Udara sekitar telah menjadi hangat, langit juga bersih seperti tak pernah melalui badai. Namun langkah Vixton tetap berat, seakan gravitasi bumi menariknya lebih erat, menahan tiap langkah yang ia ambil.
Kini ia menatap Alkitab dengan dingin, dan memandang salib sebelah mata, ia hanya membolak-balik halaman lalu menutupnya.
Ia yang telah membuang segala yang ada pada dirinya, saat anak itu memandang cermin, Siapakah dirimu? Ah, kau adalah Vixton! Ini semua adalah luka miliknya. Mari kita akhiri sekarang! Memakai setelan vest yang tertata dan membawa bunga mawar merah yang telah mengering.
Vixton melangkah membuka pintu kayu kamar besarnya, melewati lorong rumah luas dengan pajangan mahal, menuruni anak tangga dengan karpet merah, melewati jalan tanpa setapak penuh dengan ranting dan pohon yang terus tertiup angin dan menjatuhkan daunnya. Sampai akhirnya berdiri tepat di atas dermaga kecil dengan danau yang terbentang luas.
Vixton berlutut dan melipat tangannya, "Tuhan, apa Kau ada di sini? Ah, mana mungkin, kan? Aku domba yang sangat bodoh yang akan dijagal kapan saja. Kini Kau membiarkan domba-Mu tercabik dan terkoyak penuh luka. Jika Kau ada... Kau benar-benar konyol bermain dengan anak kecil tak berdaya. Ada atau tiada diri-Mu, saat ini sama sekali bukan urusanku!"
Vixton melihat air danau. Hatinya diliputi rasa yang sangat aneh. Pada tiga belas Januari 2019 Ia menetapkan hari itu sebagai hari terakhirnya berada di dunia, namun saat melihat kematian yang sangat dekat di depan matanya, hatinya gemetar, tulang yang menopang kakinya meleleh hingga ia terduduk lemas.
Hujan turun menyatu dengan air mata di pipinya. Semakin lebat dan gelap, suara burung gagak terdengar nyaring di telinga, gemuruh dan guntur mengamuk di atas langit.
Saat terduduk, seorang anak laki-laki kembali muncul di hadapan Vixton, entah dari mana.
"Apa kau takut?" Tanyanya sambil berlutut.
"Kau datang lagi? Apakah ini mimpi?" Tanya Vixton.
"Sudah kubilang aku adalah dirimu, kan? Tak ada lagi yang tersisa. Aku hanya ingin pergi. Kau dan aku bukanlah diri kita yang dulu lagi. Apa kau tidak lelah?"
"Aku sangat lelah, tapi melihat maut di depan mata, terasa sangat dingin dan gelap, sedikit membuat hatiku goyah! Tetapi jika tak diputus, rantai kegelapan akan terus mengekang!"
Vixton berdiri, mulai menapaki dermaga papan kayu yang agak goyang itu. Sedikit demi sedikit ia melangkah menuju ujung. Kakinya yang bergetar kini melangkah dengan ringan. Ia melihat pantulan wajahnya dari dalam air, seakan menariknya untuk masuk dan mengakhiri segalanya.
Membalikkan badannya dari arah danau, meletakkan bunga mawar kering yang ia bawa, ia memandang langit sendu, membentangkan kedua tangannya, "Selamat tinggal diriku!" Kata terakhirnya sebelum menceburkan diri ke dalam air.