
Wiljan De Vries duduk di ujung meja seperti biasa.
Tubuhnya tegap.
Tatapannya tenang.
Di sebelah kiri dan kanannya telah duduk Wilco dan Eelco.
Keduanya tampak gelisah.
Wilco beberapa kali mengetukkan jarinya ke meja.
Sedangkan Eelco terus menatap ke arah jendela yang menghadap ruang latihan The Bull Fighters.
Dari kejauhan terdengar suara gitar.
Lalu suara tawa.
Kemudian seseorang mulai mencoba menyanyikan sebuah lagu.
"Dia menulis lagi."
Wilco memecah keheningan.
Wiljan hanya mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Ini sudah keterlaluan."
Eelco akhirnya ikut bicara.
"Semakin banyak lagu, semakin banyak petunjuk, semakin dekat mereka kepada kita."
Wiljan tetap tenang.
"Kalian terlalu takut."
Wilco menatap kakaknya itu.
"Bukankah seharusnya kita memang takut?"
"Floortje mulai menulis tentang rumah ini."
"Koridor."
"Jendela."
"Suara-suara malam."
"Semua itu ada di dalam liriknya."
Eelco menyambung dengan nada semakin cemas.
"Kalau manusia mulai menghubungkan semuanya?"
"Kalau mereka sadar kita masih ada?"
Wiljan tersenyum tipis.
"Kalian lupa."
"Apa?"
"Manusia sudah lama berhenti percaya."
Wilco menggeleng keras.
"Tapi musik berbeda."
"Lagu lebih mudah tinggal di kepala."
"Hari ini mereka menyanyikannya."