PANCAKE

sea patricia
Chapter #5

BAB 4

Selasa, 05 Mei

Malam, setelah pemakaman julian, Arga tidak membiarkan Sofi pulang sendirian. Di sepanjang perjalanan menuju rumah gadis itu, suasana di dalam mobil hanya diisi oleh isak tangis Sofi yang tertahan dan deru mesin yang terasa malas.

Sesampainya di depan pagar rumah Sofi, Arga mematikan mesin, namun ia tidak segera membukakan pintu. Ia menarik Sofi ke dalam pelukannya sebuah pelukan yang terasa rapuh karena arga sendiri sedang berusaha keras untuk tidak meledak. Ia mengusap rambut Sofi, mencium keningnya berkali-kali seolah itu adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa mereka masih memiliki satu sama lain.

“Jangan dipikirin terus, kamu harus istirahat,” bisik Arga paru, meski ia tahu kata-katanya adalah omong kosong. Sofi hanya mengangguk lemas, matanya yang bengkak menatap Arga dengan rasa takut yang besar akan kehilangan. Setelah memastikan Sofi masuk ke rumah dengan aman, Arga baru melajukan mobilnya pulang.

Hingga akhirnya, bannya berhenti di depan rumahnya sendiri. Langkah kaki Arga terasa sangat berat saat melewati teras. Ia tidak sanggup masuk ke dalam rumah yang mendadak terasa terlalu sunyi tanpa suara gaduh Julian yang biasanya mampir. Ia memilih duduk di undakan semen terasnya, membiarkan angin malam Bandung yang menusuk tulang menampar wajahnya.

Tak lama, sebuah mobil yang sangat familiar berhenti di depan gerbangnya.

Arga hanya menatap diam. Ia melihat Reno yang masih terpaku di balik kemudi cukup lama, sebelum akhirnya pintu itu terbuka dan sang sahabat berjalan gontai ke arahnya. Reno duduk di sampingnya, kaki mereka sama-sama selonjoran di atas semen dingin.

Keheningan malam itu terasa mencekam bagi Arga. Di sakunya, ponselnya terasa seberat beban ribuan ton. Ia terus teringat sebuah pesan yang ia terima di tengah malam buta sebelum kabar duka itu datang pesan yang awalnya ia kira hanya candaan mabuk Julian.

“Kemarin dia mengirim pesan ke gue,” ucap Arga tiba-tiba. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.

Ia melihat Reno tertegun. Gerakan tangan Reno yang sedang meremas jemari seketika berhenti. Ada ketakutan di mata Reno yang sempat tertangkap oleh sudut mata Arga.

"Pesan?" tanya Reno berbisik. "Jam berapa, Ga?"

Arga merogoh kantong celananya. Layar ponselnya menyala, menampilkan foto ia dan Sofi yang sedang tersenyum sebuah kontras yang menyakitkan dengan kenyataan saat ini. Dengan jempol yang sedikit gemetar, ia membuka aplikasi WhatsApp dan menyerahkan benda pipih itu pada Reno.

Julis

01:05 | lo tau kan Reno suka cewek gue?

01:05 | enggak

Arga menatap Reno lekat-lekat. Ia ingin melihat reaksi sahabatnya itu. Sejak awal, Arga memang merasa ada yang janggal dengan cara Reno menatap Taci, tapi ia selalu menepisnya demi solidaritas mereka bertiga. Namun sekarang, pertanyaan itu bukan lagi sekadar firasat.

“Lo beneran suka Taci,” tuduh Arga. Nadanya datar, namun menusuk.

Arga memperhatikan tangan Reno yang memegang ponselnya mendadak kaku. Reno tampak seperti orang yang baru saja mendengar vonis mati.

“Ren, gue tanya!” Suara Arga meninggi, rasa sakit dan kecewa mulai mengaduk-aduk dadanya. “Lo beneran suka Taci di belakang Julian selama ini?”

Keheningan kembali menyergap, lebih berat dari sebelumnya. Sampai akhirnya, sebuah pengakuan keluar dari mulut Reno.

"Iya," jawab Reno sangat pelan. "Gue suka Taci. Jauh sebelum Julian kenal dia."

Mendengar itu, Arga tertawa pahit sebuah tawa kering yang penuh dengan rasa tidak percaya. Ia berdiri, tak sanggup lagi duduk sejajar dengan Reno. Ia menatap Reno dari atas dengan pandangan yang menyakitkan. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin mereka bersahabat sekian lama dan ada rahasia sebesar ini di antara mereka?

"Sialan lo, Ren.”

"Gue tau," balas Reno singkat.

Arga membuang muka, menatap ke arah jalanan gelap. Kemarahannya yang meledak tadi perlahan luntur, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa hebatnya. Ia melihat Reno hancur, bahkan lebih hancur darinya. Saat Reno mulai bercerita bahwa Julian justru menitipkan Taci kepadanya tanpa amarah, Arga merasakan sesak yang berbeda.

Reno menunduk, air matanya jatuh ke semen dingin. Arga menghela napas panjang. Ia kembali duduk, namun kali ini ia menepuk bahu Reno pelan—sebuah gestur solidaritas yang tersisa di tengah puing-puing persahabatan mereka yang hancur. Mereka sama-sama bajingan, pikir Arga. Ia bajingan karena tidak tahu apa yang dialami Julian, dan Reno bajingan karena perasaannya.

Reno berdiri dengan kaki lemas. “Gue cabut duluan,” ucapnya tanpa berani menatap Arga.

Arga hanya diam, memperhatikan punggung Reno yang membungkuk karena beban rahasia yang kini harus mereka pikul berdua. “Hati-hati, Ren,” gumam Arga saat Reno berjalan menuju gerbang.

Arga tetap mematung di sana, di undakan semen yang kini terasa sedingin es, mendengarkan deru mesin mobil Reno yang perlahan meredup lalu hilang ditelan belokan kompleks. Ia menyandarkan kepalanya pada tiang penyangga rumah, menatap langit malam Bandung yang pekat tanpa bintang, seolah-olah hamparan hitam di atas sana adalah cerminan jiwanya yang kosong. 

Keheningan yang mencekam menyergapnya bukan tipe sunyi yang menenangkan, melainkan kesenyapan yang berisik, penuh dengan gema suara-suara yang tak lagi memiliki pemilik. Angin malam yang berhembus membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa wangi bunga kamboja yang seolah menempel di bajunya sejak dari pemakaman tadi siang. Pikiran Arga mulai melayang, terlepas dari kenyataan pahit malam ini, terseret mundur ke sebuah garis waktu yang kini ia sesali karena tak ia perhatikan dengan saksama. 

***

Rabu, 29 April

Sore itu, gor basket sekolah terasa pengap oleh bau keringat dan suara decit sepatu kets di atas lantai kayu. Arga ingat betul, itu adalah sesi latihan terakhir mereka sebelum turnamen antar SMA. Biasanya, Julian adalah orang yang rapi, yang paling sering memprovokasi lawan atau sekedar berteriak menyemangati tim.

Namun hari itu, tingkah Julian aneh. Sangat aneh.

Julian datang dengan seragam basket yang berantakan, ia juga tidak langsung pemanasan, melainkan duduk di pinggir lapangan sambil memutar-mutar bola di ujung jarinya dengan tatapan yang kosong. Saat latihan tanding dimulai, Julian yang biasanya lincah seperti kancil, mendadak kehilangan fokus.

“Jul! Fokus, jing! jaga area lo!” teriak Arga saat melihat Julian hanya berdiri diam di bawah ring, membiarkan lawan melakukan lay-up dengan mudah.

Julian tersentak,bahunya sedikit mencuat ke atas saat teriakan Arga membelah kebisingan GOR. Ia menoleh ke arah Arga, namun sorot matanya tidak tajam seperti biasanya. 

“Sorry, Ga,” gumamnya pendek. Suaranya tenggelam di antara decit sepatu pemain lain.

Arga hanya mendengus, kembali berlari mengejar bola. Tapi keanehan Julian tidak berhenti disitu. Di menit berikutnya, saat bola ada di tangan Julian, cowok itu tidak melakukan penetrasi yang biasanya mematikan. Ia justru terdiam sejenak, menatap keranjang basket seolah benda itu adalah sesuatu yang sangat asing baginya.

Tiba-tiba, Julian berlari kencang. Ia melakukan drive nekat, membelah pertahan lawan dengan kecepatan yang tidak terkendali. Ia melompat tinggi, berusaha melakukan dunk yang sangat dipaksakan.

BRAKK!

Tubuh Julian menghantam lantai kayu dengan keras. Ia gagal meraih ring, dan keseimbangannya goyah diudara. Suara benturan itu cukup keras hingga membuat pelatih meniup peluit tanda berhenti. Arga langsung berlari menghampiri, jantungnya berdegup kencang karena khawatir.

“Gila lo, ngapain dipaksa begitu?” Arga mengulurkan tangan, hendak membantu Julian berdiri. 

Namun, Julian hanya diam di posisi jatuhnya. Ia menatap lantai kayu GOR dengan nafas yang memburu. Telapak tangannya yang lecet dan memerah tidak ia pedulikan. Secara perlahan, ia menepis tangan Arga dengan gerakan yang lembut namun terasa seperti penolakan yang tegas.

"Gue nggak apa-apa," ucap Julian. 

Arga melihat Julian bangkit sendiri dengan sisa tenaga yang tampak rapuh. Ia mengira Julian akan menepi dan istirahat, tapi dugaannya salah. Julian justru kembali ke tengah lapangan dengan wajah yang mendadak mengeras, seolah ia sedang menantang rasa sakitnya sendiri atau mungkin, menantang dunia yang sedang menghimpitnya.

“Lanjut, Ga. Gue bilang gue nggak apa-apa,” suara Julian mendadak tajam.

Latihan tanding kembali dimulai, tapi suasananya berubah menjadi panas. Julian bermain dengan sangat agresif, bahkan cenderung kasar. Ia menabrak siapapun yang menghalangi jalannya. Puncaknya adalah saat Arga mencoba mencuri bola dari tangan Julian. Julian tidak menghindar, ia justru memberikan sikutan keras ke arah dada Arga hingga Arga terhuyung ke belakang.

“Woi! Apa-apaan lo, Jul!!?” Arga membentak, emosinya terpancing. Ia maju dan mendorong bahu Julian. “Main yang bener lo!” 

Julian tidak mundur selangkah pun. Ia justru membalas dorongan Arga dengan kekuatan yang jauh lebih besar, hingga Arga menabrak tiang penyangga ring yang kokoh.

“Berisik lo! Bukannya lo yang paling mau kita menang?!” teriak Julian dengan suara parau yang penuh dengan keputusasaan. 

Untuk sesaat, suasana GOR membeku. Teman-teman setim mereka yang lain terpaku di posisi masing-masing, tak ada yang berani mendekat. Julian menatap Arga dengan sorot mata yang sulit diartikan, ada amarah, ada kelelahan.

Tanpa peringatan, Julian maju satu langkah dan memberikan satu dorongan terakhir ke dada Arga. Tidak sekuat sebelumnya, tapi cukup untuk membuat Arga terdiam seribu bahasa.

"Ambil kemenangan lo. Ambil semuanya," desis Julian pelan, nyaris seperti bisikan yang penuh racun.

Setelah itu, Julian berbalik. Dengan langkah yang kaku namun cepat, ia berjalan meninggalkan lapangan. Suara decit sepatunya yang terakhir kali bergesek dengan lantai kayu seolah menjadi tanda titik dari sebuah kalimat yang belum selesai. 

Lihat selengkapnya