Kesadaran Sejarah: Mahakarya yang Melampaui Zaman
Setelah menempuh perjalanan panjang membedah anatomi sejarah, membongkar simulakra kebangsaan, dan menguliti luka struktural pada sistem ekonomi-politik kita, tibalah saatnya kita mengambil jeda untuk merenung. Rangkaian kritik yang membentang dari kalimat pertama dalam buku ini bukanlah sebuah elegi keputusasaan, apalagi sebuah deklarasi kebencian terhadap negara. Sebaliknya, seluruh telaah kritis tersebut digerakkan oleh satu motif yang paling murni: cinta tanah air yang menolak untuk membebek pada kepalsuan.
Buku ini bermula dari sebuah tesis fundamental yang kini telah kita buktikan bersama: Pancasila, sebagai sebuah sistem filsafat dan fondasi moral, tidak pernah gagal. Desain gagasan yang dirumuskan melalui pergulatan batin para pendiri bangsa pada tahun 1945 itu adalah sebuah mahakarya kebudayaan yang melampaui zamannya. Ia dirancang secara sangat presisi (tailor-made) untuk menjawab kompleksitas sosiologis Indonesia yang tak tertandingi oleh bangsa mana pun di dunia.
Pancasila telah menyediakan segala peranti etis yang kita butuhkan untuk menjadi peradaban yang agung. Ia menawarkan spiritualitas yang membebaskan, kemanusiaan yang beradab, persatuan yang merangkul keberagaman, demokrasi yang berlandaskan hikmat kebijaksanaan, serta sistem ekonomi yang bertujuan mengakhiri penindasan manusia atas manusia. Jika hari ini kita merasakan keterasingan di dalam rumah kita sendiri, jika kita melihat jurang ketimpangan yang semakin menganga dan hukum yang semakin kehilangan nuraninya, maka kesalahan itu sama sekali tidak terletak pada keabsahan ideologinya. Kesalahan itu murni bersumber pada pengkhianatan dalam eksekusinya.
Kompas di Tangan Nahkoda yang Salah
Mari kita menggunakan sebuah metafora sederhana. Bayangkan sebuah kapal raksasa yang berlayar melintasi samudra yang gelap dan penuh badai. Di ruang kemudi, terdapat sebuah kompas navigasi berakurasi tinggi yang dirancang khusus untuk memandu kapal tersebut menghindari karang dan pusaran air yang mematikan. Namun, di tengah perjalanan, kapal itu tersesat jauh dari jalur tujuannya. Penumpangnya kelaparan, lambung kapalnya bocor karena menabrak karang, dan kepanikan melanda setiap geladak.
Dalam situasi tragis seperti itu, apakah rasional jika kita menyalahkan kompasnya dan membuangnya ke laut? Tentu tidak. Kompas itu tidak pernah berbohong; jarumnya selalu setia menunjuk ke arah utara moralitas. Kapal itu tersesat semata-mata karena sang nahkoda tidak memiliki kecakapan untuk membaca kompas tersebut, atau lebih buruk lagi, sang nahkoda sengaja mengabaikan arah yang ditunjukkan kompas karena ia telah disuap oleh perompak untuk mengarahkan kapal ke pelabuhan yang salah.