Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #1

Sebab Upah Dosa adalah Maut

Semula perempuan itu tahu betul bahwa upah dosa adalah maut. Namun, pada suatu malam ketika semesta akan beranjak larut, sebuah ketukan dari balik pintu rumahnya mengubah segalanya dan membutakan matanya akan dosa dan maut. 

Malam itu, ia membukakan pintu rumahnya dan mendapati lelaki penyembah rembulan itu berdiri di ambang pintu dan rupanya seperti arjuna—begitu tampan dan menawan. Lantas ia jatuh cinta tanpa ampun. Tanpa ampun! Itu sebab, ia senang-senang saja ketika lelaki penyembah rembulan itu mengajaknya berjalan berdua di bawah bulan, menikmati ledakan-ledakan dalam dadanya untuk kemudian menumpasnya bersama-sama di setiap malam-malam panjang mereka—walaupun ia tahu perayaan malam panjang itu adalah dosa yang paling hina dan berbahaya, bahkan terkutuk.

Ada waktu-waktu tertentu ia menjadi resah akan perbuatannya, tetapi peristiwa inilah yang kemudian mendamaikan hatinya: sekali telah ia lewati waktu paling bergolak, petani atau hanya seorang pencari kayu di hutan pun bisa mengambil keuntungan dari kesengsaraan orang dan bahkan dengan pertumpahan darah, seperti ketika ia mendapati ayahnya mati di pinggir sungai Bah Bolon, sementara dagangan dan sepeda motor tua sang ayah raib yang sampai hari ini tidak ditemukan.

Perempuan itu belakangan malah mulai mereka-reka pembenaran akan tindakannya dan hal inilah yang ia yakini: ia serupa bidadari yang menyelamatkan lelaki penyembah rembulan itu dari kehausan birahi. Seperti makan, ia percaya birahi adalah santapan utama yang menjadikan seorang lelaki benar-benar menjadi manusia dan ia menyempurnakannya untuk lelaki tersebut. Walaupun ia tahu lelaki itu sudah beristri, cantik dan pintar pula, ia tidak gentar, sebab ada hal—selain birahi yang ia punya—yang tidak akan pernah dimiliki perempuan malang itu. 

Hal inilah yang menyempurnakannya menjadi seorang bidadari: di dalam perutnya tengah berdiam dengan damai seorang anak yang kelak akan membukakan pintu surga untuknya dan untuk si ayah yang tidak lain adalah si lelaki penyembah rembulan sehingga keduanya akan menjadi penghuni surga hingga menua bersama. Setiap mengenang ini, mekarlah hatinya. Namun sejak malam purnama kali itu, perempuan itu akan mendapati dirinya adalah perempuan paling tolol di seluruh dunia. Sepanjang sisa hidupnya, ia menyesali diri dan tidak akan pernah bisa memaafkan si lelaki penyembah rembulan pun dirinya sendiri. Sejak malam itu, ia kerap duduk di sudut kamarnya seraya tersedu. Ia takut menghadapi mata setiap penghuni desa yang menghakimi, menuding, dan mengejeknya sebagai perempuan paling tolol di dunia.

Ia berpikir untuk sekalian saja terjun ke sungai dan mengakhiri semuanya dengan praktis, tetapi ia terlanjur merasakan gerakan dalam perutnya dan mengurungkan niatnya walaupun tidak sepenuhnya bertahan—ia tetap berkubang dalam keterpurukan dan rasa bersalah. 

Dalam bayang-bayang rasa bersalah, barangkali waktu adalah lambang keangkuhan yang enggan memihak. Perutnya terus saja membesar dan cibiran menghujaninya tak henti-henti. Ia tak habis pikir akan serupa apa kelahiran si cabang bayi, sebab tidak ada orang lain yang dapat membantunya selain istri si lelaki penyembah rembulan. Ketika ia akan melahirkan anak tersebut, ia tidak punya pilihan selain meminta tolong kepada istri si lelaki penyembah rembulan, sebab itulah memang pekerjaan perempuan tersebut; menolong tiap-tiap perempuan yang akan melahirkan di desanya. Ia melangkah menuju rumah pasangan suami istri itu dan berlagak ia datang tanpa ada ikatan apa pun dengan seluruh penghuni rumah, bahkan seolah belum pernah sekadar bercakap-cakap dengan mereka, satu pun.

Lihat selengkapnya