Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #2

Kutukan, Cinta, dan Kesunyian

Mereka bilang aku gila. Katanya, aku menenung gadis-gadis di desa ini. Tuduhan paling keji yang pernah kudengar. Tuhan tahu persis apa yang kulakukan, meski Ibu sendiri tak bisa memahami langkah-langkahku. Bagi Ibu, mungkin aku hanya teka-teki yang tak kunjung terpecahkan. Aku memang tidak ingin membuat gadis-gadis patah hati dan Ibu mungkin lupa pernah menasihati pantang bagi lelaki membuat perempuan menangis. Namun, aku tidak akan pernah lupa semenjak Ibu menasihatiku demikian, aku berpikir Tuhan akan segera membunuhku jika membiarkan perempuan menangis.

Mari kuceritakan petaka yang menimpaku. Di sebuah senja yang cerah dengan sandikala yang merona pada wajah ranum perempuan berwajah mungil dan bertubuh serupa gitar Spanyol itu, aku tenggelam. Hari itu—seperti perempuan-perempuan lain—Rara, demikian nama perempuan itu, datang kepadaku dengan tangis. Aku memohon agar ia diam. Lantas ia merengek kujadikan kekasih. Semacam lelucon, tetapi lelaki mana yang tidak luluh jika dihadapkan dengan perempuan manis, pandai merayu pula? 

Matanya yang bulat penuh memantulkan bayangan Lindsay, Ashehly, Keiko, Marychan, Emijie, dan Panise. Aku tertegun: Apa Tuhan memang hanya mengutus seorang lelaki untuk perempuan-perempuan cantik ini? Dan jika itu aku, biarlah kiranya aku dimampukan. Bukankah seorang lelaki pantang kalah oleh apa pun?

Dua hari sebelumnya—ketika aku turun dari taksi yang membawaku kembali ke desa ini, di antara kerumunan orang-orang—mungkin semacam penyambutan bagi mereka ketika para anak rantau kembali ke desa, yang dielukan bagai raja, sebab bisa keluar dari desa itu hanya bisa dilakukan orang-orang hebat. 

Seorang perempuan bermata teduh terdorong ke depan.

“Aw!” pekiknya panik sesaat sebelum ia limbung. Aku menangkap tubuhnya, terbiasa bermain judo dan karate memudahkan gerakanku. Tangan kiriku melingkar sempurna di pinggangnya yang ramping dan tangan kananku menahan kepalanya. Kurasakan halus rambutnya dan … ampun! Rambutnya wangi sekali. Kupikir aroma itu juga keluar dari seluruh tubuhnya. Bibirnya tersenyum seperti busur yang siap melesat. Tapi seorang lelaki harus selalu memperlakukan perempuan dengan hormat. Dengan hati-hati kubimbing dia berdiri kembali. Membenarkan gerai rambutnya yang tidak beraturan dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Kulayangkan senyumanku sekilas dan berpesan agar ia lebih berhati-hati. Ketika aku beranjak, kerumunan itu sedikit riuh dan wanita itu terpaku bergeming. Dua hari berturut-turut pula Ibu sibuk menceritakan perempuan itu. 

“Ia putri Pak Kades, Gora! Baru ditempatkan jadi dokter di desa ini! Kau tahu, orang-orang memperbincangkan kalian berdua. Ia bahkan menanyakan namamu kepada Ibu—”

“Heleh! Jangan jual mahal, Bang. Udah langsung bicarakan mahar saja!” kata Boy, adik angkatku.

Seperti yang kuduga, Rara semakin sering bermain ke rumah. Kuputuskan saja menghindar. Aku takut jika ia sampai jatuh cinta kepadaku, cinta-cinta yang lain akan berdatangan dan aku bisa mati oleh karena perempuan. Itu klise sekali, bukan? Tapi percayalah itu melelahkan. 

Aku memilih memancing di Sungai Bah Bolon. Tidak perlu waktu yang lama untuk menaklukkan ikan-ikan dengan umpan yang kusediakan dan sebelum sandikala merona sempurna, emberku penuh dengan ikan hasil tangkapan. Ah, aku bersorak bahagia. Sudah lama aku tidak merasakan bahagia tanpa rasa takut. Biasanya, bahagiaku selalu menakutkan. Kau tahu, apa pun yang kuinginkan selalu bisa kudapatkan. Bahkan, melebihi yang bisa kau bayangkan. 

Sekali, aku mengenal Panise. Perempuan Indonesia yang belajar di Harvard. Aku si anak udik yang selalu bermimpi akan kuliah dengan biaya pemerintah ini pun jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sialnya, aku salah meminta. Di doaku aku berucap, “Aku menginginkan perempuan itu dan merasakan cinta yang tidak akan pernah habis.” Tuhan itu baik, memberikan Panise untukku. Namun, cinta yang tidak pernah habis itu berdatangan dari perempuan-perempuan di sekitarku. Bahkan, mereka memilih tinggal bersamaku. Bersama-sama. 

Lihat selengkapnya