Pancasila yang Hilang Arah

Sutan Azis
Chapter #1

IDEOLOGI TAILOR-MADE

Pakaian yang Dijahit Khusus

Sebuah pakaian yang dirancang melalui proses tailor-made dibuat dengan mengukur setiap lekuk, tinggi, dan proporsi tubuh pemakainya secara presisi. Pakaian seperti ini tidak dirancang untuk dipasangkan ke tubuh orang lain. Sebaliknya, sang pemakai pun tidak akan pernah merasa nyaman jika dipaksa mengenakan pakaian berukuran standar hasil produksi massal industri. Jika ukuran tubuh terlalu besar sementara pakaian yang disediakan terlalu sempit, jahitan akan robek. Sebaliknya, jika pakaian terlalu longgar, pemakainya akan tenggelam dalam lipatan kain yang canggung.

Analogi ini berlaku sepenuhnya bagi konstruksi tata negara. Ideologi adalah gagasan dasar yang berfungsi sebagai pakaian sosial, politik, dan filsafat bagi suatu bangsa. Dalam sejarah pasca-Kolonialisme, banyak negara berkembang terjebak dalam kecenderungan untuk mengadopsi ideologi "jadi" yang diimpor langsung dari pusat-pusat peradaban dunia—baik itu sistem liberalisme-kapitalisme Barat yang mengagungkan kedaulatan individu, maupun sosialisme-komunisme Timur yang meleburkan otonomi manusia ke dalam kontrol mutlak negara.

Para pendiri bangsa ini menyadari bahwa mengimpor mentah-mentah doktrin dari luar ibarat memaksakan pakaian milik orang lain ke tubuh bangsa yang memiliki anatomi sosiologis unik. Dalam kerangka pemikiran filsuf hukum Friedrich Carl von Savigny, hukum dan nilai fundamental suatu masyarakat haruslah memancar dari Volksgeist¹—jiwa bangsa itu sendiri. Indonesia tidak bisa diukur dengan skala Barat maupun Timur. Negeri ini membutuhkan sebuah sistem gagasan yang dirancang khusus, dijahit dari helai demi helai tradisi lokal, dan disesuaikan secara presisi dengan proporsi kebhinekaan masyarakatnya. Gagasan khusus itulah yang kita kenal sebagai Pancasila.

Anatomi Kebhinekaan: Realitas yang Melahirkan Pancasila

Untuk memahami mengapa Pancasila dirancang sedemikian rupa, kita harus membedah kembali anatomi dasar masyarakat Nusantara. Indonesia bukanlah bangsa yang lahir dari homogenitas etnis, bahasa, atau agama layaknya nation-state² di Eropa. Negeri ini adalah bentangan kepulauan raksasa dengan ribuan pulau, ratusan suku bangsa, serta ragam bahasa daerah dan sistem kepercayaan yang telah mengakar selama berabad-abad.

Keunikan sosiologis Indonesia terletak pada ketiadaan etnis mayoritas tunggal yang mendominasi secara absolut hingga mampu memaksakan hegemoninya³ tanpa perlawanan. Struktur demografis dan geografis ini menciptakan lanskap sosial yang sangat peka. Di satu sisi, keanekaragaman ini merupakan modal kebudayaan yang kaya. Namun di sisi lain, potensi fragmentasi⁴ senantiasa mengintai di balik permukaan.

Dalam kondisi masyarakat yang sangat terfragmentasi, memaksakan ideologi berbasis satu identitas partikular⁵—baik berbasis satu etnisitas maupun satu agama tertentu—sama saja dengan menanam benih disintegrasi sejak hari pertama negara berdiri. Jika satu kelompok memaksakan doktrinnya, kelompok lain akan merasa teralienasi⁶ dan terdorong untuk memisahkan diri. Para perumus negara menyadari betul ancaman eksistensial ini: tanpa adanya platform bersama yang melampaui sekat sektarian, proyek politik bernama "Indonesia" akan bubar sebelum sempat tumbuh dewasa.

Lihat selengkapnya