Hujan deras yang membasahi Sukamadu membuat para warga yang sejak tadi siang memenuhi ruang tamu Ucup mulai berpamitan satu demi satu. Yang tersisa kini hanyalah beberapa tetangga sekitar rumahnya dan teman terdekatnya. Ucup yang dari tadi berdiri di tengah keramaian tampak melamun. Pikirannya melayang kesana kemari. Kematian Hernita yang misterius masih terus mengusiknya. Hingga akhirnya suara Kezia memecahkan lamunannya.
“Hey Cup, kamu kayaknya capek banget ya? Udah gapapa, istirahat duluan aja.” Ujar Kezia dengan lembut.
“Iya Kejo bener. Tidur dulu gih cup. Dari kemarin gue yakin lu pasti gak tidur-tidur.” Sahut Kevin.
“Gapapa. Saya belum ngantuk kok.” Jawab Ucup.
“Temen-temen kamu bener nak. Mendingan Ucup istirahat dulu ya. Besok kan katanya mau balik ke Batavia. Untuk masalah di rumah, Ucup gak usah khawatir. Biar Bi Mir sama Bi Dah yang urusin semuanya.” Dari belakang dapur, muncullah Miryam yang juga mendukung pernyataan Kevin dan Kezia. “Yuk sini ikut bibi. Baju-baju kamu udah bibi beresin di kamar.” Lanjut Miryam. Ucup akhirnya mengangguk pelan dan mengikuti langkah Miryam. Sikap Miryam yang keibuan membuat bola mata Ucup berkaca-kaca. Meski raga Hernita telah tiada, namun kehadiran Para Wanita paruh baya tangguh seperti Miryam dan Dahlia yang setia menemaninya membuat Ucup tidak lagi merasa sebatang kara.
Begitu Ia tiba di depan pintu kamar Hernita, Miryam terdiam sejenak dan menarik nafas dalam. Seraya Ia membuka pintu kamar Hernita, tanpa terasa air mata Miryam menetes kembali. Ia teringat malam-malam dimana dirinya mengunjungi Hernita untuk menceritakan kisah hidupnya yang menyedihkan di kamar itu. Ucup yang ada di belakangnya mengusap pundak Miryam.
“Dulu, waktu Papanya Otong tinggalin Bi Mir dan pergi untuk perempuan lain, Bibi kamu yang setia kasih dukungan buat Bi Mir. Dia selalu jadi tempat mengadu bibi setiap kali Bi Mir merasa sendiri. Dia bahkan sampai kasih Bi Mir modal untuk buka warung supaya bisa hidup mandiri. Sampai kapanpun, Bi Mir gak akan pernah lupa sama kebaikan dia.” Ujar Miryam sambil menangis terisak-isak.
“Bi Hernita juga pernah cerita kalau dia gak akan pernah lupa sama semua kebaikan Bi Mir buat kita berdua. Katanya, sejak kita pindah ke Sukamadu, Bi Miryam banyak sekali bantu dia. Kalo gak salah waktu itu Ucup masih umur dua tahun. Bi Miryam sering jagain Ucup kalau Bi Hernita lagi kerja. Padahal waktu itu Bi Mir juga udah sibuk ngurusin Otong yang masih kecil." Ujar Ucup yang terbawa suasana. "Makasih ya selama ini Bi Mir udah jadi teman yang baik buat Bi Hernita." lanjut Ucup sambil mengusap bola matanya yang sudah berkaca-kaca.
Dahlia yang baru saja tiba di kamar Hernita juga ikut meneteskan air mata. “Kalau bukan karena Bibi kamu, mungkin Bi Dah gak akan ada disini.” Ujar Dahlia sambil menghampiri mereka berdua. “Waktu rumah Bi Dah kebakaran, Bi Dah udah hampir jadi TKW dan pindah ke luar negeri. Tapi bibi kamu yang bantuin bibi untuk terus bertahan disini dan bahkan sampai bisa buka kios sendiri. Bibi kamu selalu ingatkan kita semua supaya bisa jadi Wanita yang kuat dan mandiri. Selamanya Bi Dah berhutang budi sama Bibi kamu cup.” Ujar Dahlia sambil memeluk Ucup dan Miryam. Bersama, mereka bertiga menangis tersedu-sedu.
---
Begitu membaca pesan singkat yang Toni kirimkan, Guswono langsung beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu mobilnya.
“Mas mau kemana?” tanya Mirna kebingungan.
“Hendra Wijaya kecelakaan di depan. Mobil mereka masuk ke dalam jurang.”
“Astaga Ya Tuhan! Terus mereka gimana sekarang?” tanya Mirna yang tampak terkejut bukan main.
“Katanya Roy masih menghilang. Sepertinya jatuh ke dalam jurang. Tapi Renata udah berhasil dievakuasi. Sekarang tinggal Hendra Wijaya yang masih terjebak di dalam mobil. Ibu tunggu disini dulu ya. Saya sudah suruh Toni untuk segera kesini.” Ujar Guswono sambil melangkah pergi. Mirna masih tergagu.
Wajah Guswono yang tertutup dengan masker membuat para warga sekitar tidak mampu mengenali dirinya. Dengan segera Ia mendatangi mobil ambulans yang baru saja tiba. Tampak Renata yang terkulai lemas dengan darah yang membanjiri sekujur tubuhnya dan Andre yang menangis di sampingnya.
“Jangan tinggalin gue, re! Lu harus kuat re!” teriak Andre sambil menangis. Melihat pemandangan itu, sekujur tubuh Guswono seketika terasa kaku. Apa yang ia lihat di hadapannya seolah mengingatkannya akan kejadian memilukan yang pernah dialaminya bertahun-tahun yang lalu. Malam dimana jasad Diana yang sempat menghilang akhirnya ditemukan. Malam dimana cinta sejatinya pergi meninggalkannya untuk selamanya.
---
Suasana haru di kamar Hernita masih terasa. Ucup, Miryam dan Dahlia tampak sedang duduk bersama di tempat tidur milik Hernita sambil memandang foto Hernita yang terpampang di meja riasnya.
“Bibi kamu memang cantik banget ya. Sayang sekali dia belum sempat nikah sebelum meninggal dunia.” Ujar Dahlia dengan polosnya.
“Lebih baik hidup sendiri tapi bahagia sampai mati, dari pada punya suami tapi ditinggal pergi.” Sahut Miryam spontan.
“Eh kok malah jadi curhat sih bu?” ujar Dahlia sambil tertawa jahil. Mendengar celotehan Dahlia, Ucup ikut tertawa. Dimana ada Dahlia, suasana menyuramkan sekalipun bisa berubah menjadi ceria dalam sekejap saja.
“Ya udah deh yuk. Kita kok malah jadi gangguin ucup. Dia kan mau istirahat. Besok dia udah mau pergi soalnya.” Ujar Miryam sambil bangkit berdiri.
“Kenapa harus buru-buru sih nak? Memangnya gak bisa ditunda dulu ke Batavia-nya?” Akhirnya Dahlia mengungkapkan kegelisahannya.
“Lebih cepat lebih baik bi. Ada yang harus Ucup selidiki soalnya. Ini tentang Bi Her juga.” Jawab Ucup.
“Tapi kamu harus hati-hati ya nak. Bibi gak mau kamu sampe kenapa-kenapa.” Ujar Dahlia.
“Iya tenang aja bi.” Ujar Ucup sambil menepuk pundak Dahlia seraya ia bangkit berdiri dari tempat tidur Hernita. Ucup berjalan menuju meja rias Hernita dan memegang bingkai foto bibinya. “Ucup akan pastikan semuanya terbongkar bi.” Tanpa terasa air mata Ucup kembali mengaliri pipinya. Miryam dan Dahlia menghampirinya dan memeluk punggung Ucup.
Tiba-tiba perhatian Ucup teralihkan dengan sebuah kertas kecil yang tersembunyi di balik bingkai foto Hernita.
“Ini apa bi?” tanya Ucup penasaran.
Miryam dan Dahlia sama-sama mengerutkan dahinya.
“Apaan itu ya? Coba diambil aja cup.” Sahut Dahlia.
Dengan sigap Ucup membuka penutup bingkai fotonya dan segera mengambil secarik kertas yang tersangkut disana.