Salah satu bintang telah bersinar dengan indahnya dan menghilang dalam ledakan supernova. Namun, butuh waktu yang cukup lama sampai orang-orang tersadar salah satu bintang itu telah hilang dan hanya menyisakan lubang hitam.
Banyak orang yang menggantungkan harapannya pada langit penuh dengan kelap-kelip bintang, namun banyak yang tak menyadari ketika melihat bintang-bintang itu kita sedang melihat masa lalu dari bintang-bintang itu tanpa tahu keadaannya saat ini.
Vixton harus secepatnya kembali bangkit dari kesedihan. Ia berusaha menjadi Alex dan Vixton dalam hidupnya. Kenangan serta harapan yang Alex titipkan lewat buku hariannya memaksa Vixton untuk terbangun. Ia merupakan bagian diri yang lain dari Alex, yang membuat hatinya terus bersyukur adalah fakta walaupun tanpa ayah di sisinya, ibu, nenek, dan kakeknya sangat mencintainya.
Namun, kehilangan demi kehilangan mulai menjadi bagian hidupnya. Setelah melewati satu musim semenjak kematian Alex, Tuan Graham beristirahat dengan damai dalam tidur panjangnya di usianya yang ke-82 tahun. Musim gugur pun datang, Nyonya Luciana menyusul di usianya yang ke-79 tahun, seakan menyatakan cinta mereka tak terpisahkan oleh maut.
Kini Shermie dan Vixton saling mengasihi karena mereka hanya memiliki satu sama lain. Di dunia yang luas ini, Vixton hanya memiliki Shermie, Shermie hanya memiliki Vixton. Melakukan misa setiap minggu, berdoa setiap malam, mengurus perkebunan anggur, pergi sekolah; segalanya mereka lakukan bersama.
Sepulang dari sekolah, Vixton melihat sang ibu sedang menanam bunga mawar. Dengan jahil, Vixton mengendap-endap dan memeluk ibunya dari belakang.
"Mamah, hari ini kita jadi piknik?" Tanya Vixton yang sembari memeluk ibunya.
Shermie hanya mengangguk tersenyum. Musim semi mereka habiskan penuh tawa, musim gugur mereka membuat permen dan mengikuti festival bersama, melewati Natal yang hangat; segala musim mereka lewati dengan bahagia. Shermie dan Vixton berbagi kasih penuh suka cita, walaupun hanya berdua mereka saling menopang.
***
Musim dingin berganti dengan hangat ke musim panas, kehangatannya berlanjut ke musim semi seperti hati yang dipenuhi bunga yang mekar, namun batas kebahagiaan mulai terlihat dari ujung lorong gelap.
"Vixton, bisakah Mamah berbicara sesuatu?" Shermie bertanya dengan ragu.
"Ada apa, Mamah?" Vixton kembali bertanya.
"Sekarang umurmu tepat 12 tahun, Mamah ingin kau dekat dengan Papah juga. Apa kau bisa tinggal dengan Papah sementara? Esok hari Papah akan datang menjemputmu!"
"Mamah, akhir-akhir ini wajah Mamah selalu pucat, apa karena itu aku harus tinggal bersama orang itu?" Sorot mata Vixton seakan tahu apa yang Shermie hadapi.
Namun Shermie sangat terkesan anaknya sangat mengerti atas segala situasi, seakan Vixton dapat membaca isi hati seseorang.