Seorang perempuan tua, kurus, berambut kusut tidak terurus, berkaus lusuh, dan bermata sayu adalah tamu paling menjengkelkan sejak aku tiba di desa. Sudah dua kali ia bertandang hari ini. Datang semaunya dan berlama-lama pula. Rara dan Biru tengah asyik bercengkrama dan seperti yang kau tahu, pantang bagiku mengganggu kesenangan perempuan. Jam dinding masih di angka sepuluh dan perempuan itu kembali muncul di ambang pintu. Untuk yang ketiga kalinya, aku menyambutnya dengan wajah yang kumanis-maniskan.
Kusambut dia demi menanam kesan baik di mata setiap orang. Apalagi setelah orang-orang di lapo mengataiku penenung perempuan. Alangkah picik pemikiran semacam itu dan sayangnya Pak Kades, yang paling mampu memimpin desa ini malah mengasah rumor yang sedemikian picisan itu.
“Ibu belum pulang, Nek!” kataku.
“Itu sebab aku kembali,” jawabnya. Anehnya logatnya kini jauh berbeda. Pada kunjungannya yang pertama—tepat sesaat selepas Ibu berangkat ke pasar—perempuan tua ini tampak sangat ramah.
Ah, bukankah orang-orang desa memang suka beramah-ramah ria walaupun hampir tidak bisa dibedakan dengan basa-basi? Ia menungguku yang asyik bekerja di depan laptop. Sialnya, ia menyeruput habis bandrek di dalam gelasku dan tersenyum-senyum sendiri. Berbeda pada kunjungan kedua, ia lebih banyak diam dan menatap wajahku. Persis seperti ahli tenung.
Aku berusaha seramah mungkin, sebab tidak baik melayani perempuan tua dengan sikap yang merendahkan. Ketika aku menyuguhkan segelas bandrek buatan Ibu, ia pulang begitu saja, tanpa kata pun pamit pada kedatangannya yang pertama. Namun, ia kini tengah mematung di hadapanku dengan mata sayu yang sangat mengibakan. Gurat-guratan di wajahnya tampak lebih berkerut dari yang kuamati kira-kira sejam yang lalu. Lantas ia mengangguk-angguk dan kupikir ia mulai aneh.
“Sudah saatnya kau tahu sebuah rahasia dari masa lalu, Panggora!”
“Apa, Nek?” tanyaku heran.
“Akan menjadi sebuah petaka jika kau mengetahui kebenaran ini terlalu lama dan jika aku mati, aku akan dihantui rasa bersalah.” Begitulah ia membuka kata-katanya.
Bibirku mengumpul di depan sembari tanganku menutup laptop yang baru saja kupadamkan. Lelucon semacam ini harus kuhadapi—dilema dari sebuah pulang kampung—menghadapi perempuan serupa dukun tua yang gila.
“Ha-ha-ha! Kau mengira aku gila?” katanya duduk tepat di hadapanku. “Akan kuberitahu kau sebuah rahasia: tentang seorang lelaki yang menyembah bulan. Aku tak peduli bagaimana orang-orang mengagungkannya dengan kemeja batik bergambar garuda di dadanya itu, tetapi yang harus kau tahu, ketika bulan penuh, ia pernah menuliskan namamu di dinding langit-langit kamarnya berdua bersama Ibumu!”
Sampai di situ, aku menganggap perempuan tua ini benar-benar menjengkelkan. Anggap saja ia mungkin merindukan anak-anaknya, atau cucunya, atau semacamnya dan mengira ia bertanggung jawab harus membacakan dongeng untuk mereka. Bisa saja ia tengah menganggapku sebagai cucu yang imut dan lucu. Sialan. Namun, jika dongengnya mengusung dan mengkambinghitamkan nama Ibu, maka orang semacam ini—tak peduli ia sudah begitu tua dan jika sungguhan gila sekalipun, maka aku harus segera menyelesaikannya. Kutarik napas panjang dan menatapnya lurus.
“Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?” tanyaku mencoba menyadarkannya.
“Aku tidak akan lupa hari itu, dan sembilan bulan kemudian, tepat di minggu pertama penghujung tahun, kau lahir ketika waktu selingkuh di antara senja dan malam, dengan hujan deras, dan tepat sesaat setelah Ibumu memohon agar aku menolongnya. Aku bisa saja membalaskan dendamku saat itu. Namun, aku juga perempuan, pantang bagiku membunuh anakku sendiri. Ha-ha-ha! Uhuk … uh,” Ia terbatuk. Sepertinya ia lelah mengisahkan dongengnya yang ngelantur itu. Di mataku, ia makin menjengkelkan saja. Tertawa-tawa pula. Namun, demi nama Ibu yang dibawa-bawa sebagai cameo dongengnya, kulayangkan tanya semacam tantangan. Orang sinting juga harus kita buat jera, bukan?