Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #5

Pemuja Rembulan Tak Mati Dua Kali

Seorang lelaki tidak mati dua kali dan tidak lantas akan luput dari petaka pula. Lelaki budiman pun bajingan kroco tetap akan menjadi debu tanah. Namun, baginya itu bukan perkara sulit. Pikirnya, selama hidup pikirkanlah kesenangan. Bukankah hidup sudah begitu menyakitkan?

Kenyataannya lelaki itu hanyalah seorang bajingan kroco dan di kedua bola mata dan mulutnya ia memelihara seekor ular. Berbisa pula. Beginilah ia mewarisinya: kakeknya adalah nelayan tua yang hidup di rumah kardus di daerah pesisir dan termasuklah ia dalam hitungan orang-orang paling terlantar yang sangat mengibakan. Sementara Ibunya hanyalah perempuan pendulang emas yang selalu dikalahkan mesin-mesin yang serupa makhluk aneh—menyingkirkannya dari pekerjaannya dan ia menyerah kepada nasib dengan melacurkan diri di sudut-sudut remang. Sekali waktu, jauh sebelum ia lahir, Ibunya tidak pulang hingga mentari meninggi. 

Untuk pertama kalinya si kakek tua mencarinya sebab dari semula kakek tersebut lelah menunggui anak semata wayangnya itu di ambang pintu rumah mereka yang sebenarnya hanya terbuat dari kardus dan seng-seng bekas hingga larut memilih pergi menyisakan dini hari yang menusuk. Dan biasanya, di kala seperti itu lah ia muncul. Seperti hantu dan tanpa salam pula. Namun, kala itu matahari sudah meninggi dan belum pernah ia kembali begitu lama. Dada lelaki tua bergemuruh resah. Maka berjalanlah ia di sepanjang pesisir pantai dan kolong jembatan tua yang sudah tidak difungsikan sebagaimana mestinya. Tempat ini adalah bagian terburuk dari pinggiran kota itu–gelandangan dan sampah berserakan di pingiran jalan. Lalat beterbangan meriuhkan suasana yang mengenaskan itu.

Tepat di mulut jembatan, seorang bajingan kroco berjalan dengan tubuh yang nyaris limbung, melewati si lelaki tua, dan melangkah dengan batang-batang kaki yang goyah menjauhi lorong. Tertawa-tawa. Maka, segeralah lelaki tua itu berlari menembus kegelapan lorong dan dengan langkahnya yang goyah ia menemukan putrinya tengah terduduk di atas karton-karton cokelat yang disusun begitu mengibakan. Tersedu. 

“Ayo, pulang, Anakku,” kata si lelaki tua begitu lirih.

Sang putri mengusap air mata dengan punggung tangannya, berdiri, dan membetulkan pakaiannya yang tak beraturan. Begitulah ayah dan anak itu berjalan beriringan tanpa suara. Saling berperang dengan jalan-jalan pikirannya. Namun, sama-sama terseok dan menunduk.  Semenjak hari itu sang putri sering menangis dan mengomel sendiri. Belakangan perutnya malah membesar dan tambah pulalah kebiasaan sang putri: memukul-mukul perutnya. 

Sering omelannya berbunyi begini: Dasar bajingan kroco! Beraninya kau bersemayam di perutku. Keluar kau! Keluar kataku! Kupukul kau. Matilah kau bajingan kroco! 

Seorang nelayan yang selalu pulang tanpa tangkapan, mengaku-ngaku sebagai dukun mengunjungi si kakek tua.

“Putrimu bisa gila. Obatilah dia!”

“Bagaimana?”

Maka si nelayan yang selalu pulang tanpa tangkapan itu pun melakukan ritual di dalam rumah kardus itu. Demikianlah ramalannya—yang diucapkannya setelah mengunyah sirihnya. Katanya, “akan lahir seorang anak lelaki dari rahim si Mega dan akan hidup di dalam kemelaratan. Gunaku adalah membuat itu tidak terjadi. Maka ia akan kuberikan dua penjaga. Satu di mulutnya agar ia pandai berbicara dan satu lagi di matanya agar ia bisa menenung siapa saja. Dengan demikian ia tidak akan melarat.” Maka ketika rembulan penuh dan malam begitu menusuk, lahirlah si lelaki yang menyembah rembulan. Dan sang Ibu meninggal selepas itu.

Semenjak hari itu pula si kakek tua tidak pernah lagi berbicara kepada siapapun termasuk kepada cucunya yang baru lahir tersebut. Begitulah kisah yang bisa Ibu ceritakan sore ini. Ia lantas bergegas tergesa menuju dapur. Menyembunyikan kesedihannya.

“Lantas siapa yang mengajari ayahku berbicara jika kakek sudah tidak mengucapkan apa-apa semenjak ia lahir?” pancingku. Namun, perempuan adalah orang yang berhati batu jika ia sudah tak berminat.

“Ibu, aku hanya ingin tahu dari mana keanehan ini kuterima dari kacamata Ibu. Aku tidak mempersoalkan kelahiran ayahku seperti apa!”

Lihat selengkapnya