PANCAKE

sea patricia
Chapter #4

BAB 3

Senin, 04 Mei

Reno mematung di pinggir tempat tidurnya, kamarnya yang hanya diterangi lampu meja temaram mendadak terasa sangat sempit. Nafasnya tertahan, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat saat matanya terpaku pada baris kalimat di layar ponselnya.

Julitod

01:00| Gue tau lo suka cewek gue. 

Reno menelan ludah yang terasa sangat pahit. Melihat nama pengirimnya, Julitod nama kontak iseng yang ia buat untuk julian terpampang disana, namun kali ini isinya sama sekali tidak mengandung candaan.

Hening malam itu seolah berubah menjadi pekak.

Reno mencoba menggerakkan jarinya yang mendadak kaku. Pikirannya berlarian liar.

“Dari mana dia tahu?”

“Apa gue terlalu jelas?”

“Apa cara gue natap Taci tadi sore di studio?” Lirihnya sambil merebahkan tubuhnya di kasur.

Sejuta skenario terburuk muncul di kepala Reno. Julian adalah sahabat terbaiknya sebelum Arga. Orang yang selalu ia bela, orang yang selalu mendengarkan keluhannya. Namun, Julian juga satu-satunya orang yang memiliki hati gadis yang selama ini Reno cintai dalam diam.

Ia ingin membalas, tapi jarinya hanya tertahan di atas papan ketik.

‘maksud lo apa?’ hapus, jari jarinya bingung akan menulis apa. 

Reno mengusap wajahnya dengan kasar, merasa seperti seorang pengkhianat yang akhirnya tertangkap basah. Ia sudah berusaha keras menimbun perasaan itu sedalam mungkin di bawah lapisan persahabatan mereka.

Layar ponselnya kembali menyala. 

Julitod

01:02 | Jangan bohong, Ren

01:02 | Mata lo nggak bisa bohong.

Reno memejamkan mata erat-erat, di tengah kesunyian Bandung, ia tersadar bahwa rahasia yang ia jaga rapat-rapat telah meledak tepat di tangan orang yang paling tidak ingin ia sakiti.

Julitod

01:12 | let me expand u

01:12 | Gue cuma, ingin nitip Taci 

01:12 | what u mean?

Reno terus menatap layar ponselnya hingga matanya terasa pedas. Tanda centang biru di sana seolah mengejeknya. Julian ada disana, di ujung koneksi internet itu, tapi dia milih membisu setelah menjatuhkan bom yang menghancurkan ketenangan Reno. 

“Apa sih bocah ini?” 

“Nitip? Memangnya Taci barang?” Gerutunya frustasi.

Kalimat itu cukup membuatnya terusik, kepalanya berputar-putar mencerna tulisan Julian yang ambigu. 

Reno kembali mengetik dengan cepat, jemarinya gemetar. 

Julitod 

03 : 60| jul, apa maksud lo?

03 : 60| ngaco lo.

03 : 60| lo tau gue nggak bakal nikung lo!

04 : 00| julian jawab, jul!!

Tidak ada balasan. 

Reno bangkit dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir di kamarnya yang dingin. Pikirannya kalut. Ia merasa bersalah karena perasaannya pada Taci ketahuan, tapi ia jauh lebih takut melihat sikap Julian yang tidak biasa. Biasanya, Julian akan mengajaknya berkelahi atau setidaknya memaki-makinya jika tahu hal sensitif seperti ini. 

Ia mencoba menelpon. Satu kali, dua kali, hingga sepuluh kali. Panggilan itu tersambung, namun tidak pernah diangkat.

"Bangun, Ian... angkat," gumamnya frustasi.

Hingga azan Subuh berkumandang di kejauhan, ponsel Reno tetap sunyi. Tidak ada balasan, tidak ada penjelasan atas pesan aneh pukul 01:12 itu. Senin pagi itu, Reno berangkat sekolah dengan perasaan was-was yang luar biasa, membawa beban rahasia yang baru saja terbongkar. 

Di depan pintu kelas, Arga sudah menunggunya. Wajahnya sama kucelnya, matanya merah, dan ia terus-menerus menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.

"Kenapa lo?" tanya Reno, berusaha menormalkan suaranya meski dadanya sesak.

Arga mendongak, menatap Reno dengan tatapan kosong yang menghancurkan. "Julian…"

Reno mengangkat alisnya, jantungnya serasa dipompa dengan kecepatan yang tidak wajar. Firasat buruk dari chat dini hari tadi kembali menghantamnya. "Apa, Ga? Julian kenapa?!" desaknya tak sabaran.

Melihat Arga yang hanya diam mematung, Reno langsung merebut ponsel dari tangan sahabatnya itu. Di sana, sebuah pesan dari Sofi terpampang jelas, menghancurkan sisa-sisa harapan Reno pagi itu.  

Sofiii ❤️

online

08:00| sayang

08:00| cepet kerumah Julian

08:00| Julian bunuh diri!!!!

Reno merasa dunianya berhenti berputar. Ponsel di tangannya terasa sangat berat, seolah seluruh beban bumi berpindah ke telapak tangannya. Matanya terpaku pada kata “bunuh diri” yang dikirimkan Sofi.

Kata itu menghantamnya jauh lebih keras daripada berita kecelakaan mana pun.

Ia teringat rentetan pesan Julian tadi. Bayangan Julian yang mengetik pesan "Gue cuma ingin nitip Taci" sambil menatap kegelapan kamar kini terasa seperti sebuah adegan perpisahan yang sangat nyata. Reno mengusap rambutnya dengan kasar, menariknya hingga kulit kepalanya terasa pedih. 

“Sialan!” umpat Reno dengan suara yang pecah.

Ia merasa bersalah dalam segala hal. Bersalah karena ia menyukai Taci. Bersalah karena ia tidak membalas pesan Julian dengan benar. Dan yang paling menyakitkan, ia bersalah karena ia tidak segera datang ke rumah Julian saat perasaan was-was itu muncul sejak dini hari.

“Ren..." suara Arga bergetar, "Julian kenapa bisa gitu, Ren? Kemarin dia masih ketawa sama kita..." 

Reno tidak menjawab. Ia hanya bisa mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Di kepalanya hanya ada satu pikiran yang menghantui: Apakah Julian pergi karena tahu sahabatnya sendiri mengkhianatinya dengan mencintai gadisnya?

Tanpa berkata apa-apa lagi, Reno menarik kunci motornya dari saku. "Ke rumah Julian sekarang, Ga. Cepet!"

Ia harus sampai di sana. Ia harus melihat dengan mata kepala sendiri bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk, meskipun pesan terakhir di ponselnya telah menjadi bukti bahwa Julian memang sudah merencanakan kepergiannya sejak jarum jam menyentuh angka satu malam itu.

***

Sesampainya Reno dan Arga di kediaman Aksara, mereka menyaksikan pemandangan yang menghancurkan seluruh logika mereka. Jasad Julian, yang ditutupi kain putih, digotong keluar melewati mereka berdua dan di masukkan ke dalam ambulans.

Taci berada di sana, berantakan. Ia merangkak maju dengan sisa tenaganya, namun tangan petugas polisi tetap menahannya dengan kuat di luar garis kuning yang membentang dingin.

“IAN!” Taci berteriak, suaranya parau hingga hampir hilang. “IAN, BANGUN! JANGAN BERCANDA!”

Reno merasakan lututnya melemas. Teriakan Taci seperti belati yang menyayat hatinya berkali-kali. Ia menatap kain putih itu, membayangkan sosok sahabat yang beberapa jam lalu masih sempat mengirimkan pesan teks. Pesan yang kini terasa seperti kutukan.

“Ian...” Arga bergumam lirih di samping Reno. Ia menutupi mulutnya, air matanya tumpah seketika saat melihat Taci akhirnya jatuh tersungkur di atas aspal karena tak kuasa menahan histeris.

Taci terus meronta, jemarinya mencakar aspal, mencoba menjangkau langkah para petugas yang membawa Julian menjauh. "Buka... gue mau liat dia! Julian nggak mungkin... dia janji mau jemput gue!"

Reno melangkah maju dengan linglung. Ia tidak memperdulikan polisi atau orang-orang yang mulai berkerumun. Matanya hanya tertuju pada Taci yang hancur dan kantong jenazah yang kini dimasukkan ke dalam ambulans.

Ia berlutut, menarik Taci ke dalam dekapan dadanya yang bidang. Taci meronta, memukul-mukul bahu Reno dengan kepalan tangan yang lemah, namun Reno sama sekali tidak melepaskannya. Ia membiarkan Taci menumpahkan segala amarah dan rasa tidak percayanya di sana.

"Shtt... nangis aja, Ci. Keluarin semuanya," bisik Reno parau tepat di telinga Taci.

Taci mencengkeram jaket Reno begitu kuat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher cowok itu. Isak tangisnya berubah menjadi raungan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya. "Dia jahat, Ren! Julian jahat! Kenapa dia ninggalin gue kayak gini?!"

Reno hanya bisa memejamkan mata erat-erat, membiarkan air matanya sendiri jatuh membasahi rambut Taci. Setiap isakan Taci adalah belati yang menusuk rasa bersalahnya. 

Lihat selengkapnya