Lelaki itu sadar betul seorang pejuang terbaik tidak lagi berkelahi. Telah puas ia menggorok pun menebas leher, bertarung mengalahkan puluhan orang lantas terbaring di antara mayat-mayat yang terbunuh. Di lain waktu, ia hanya perlu duduk diam di atas tikar di kamarnya dan musuh-musuhnya akan binasa.
Kini ia mengerti, ia sendiri seperti tubuh-tubuh yang pernah dibunuhnya tanpa ampun. Mati dan tanpa nyawa.
“Dunia sudah gila!” gerutunya. Di usianya yang sepuh, ia memang menjadi sering menekur dan kadang seperti sedang bertutur kepada Tuhannya.
“Orang-orang seperti daun kering, yang hanyut ditiup angin musim kemarau. Namun, ada hal yang ajaib; ia kadang melayu dan mekar ketika bertemu kekasih, sahabat yang selalu setia, rumah yang benar-benar memberi arti pulang sesungguhnya, dan bahkan orang-orang asing yang diuji waktu menjadi karib, atau sekadar bertemu pun berpapasan dengan orang asing di jalanan, tetapi memberi senyum dan tatapan yang menularkan energi kehidupan atau bahkan sensasi betapa senyum tulus masih diberikan kepada kita. Sialnya, dunia tidak pernah menjanjikan keseimbangan. Duniah penuh warna; hitam dan putih yang saling berkelindan dan setan-setan belum dikembalikan ke tempat asalnya di neraka. Ckckck … butuh pendekar baru!” Barangkali hal ini serupa zaman yang kian hari tak terkendali. Pemerintah yang berusaha mengambil uang rakyat demi kejayaan dan membangun tirani. Rakyat yang miskin kian melarat, sementara jejaring dibangun seolah segalanya adalah kekuatan relasi dan jaringan. Tidak ada yang benar-benar berdaya, yang ada hanyalah kepentingan-kepentingan. Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya, lantas memilih menyerah di tengah ketidakberdayaannya. Waktu telah mencuri dirinya dan menyisakan jiwa yang kosong dan hampa.
Tidak ada yang membalas atau menyela ketika ia bergerutu sebab cucunya Biru Samudra tengah pergi ke mana kakinya melangkah dan lelaki itu sIbuk menyesali masa mudanya yang telah berlari meninggalkan kesepuhannya yang tak berdaya. Dan cucunya itu pulalah yang selalu setia menemaninya. Namun, waktu berputar dan Biru berubah.
Beginilah kisah kesendirian si lelaki itu bermula: bertahun-tahun lalu, setelah putri semata wayangnya meninggal ketika melahirkan Biru, lelaki itu murka lantas membunuh lelaki yang menghamili putrinya. Kemudian ia memutuskan menepi meninggalkan segalanya. Namun, tidak dengan kesaktiannya.
Ia tak kuasa membuangnya. Kemudian ia mengerti betul bahwa seorang anak manusia tidak akan pernah mampu membereskan dirinya sendiri tanpa Tuhan. Tuhan masih ingin memakainya.
Ia menghIbur diri dengan membesarkan Biru dan adalah beruntai-untai doa pun harapan yang selalu ia rapalkan di setiap malam-malam yang ia lalui. Ia seperti bisa bertemu dan bercakap-cakap dengan Tuhan. Dan setiap hal selalu bisa Biru pelajari. Termasuk bercakap-cakap dengan Tuhan dan ia sakti pula. Seperti si kakek. Ia bisa menangkap buruan dari tepi hutan untuk ia bawa pulang, bahkan ia bisa membersihkan perabot-perabot tua di rumah kakeknya tanpa perlu turun ke sungai. Namun, sesakti apa pun manusia, kodratnya adalah tidak akan pernah terhindar dari petaka dan maut.
Malam itu hujan deras dan dingin menusuk begitu tajam. Biru kecil demam, lantas tiga hari kemudian ia kejang dan mati. Namun, hidup kembali pada Selasa pagi yang cerah.
Sejak peristiwa itu, perangai Biru berubah: Ia menjadi suka mencuri jagung di ladang siapa saja dan suka kencing sembarangan. Bahkan menjadi bisu. Si lelaki kecewa dan murka kepada Tuhannya.
Terlalu sayang dan takut kehilangan membutakan mata batinnya kepada rahasia-rahasia pemeliharaan Tuhan yang selalu ia ajak bercakap-cakap itu.
Si lelaki memutuskan tidak akan berbicara sampai Biru sembuh. Sebab selain dengan Biru, hanya dengan Tuhanlah ia bicara. Biru bisu, maka ia akan menjadi bisu pula, lalu biarlah Tuhannya tidak memiliki teman bercakap-cakap sampai Ia menyembuhkan Biru.
Begitulah si lelaki tua mengkhatamkan nazar.
Enam bulan mereka tinggal berdua tanpa bersuara, tanpa gurau, pun kegaduhan, hanya bertukar isyarat. Seadanya pula.
Di suatu Sabtu sore kala senja begitu muram, gumpalan awan gelap mengerikan berlayar rendah di langit tepat di atas rumah rumbia si lelaki. Awan gelap itu menjelma burung putih dengan ukuran sebesar kepala si lelaki dan cahaya terang keluar dari tubuh si burung dan ia bisa bicara!
“Pergilah ke seberang laut dan temukanlah seorang lelaki tua di dalam rumah kardusnya. Selamatkanlah seorang bayi di sana!” Seketika burung itu menghilang dan segalanya menjadi semakin muram saja.
Maka berangkatlah si lelaki tua dengan jalanya ke sebarang bak seorang nelayan kecil yang tak berdaya menangkap barang seekor pun ikan kecil. Di hari pertama, ia melihat pesisir dengan beberapa rumah kumuh. Tanpa ada rumah kardus.
Di hari kedua, ia berjalan jauh ke daratan di seputaran pesisir pantai. Maka dilihatnyalah seorang perempuan muda dengan perut yang menggembung sangat besar dibandingkan tubuhnya yang ceking. Ia tertawa-tawa, menceracau, dan sesekali memukuli perutnya yang menggembul.