Hujan Salah Musim
Desa ini semacam desa mati dengan kemiskinan yang sedemikian sarat, hingga waktu senja kau akan melihat anak-anak kecil—dengan hidung yang beringus—berkumpul di pendopo untuk makan bersama hanya dengan ubi rebus. Jarang pula bergaram pun berlauk.
Telah berbulan-bulan kemarau yang paling aneh melanda desa. Padi ludes dan ubi makin menipis. Namun, jika mereka menyadarinya, itu terjadi sehari selepas kedatangan seorang lelaki dari seberang dengan gambar garuda di dada kiri kemejanya. Kemeja itu termasuk kemeja lusuh. Namun, termasuklah ia ke dalam kategori pakaian lelaki terbaik yang pernah diilihat penduduk desa.
Sebuah kain tenunan dari benang tiga warna yang di tenun dengan jemari tergantung di ruang tamu sebuah rumah kecil yang tampak lebih mencolok perbedaannya dari rumah lainnya. Lelaki dari seberang itu menempelkannya di sana.
“Tolaklah bala dan panggillah Tuhan,” katanya kala memberikan tenunan itu. Maka berseri-serilah wajah si pemilik rumah seolah ia bertemu Tuhannya.
Rumah itu beratap seng yang walaupun terlihat tua dan mengibakan, setidaknya masih lebih baik dari atap-atap rumbia yang mengitarinya—yang segan tegak roboh tidak mau.
Rumah itu adalah rumah kepala desa. Lelaki plin-plan yang dianggap paling tua di antara para tetua pembuka kampung. Dahulu tempat itu semacam tanah tidak bertuan yang jauh dari kota dan daerah pertanian—semacam daerah terbiar dan terlarang.
Konon tempat itu dulu adalah sarang hantu-hantu dari seluruh penjuru semesta berkumpul.
Sesakti-saktinya hantu atau katakanlah setan terbaik sekalipun—yang selalu menerima anugerah penghargaan neraka atas kelaknatan dan keangkeran yang pernah ia raih, maka pada dasarnya hantu hanyalah hantu dan setan pun tidak akan pernah mampu mengejar keagungan pun kesaktian Tuhan. Maka, tetua-tetua dari seberang menyudahi sengketa tanah warisan di desanya dengan memutuskan menggarap lahan itu dengan predikat menyedihkan: hanya dihuni oleh orang-orang tergusur.
Telah bermacam-macam bencana terjadi, tetapi belum pernah menakutkan serupa ini. Para perempuan berpikir inilah akhir zaman. Telah berbulan-bulan pula mereka tidak lagi menumbuk padi di subuh yang dingin dan berembun. Sementara para lelaki mengatakan: hantu dan setan belum ikhlas untuk mencari hunian baru.
Pada suatu waktu, ketika larut masih belum beranjak, terdengarlah dentam-dentam berat alu penumbuk padi menggetarkan bumi. Suara-suara bersahutan yang telah lama sirna itu lantas membuat seluruh orang-orang desa terbangun, termasuk Kepala Desa.
Terperangahlah ia dengan mulut menganga tidak percaya.
“Kau dapat dari mana padi-padi ini, Billem?” tanyanya memburu.
“Dari Tuhan!” jawab si lelaki dari seberang dengan gambar garuda di dada kemejanya itu.
Maka semenjak hari itu orang-orang desa menganggapnya orang sakti si pelindung. Seiring waktu bergulir dan orang-orang semakin khawatir akan persediaan ubi yang kian menipis, angin menerbangkan kabar kesaktian Billem perlu dipertanyakan. Bencana masih melanda dan perut anak-anak mulai membusung dengan tatapan sayu yang kian mengibakan.
“Jika kau sakti, lantas mengapa tidak kau turunkan hujan?” tanya si penanya pertama.