Musim-musim tanpa ayah. Libur musim panas, sang ayah tak berada di sisi mereka. Di musim semi yang penuh kasih dan bunga bermekaran pun tak ada sosok ayah di sisi mereka. Musim gugur yang penuh kehebohan dan festival, ayah mereka pun tak terasa.
Bahkan di musim dingin yang seharusnya penuh canda tawa keluarga, kehadiran ayahnya tetap tak terasa di setiap musim yang berlalu. Hanya satu foto di dinding yang menampilkan foto mereka bersama, foto yang hampir memudar dengan bingkai tua.
Sangkar emas mulai patah. Suatu saat, ayah mereka pulang untuk seminggu. Alex dan sang ibu sangat sukacita menyambut ayahnya yang membawakan mereka hadiah mahal. Alex berlari memeluknya, wajahnya berseri-seri. Hanya Vixton yang tak antusias dengan kehadiran sang ayah, tatapannya datar, seolah ia bisa melihat sesuatu yang lain.
Namun, beberapa hari setelah kepulangan Troy, Alex mulai terlihat tak bersemangat, senyumnya memudar, lebih sering menyendiri. Vixton merasakan sesuatu yang ganjil, firasat buruk menyayat hatinya.
Pada malam harinya, Vixton tak tertidur. Perasaannya mendorongnya. Ia menyelinap ke dalam ruang kerja sang ayah, sebuah ruangan yang selalu terkunci. Dengan teliti, ia membuka komputer sang ayah dan menemukan beberapa CD mencurigakan bertuliskan nama wanita lain.
Tangannya dingin saat ia memasukkan salah satu CD itu. Napasnya seakan berhenti sejenak, saat ia melihat sang ayah tanpa busana, diduduki oleh seorang wanita yang bukan ibunya. Video itu memutar pisau di jantungnya.
Lalu, ia melihat isi email sang ayah yang membuktikan beberapa hal: sang ayah seorang pria yang menjual tubuhnya untuk wanita kaya yang akan membayar mahal. Firasatnya selama ini nyata; pria berwajah malaikat itu memiliki hati iblis, yang seharusnya menjadi panutannya adalah monster berwujud elok.
Vixton segera membereskan semua seperti semula, lalu beranjak ke kamar tidurnya. Vixton terduduk di ranjangnya, tubuhnya gemetar. Kamar mereka berada di ruang yang sama, tempat tidur Alex berada tepat di sebelah tempat tidurnya.
"Alex, kau belum tertidur, kan?" Suara Vixton, tenang. Sontak Alex terkejut, masih berpura-pura tidur. Belum selesai hatinya mempersiapkan, pernyataan Vixton menyentak hati dengan pernyataannya, "Kau sudah mengetahuinya, kan?" tegas Vixton, matanya menatap tajam ke dalam gelap.
Alex terduduk di ranjangnya sambil menatap Vixton dengan air mata yang tertimbun di matanya yang berkaca-kaca. Bibirnya gemetar, "Apa yang dapat kulakukan?" Air mata akhirnya tumpah, membasahi pipinya. Vixton menghampiri Alex lalu memeluknya.
Alex menangis tersedu-sedu dalam dekapan saudara kembarnya, bahunya bergetar selaras dengan isak tangisnya. "Kasihan sekali Mamah kita," Alex berkata sambil tersendat, "Mungkin Mamah juga sudah tahu." Suaranya dalam. Ia tak menangis, karena ia tahu ketika ia menangis juga akan menambah beban di pundak mereka berdua. Ia harus mengambil peran untuk menguatkan.
***
Keesokan paginya, keadaan sangat normal seperti biasanya. Ibu dan ayahnya terlihat sangat romantis di meja sarapan, tawa Shermie terdengar dipaksakan. Namun Vixton melihat kesedihan mendalam dalam sorot mata ibunya, serpihan rasa lelah yang tersembunyi di balik senyum itu. Vixton sangat peka dalam menilai perasaan.
Ia dapat merasakan retakan di balik kebahagiaan semu itu. "Ibu, biarkan aku membantu mencuci piring!" Vixton menawarkan bantuan, menarik Shermie menjauh dari meja makan. Mereka meninggalkan Alex yang sedang mengobrol dengan sang ayah, tertawa hambar. Walaupun sang ayah terlihat sangat perhatian, Vixton maupun Alex merasakan hal yang berbeda, sesuatu yang tak mungkin diperbaiki. Hati mereka seperti jatuh ke lumpur dan terinjak.
Vixton membawa peralatan makan, memberikan pada ibunya. "Ibu, ceraikan saja orang itu!" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut kecilnya. Tangan lembut Shermie bergetar, piring yang dipegangnya terjatuh, pecah berhamburan di lantai, suaranya nyaring menusuk telinga.
Dari kejauhan terdengar, "Honey, apa sedang terjadi sesuatu?" teriak Troy. "Tidak, kami hanya tidak sengaja memecahkan piring," sahut Vixton, cepat tanggap, sambil melihat ekspresi wajah Shermie yang masih pucat.
"Ibu ingin membuat kebahagiaan palsu?" Vixton melanjutkan, suaranya tenang namun menyayat. "Apa bedanya itu dengan fatamorgana? Aku dan Alex sudah tahu siapa yang Ibu nikahi itu!" Shermie memeluk Vixton sambil menangis.
Alex melihat kejadian itu dan ikut memeluk dan menangis bersama, membiarkan air matanya membasahi baju Vixton. Saudara kembar itu meyakinkan Shermie untuk segera menceraikan Troy, ayah mereka sendiri.
Alex berkata, "Lagipula selama ini hanya ada kita, kehadirannya sangat tak terasa hangat!" Shermie hanya mengangguk, terisak, air mata membasahi pipinya, mengakui kebenaran pahit itu.
Troy datang, ia mendengar segalanya, matanya mengembun, air mata jatuh seperti tetesan embun. Ia berusaha mendekat dan menjelaskan segalanya, namun Shermie menarik tangannya menuju kamar, "Kita harus bicara berdua!" tegas Shermie.
"Shermie, sejak kapan kalian tahu?" Tanya Troy dengan mata penuh penyesalan.
"Itu bukanlah sesuatu yang penting untuk hal ini, jadi itu pekerjaanmu?" Tanya Shermie dengan hati yang hancur.