Berharap hadirku mampu menerbitkan lengkungan sabit di pipimu.
Namun, ternyata hadirku justru membawa kesedihan—seolah-olah keberadaanku menjadi bab paling pilu dalam hidupmu, bab yang setiap kali kau ingat kembali, selalu membuat luka itu terbuka.
Aku lahir bersama sebuah tragedi.
Saat itu, Ibu masih dalam masa pemulihan. Aku bahkan belum mengenal dunia. Aku masih seorang bayi yang baru lahir ketika Ayah membawaku bersamanya. Aku ditempatkan di baby chair di dalam mobil, tanpa tahu bahwa perjalanan itu akan menjadi awal dari sebuah kehilangan yang akan mengubah hidup kami selamanya.
Mobil yang dikendarai Ayah kehilangan kendali.
Kecelakaan itu hampir merenggut nyawaku.
Namun, Tuhan memilih takdir yang berbeda.
Nyawaku masih disisakan, tetapi Ayah pergi untuk selamanya.
Sejak hari itu, mungkin kehadiranku selalu mengingatkan Ibu pada kepergian Ayah. Mungkin setiap kali melihatku, yang Ibu lihat bukanlah seorang anak yang tidak tahu apa-apa, melainkan hari ketika suamimu pergi dan tak pernah kembali.
Dan mungkin, jauh di dalam batin Ibu, pernah terlintas sebuah pertanyaan yang begitu berat:
“Mengapa bukan aku saja yang diambil Tuhan?”