Selasa, 05 Mei
Bandung sedang tidak bersahabat, langitnya abu-abu pekat mulai menumpahkan rintikan hujan yang dingin, membasahi kaca mobil Reno saat berhenti di depan rumah Taci. Sepanjang perjalanan dari TPU, tidak ada percakapan. Hanya ada suara mesin motor dan deru angin yang terasa hampa.
Reno mematikan mesin mobilnya, namun ia tidak segera membukakan kunci pintu. Ia menoleh ke samping, menatap profil wajah Taci yang tampak sangat rapuh di bawah temaram langit sore Bandung. Gadis itu hanya diam menatap pagar rumahnya sendiri, seolah-olah ia sedang melihat orang asing yang menunggunya di dalam sana.
“Ci,”panggil Reno lembut, suaranya sedikit bergetar.
Taci tidak menoleh. Ia hanya bergeming, tangannya masih mendekap erat tas kecilnya.
“Makan dulu yuk? Sebentar aja,” ajak Reno. Ia tahu Taci belum memasukkan apapun ke perutnya sejak kemarin pagi. “Cari bubur atau cuanki di depan komplek. Lu perlu tenaga.”
Taci akhirnya menoleh perlahan. Matanya yang bengkak bertemu dengan tatapan tulus Reno. “Gue nggak lapar, Ren.”
Reno menatapnya, “Bohong, udah ayo kita makan dulu, ya? Kalau Julian lihat lo kayak gini dia pasti ikut sedih. Jadi, please temenin gue makan bentar aja.”
Mendengar nama Julian disebut, pertahanan Taci sedikit goyah. Ia tahu Reno juga sedang hancur mereka semua kehilangan tapi Reno masih berusaha berdiri tegak untuk menjaganya.
Reno membawa mobilnya membelah gerimis Bandung menuju sebuah kedai mie ayam pinggir jalan yang biasanya menjadi tempat favorit mereka berlima setelah pulang sekolah. Sore itu, kedai itu tampak sepi, hanya ada suara uap dari panci besar yang mengepul dan rintik hujan yang menghantam atap seng.
Mereka duduk di pojok, tempat yang sedikit remang-remang. Reno memesankan dua porsi, namun ketika mangkuk itu mendarat di depan Taci, gadis itu hanya menatap kepulan asapnya dengan pandangan kosong.
“Dimakan, Ci. Sedikit aja,” bujuk Reno sambari mengaduk makanannya sendiri tanpa selera.
Taci mengambil sendok dengan tangan gemetar. Ia menyuap sedikit kuah, namun rasanya hambar. Lidahnya seolah sudah mati rasa bersamaan dengan detak jantung Julian yang berhenti.
“Ren…” suara Taci berbisik.
Reno mendongak, menghentikan aktivitas makannya.
“Padahal kemarin dia kelihatan baik-baik saja.” Taci menatap Reno dengan mata yang kembali berkaca-kaca. “Di chat juga dia masih kayak orang yang nggak punya masalah.”
Reno terdiam. Ia meletakkan sendoknya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras. Ia menatap ke arah jalanan yang mulai gelap. “Julian itu pinter akting, Ci. Kita semua tahu dia selalu punya cara menarik perhatian orang tanpa nunjukin dia baik-baik saja.”
Reno menghela nafas panjang, matanya mulai memerah. “Gue juga merasa gagal sebagai sahabat. Kita latihan band bareng, basket bareng, tapi nggak ada satupun dari gue mau pun Arga yang denger dia mengeluh ini itu.”
Taci kembali menunduk. Bayang bayang Julian yang posesif, Julian yang bercanda tentang ayahnya, Julian yang memujinya. Semua itu terasa seperti kepingan puzzle dari orang yang berbeda.
“Gue ngerasa bersalah, harusnya malam itu gue bisa nyelamatin dia,” isak Taci, air matanya jatuh ke dalam mangkuk mie yang masih utuh. “Kalau aja aku balas pesannya, mungkin dia masih di sini sekarang. Mungkin sekarang dia mau jemput gue buat jalan-jalan….”
Reno menepuk pundak Taci, meremas pundaknya. “Jangan gitu, Ci. Jangan salahin diri lo sendiri, Julian nggak akan suka lihat lo kayak gini.”
“Gue juga nggak suka dia kayak gini.” Bantah taci, mereka terdiam tenggelam dalam keheningan sore itu, ditemani aroma mie ayam yang kini mendingin. Di tengah bisingnya hujan, mereka berdua adalah jiwa yang sedang berusaha keras untuk tidak ikut terkubur bersama sahabat mereka.
Perjalanan pulang dari kedai mie ayam itu terasa jauh lebih berat dari pada saat berangkat. lampu-lampu jalanan Bandung yang temaram mulai menyala satu per satu, membiasakan cahaya kuning di atas aspal yang basah oleh sisa hujan. Di dalam mobil, keheningan kembali merajai. Hanya ada suara wiper yang bergerak ritmis ke kiri dan ke kanan, seolah mencoba menghapus kesedihan yang terus menumpuk di kaca depan.
Reno menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Taci. Mesin mobil masih menyala, memberikan getaran halus yang menjadi satu-satunya pendamping detak jantung mereka yang lambat. Taci tak langsung turun, ia menoleh ke arah Reno.
“Makasih, Ren.” Dia memaksakan senyumnya sebelum membuka pintu mobil.
“Taci,” panggil Reno, suaranya paru. “Gue tahu ini nggak akan mudah, tapi jangan menutup diri ya? Lo masih punya gue, Arga, sama Sofi.”
Taci mengangguk kecil, sebuah gerakan yang nyaris tak terlihat. “Aman aja, gue bakal cerita ke kalian, makasih Ren. udah nganter dan traktir makan gue.”
Reno menatap Taci, dan mengacungkan jempolnya. “Masuk gih.”
“Bye, Ren.” Ia melambaikan tangannya pada Reno, sebelum ia berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Begitu ia masuk ke dalam kamar, Taci membiarkan kegelapan menyambutnya seperti kawan lama. Ia merosot di balik pintu, memeluk lututnya erat-erat. Dengan tangan yang masih gemetar, ia merogoh ponselnya dari tasnya. Layar retak itu kembali menyala, memancarkan cahaya yang menyakitkan mata. Jarinya secara otomatis membuka kembali percakapan dengan Julian. Ia menggeser layar dengan cepat, melewati pesan - pesan duka dari teman-temannya yang tak ingin ia gubris.
***
Sabtu, 25 April
Bandung sedang dalam suasana terbaiknya, matahari pagi bersinar hangat, menyelinap di antara dahan pohon pohon besar di sepanjang jalan perumahan. Taci baru bangun tidur ketika ponselnya berdering menampilkan nama yang selalu ia tunggu untuk mengabarinya.
Ian 🎸
09:31| Taci,malam ini kamu sibuk?
09:31| enggak kenapa?
09:33 | Jalan yuk
09:33 | kangen banget, lama kita nggak ngobrol berdua
09:37| oke, jam berapa?
09:37 | Aku jemput kamu jam 5 sore
09:37 | See u, Taci ❤️
Dia tersenyum merekah degan langkah ceria dia keluar dari kamar untuk sarapan pagi.
“Pagi, ma!” Sapanya ceria.