Panggil Namaku Sekali Saja, Ibu

Oleh: Astri Rahmah Aulia

Blurb

Panggil Namaku Sekali Saja, Ibu
Ia lahir pada sebuah hari yang seharusnya menjadi awal kehidupan, tetapi justru menjadi awal dari sebuah kehilangan.
Saat masih bayi dan belum mampu mengenal dunia, sebuah kecelakaan merenggut nyawa Ayahnya. Ia selamat dari kecelakaan itu, tetapi sejak hari tersebut, kehadirannya seakan selalu menjadi pengingat bagi Ibu tentang kehilangan suaminya.
Bertahun-tahun kemudian, ia tumbuh dengan sebuah pertanyaan yang tidak pernah berani ia tanyakan secara langsung: apakah Ibu benar-benar membencinya, atau hanya membenci luka yang selalu hadir bersamanya?
Setiap tatapan dingin, setiap panggilan tanpa kelembutan, dan setiap jarak yang tercipta membuatnya semakin percaya bahwa dirinya hanyalah bagian dari tragedi yang menghancurkan kehidupan Ibu.
Padahal ia tidak pernah memilih untuk berada di dalam mobil itu.
Ia tidak pernah meminta Ayah pergi untuk selamanya.
Ia bahkan belum mampu memahami apa arti kehilangan ketika semua itu terjadi.
Namun, bagaimana seorang anak bisa meyakinkan dirinya bahwa ia pantas dicintai ketika orang yang paling ingin ia dengar kasih sayangnya justru menjadi orang yang paling jauh darinya?
Di sepanjang hidupnya, ia tidak meminta banyak.
Ia hanya ingin mendengar namanya dipanggil oleh Ibu—bukan sebagai pengingat akan seseorang yang telah pergi, melainkan sebagai panggilan seorang ibu kepada anak yang masih tinggal.

Lihat selengkapnya