Tuhan itu penyuka jenaka: sejenak mengangkat lantas sejurus kemudian menjatuhkan, menginjak, dan menghukum bertubi-tubi hingga berdarah-darah. Begitulah yang perempuan tua itu yakini. Namun, itu kata Ibu, tidak denganku. Maksudku, bisa saja Ibu mengada-ngada. Bukan tidak mempercayai Ibu apalagi durhaka, aku hanya atau soalah-olah tahu ada dendam yang kuat yang perempuan tua itu pikul di pundaknya. Besar pula. Sangat besar! Rahasia yang selalu ingin Ibu bunuh. Dan jika itu terjadi, ibuku tidak melakukan dosa, tetapi menyelamatkan! Menyelamatkan aku.
Adakah abdi yang lebih besar dari pengorbanan nyawa seorang Ibu demi anak-anaknya?
Pikirku, beginilah si perempuan tua itu melewati hari-harinya: dendam sebesar itu ia pikul setiap hari, mungkin kadang ia gendong atau ketika ia lelah, malah dendam itulah yang melekatkan diri kepadanya—melilitnya seperti ular raksasa yang melilit tubuh tuannya. Namun, dendam bukanlah peliharaan—tidak akan memberikan kebaikan kepada siapapun. Tidak terkecuali kepada perempuan tua dengan pakaian lusuh bermata sayu yang sangat mengibakan itu.
Tuhan itu penuh ledakan-ledakan keajaiban. Subjektivitas yang magis dan agung. Kau tidak bisa membayangkan bagaimana perempuan pemikul dendam itu bisa melewati hari-harinya sampai sepuh begitu, bukan? Memelihara dua nyawa dalam dadanya yang lelah, nyatanya tak sekalipun membuatnya jatuh sakit.
Konon, dahulu ia mempunyai seorang suami yang bertampang budiman, santun, dan arif. Lelaki dari seberang yang datang dengan perahu dan berpakaian batik dengan lambang garuda di dadanya. Perempuan tua itu dulu mempunyai mata yang paling indah di dunia dan senang menggeraikan rambut hitamnya yang berkilau di bawah sinar matahari. Gemar bersenandung dan merdu pula. Terkabarlah kemolekan dan kemerduan suara itu kepada si lelaki yang datang dari seberang.
Lantas, ia bertandang dan bercakap-cakap dengan bapak si perempuan di ruang tamunya. Kemudian Nauli, demikian nama perempuan yang memiliki mata paling cantik di dunia itu pun merengek-rengek minta dikawinkan dengan si lelaki dari seberang tersebut. Seluruh desa menyukainya, bahkan anak-anak perawan di desa diam-diam berharap merekalah yang menjadi Nauli. Dua tahun menikah, mereka tak kunjung dikaruniai anak. Para tetua desa mulai memberi petuah. Namun, Tuhan sudah terlebih dahulu mengilhami si lelaki dari seberang dengan mimpi.
Beginilah lelaki budiman itu bertutur: Tuhan akan menyempurnakan misi penciptaan atas diriku jika kalian mengukuhkanku menjadi kepala desa. Desa ini akan semakin makmur dan istri-istri akan melahirkan lebih banyak anak untuk mengubah peradaban dan aku akan memiliki banyak anak, banyak rejeki, dan desa ini akan maju. Maju! Tetua kampung termasuk kepala desa saat itu tercenung-cenung keheranan: belum ada orang yang sudah memimpikan jawaban sebuah petuah sebelum dinyatakan. Belum pernah kejadian!
Selama tujuh purnama tetua-tetua kampung itu berembuk. Memperkarakan kebenaran kata-kata si lelaki dari seberang dan keagungan petuah mereka. Mereka menyimpulkan: desa ini memang membutuhkan pembaruan. Pembaruan pemimpin pun penerus. Ini titah! Demikian si lelaki dari seberang mendapat julukan baru: Pak Kades. Namun, ia tak pernah menjadi bapak atas anak yang Nauli lahirkan sebab perempuan itu mandul. Lelaki itu berkata Tuhanlah yang mengatakan demikian kepadanya lewat mimpi dan memintanya mencari istri baru. Semenjak hari itu mata Nauli menjadi sayu.
***
Ibu adalah perempuan pendiam yang sangat pemalu. Belum pernah ia membukakan pintu untuk pemuda yang datang bertandang sampai ia berumur lima belas. Namun kala itu, ketika waktu memeluk gelap dengan sempurna, Pak Kades datang menemuinya. Dengan salamnya yang pertama, daun pintu rumah Ibu terbuka lebar dan Ibu tergopoh malu-malu menyambutnya.
Pak Kades mengucap sapa dan menatap Ibu lembut.
“Bapak dari mana malam-malam begini?” Seketika Ibu menjadi begitu ramah dan senang basa-basi.