PANCAKE

sea patricia
Chapter #2

BAB 1

Senin, 04 Mei

Udara pagi itu seharusnya membawa harapan. Bau aspal basah setelah hujan semalam dan aroma roti panggang dari rumah-rumah tetangga menciptakan atmosfer Senin pagi yang produktif. Namun, di depan gerbang hitam nomor 171—kediaman keluarga Aksara—suasana terasa sunyi memekakan telinga.

Nataci Marigold berdiri disana. Jari-jari mungilnya terus memainkan ujung cardigan biru oversized-nya yang lembut, sebuah kebiasaan saat ia merasa cemas. Setelah membaca rentetan pesan dari Julian pagi tadi, ia tergesa-gesa datang tanpa sempat menyisir rambutnya dengan benar.

Pikiran Taci melayang-layang pada layar ponsel yang terus ia genggam erat hingga telapak tangannya berkeringat.

Ian 🎸

04:13 | Taci, maaf ya 

04:14 | Makasih juga udah jadi tempat cerita buat ku 

04:15 | Maaf ya, kalau aku bikin kecewa 

04:17 | Love you, Taci ❤️ 

Pesan itu tak sempat terbalas. Taci tertidur kelelahan setelah aktivitas hari itu. Sekarang, setiap detik keheningan yang keluar dari rumah besar itu terasa seperti hantaman palu godam di dadanya. 

TING-TONG

TING-TONG

TING-TONG

Rumah dua lantai itu tetap bungkam, seolah-olah seluruh bangunannya sedang menahan napas. Biasanya, Julian akan muncul di balkon kamarnya, melambai dengan kacamata yang sedikit melorot di hidung meski hanya untuk melihat Taci sebentar sebelum turun dan berangkat sekolah bersama. Namun pagi ini, jendela kamar Julian tertutup rapat, hanya menyisakan pantulan awan kelabu pada kacanya yang dingin.

Tiba-tiba, pintu utama terbuka dengan sentakan keras yang memekakan telinga. Adryan Aksara keluar. Pria itu sudah mengenakan kemeja kerja yang rapi dan pantofel mahal yang mengilat, tapi penampilannya tak bisa membohongi raut wajahnya yang pucat pasi, dasinya tersampir tidak beraturan di lehernya. 

“Om Ryan?” Taci mengerutkan keningnya, sedikit bingung ia mundur satu langkah.

Adrian tidak menatapnya. Matanya kosong, menatap ke arah gerbang dengan urat-urat leher yang menonjol menahan getaran hebat. Pandangannya jatuh pada sosok Taci gadis yang selama ini ia larang keras bergaul dengan putranya, gadis yang ia anggap sebagai distraksi bagi Julian putranya pertahanan Adryan runtuh seketika.

Tanpa sepatah kata pun, Adryan melangkah maju dan membuka gerbang rumahnya cukup keras. Ia memeluk gadis itu dengan kekuatan yang menyakitkan, seolah-olah jika ia melepas Taci, Julian akan kembali.

Taci membeku. Pikiranya tak bisa mencerna apa yang dilakukan pria baya itu, ia sedikit melangkah mundur, namun Adryan makin mengencangkan pelukannya. 

“Om Sakit.” 

“Lepasin Om.”

“Om kenapa?”

“Ian mana?” Taci bertanya dengan ekspresi yang bingung. Hatinya mulai gelisah, mengingat pesan yang dikirim Julian subuh tadi.

Adryan menegang saat gadis itu bertanya tentang putranya, ia melangkah mundur. Menghindari tatapan mata Taci, Tubuhnya sedikit gemetar menahan tangis. Ia menundukan kepalnya, menyerah berlagak kuat. Setetes air mata turun di pipinya, membuat Taci semakin bingung dan cemas.

“Nataci, tolong….” suara Adryan serak. “Tolong, telepon ambulans.”

“Apa yang terjadi? Om, jawab! Ian mana?!” Taci mulai panik, ia berusaha menerobos masuk, namun Adyan menghalanginya untuk masuk kedalam rumah. 

“Telpon saja!” Bentak Adryan, suara itu tidak penuh amarah, melainkan penuh keputusasaan yang dalam. “Tolong telpon saja…” 

Taci tidak bisa membantah Adryan yang terlihat sudah sangat putus asa, dengan tangan yang sedikit gemetar ia membuka ponselnya dan menghubungi ambulans.

Interaksi itu tak luput dari perhatian satpam komplek yang sedang berpatroli. Ia segera turun dari motornya dan menghampiri mereka. “Ada apa, Pak Adryan?”

Ia menatap satpam itu dengan mata yang membelak trauma. “Anak saya…..” Ia menjeda, oksigen seolah hilang dari paru-parunya, “Dia…dia gantung diri di kamarnya.”

KLAK.

Ponsel di tangan Taci terlepas, menghatam paving halaman hingga layarnya retak. Dunia di sekitarnya mendadak berhenti, hanya menyisakan suara dengungan panjang yang tinggi di telinganya. 

***

Lihat selengkapnya