Pancarona

Ryan Setyawan
Chapter #17

BAB XVI: Rona Menuju Petang

      Setiap musim menampilkan warnanya sendiri. Tanpa semua itu, dunia akan terasa abu-abu di balik hitam atau putih, bahkan kemenangan tanpa batas akan membosankan. Itulah kekalahan sejati: hidup yang membosankan, tanpa risiko, tanpa pertaruhan.

           Setelah membaca surat itu, Elaric memerintahkan sopir yang mengantar mereka untuk mengikuti alamat yang ada di surat. Seorang ibu mampu membayar waktu mereka yang mahal dengan kasih dan ketulusannya.

Sampailah mereka di rumah sakit. Mereka berdua menyamar dengan sangat rapat, mengikuti arahan yang ada di surat, mereka menuju ruang 1301. Sesampainya mereka, ibu pengantar surat menarik mereka ke dalam ruang rawat anaknya.

           Wanita itu tahu, kedua orang di hadapannya adalah Vixton dan Elaric. Anaknya masih tertidur lelap. Tak tahu harus apa, wanita itu segera membungkuk. Saat hendak berlutut, Elaric menahannya. Sedari tadi wanita itu tak berbicara apa pun.

           Vixton menyadarinya. Saat merogoh tas untuk mengambil buku dan pena, Elaric terlebih dahulu menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Vixton hanya tersenyum melihatnya. Ibu itu membalas mereka hangat dengan keterbatasannya.

           Anak Ibu itu membuka matanya. Ia sangat terkejut melihat dua Idolanya berada di hadapannya. Tak kuasa ia menangis haru, tak percaya dengan yang ia lihat. Wajah merahnya tak terkontrol.

           "Halo, apa namamu Siska?" Tanya Elaric manis.

           "Ya, Kak! Apa ini mimpi?" Tanya Siska.

           "Kau tak bermimpi, peganglah tangan kami!" Elaric mengulurkan tangannya dan menarik tangan Vixton agar terulur juga.

           "Bagaimana kalian bisa berada di sini? Apa aku berada di surga?"

           "Bacalah!" Elaric memberi surat yang ibu itu berikan.

           "Bagaimana surat ini bisa sampai pada kalian? Bahkan aku yang mengirim ribuan surat mungkin tak sampai pada kalian!"

           Elaric menjelaskan, seorang wanita paruh baya yang bisu rela berdesakan di tengah hadangan banyak orang lainnya. Bahkan ia mampu menghadang keamanan. Kesempatannya sangat kecil untuk dapat sampai pada mereka di tengah arus manusia yang sesak. Cinta dan harapan yang membawanya pada kami.

           "Kami hanya mampu menjadi penyemangatmu dari kejauhan," jawab Vixton.

           "Tapi ibumu, menyemangatimu bahkan mengawasimu dari dekat dengan kasihnya. Kau sangat beruntung, ya!" Lanjut Elaric.

           Seketika tangis gadis remaja itu pecah. Melihat itu, ibunya datang tergesa-gesa. Gadis itu segera memeluk ibunya.

           "Ibu, maafin Siska karena Siska benci Ibu! Siska pantas mati karena penyakit ini!"

Lihat selengkapnya