Surga dan Anjing
Kautahu satu hal: Namaku bisa membawamu ke surga. Namun, pada pagi yang muram dan menusuk itu, kau bangun dan memaksa dirimu meyakini satu perkara yang sebenarnya sangat kau tentang: Aku hanyalah anjing keparat!
Sayang, itu hanya pengakuan separuh darimu. Kau paham betul separuhmu lagi ingin kupeluk, kubawa mengembara menelusuri beragam kamar di dalam dadaku dan membisikkan, “Kau sudah menyesap surga.” Namun, tetap saja pagi itu telah berlangsung peperangan sengit dan sangat berbahaya di dalam kepalamu. Padahal, perempuan bermata sayu itu sudah berkali-kali mengingatkanmu untuk tidak menantang dirimu berperang.
Selain kau bisa melukai dadamu sendiri, kau juga dapat melakukan adegan-adegan mengayun pedang seperti yang dilakukan Takezo ketika hendak membunuh musuh-musuhnya, lantas berbaring di antara mayat-mayat itu, dan menyerukan dengan lantang, “Dunia sudah gila!”
Sementara kau akan melukai lambung, lengan, dan menebas lehermu sendiri. Kau tidak akan pernah menyerukan apa-apa kembali dengan lantang karena kau sudah menjadi mayat serupa daun kering yang hanyut ditiup angin salah musim.
Dan pagi ini, kau serupa betul dengan orang gila. Bukan pendekar bernama Takezo seperti dalam kisah Eiji Yoshikawa tersebut. Ah, kau pikir itu mudah? Jika dIbukukan, maka akan tercipta halaman-halaman buku berlapis-lapis bahkan mencapai 1.247 halaman penuh. Belum sampul.
Segala ketidakmudahan memang akan membuatmu memiliki alasan yang kukuh dengan keharusan mendesak untuk bersua dan bertutur dengan Tuhanmu, tetapi lagi-lagi kau menolak persepsi barusan. Sebab nama yang bisa membawamu ke surga saja sudah berganti nama: Anjing Keparat.
Maka kau memutuskan: kau akan mencoba melupakan nama yang akan membawamu ke surga yang kini beralih nama Anjing Keparat.
***
Kau punya adik. Bukan kandung dan kau sudi berbagi surga dengannya.
Telah kau relakan demi kesatuan hati antara kau dengannya. Seperti menjadi istri tak peduli pertama dan kedua, bagimu angka hanyalah bilangan yang netral dan tak akan pernah memihak istri utama dan selir; sebab cintamu utuh.
Namun, pagi itu sebuah kebenaran baru kau pahami: bukan cinta utuh yang kau miliki. Kau paham betul bahwa kau tidak berprasangka, tetapi itulah kebenaran.
Kau mendapati lelaki si empunya nama yang bisa membawamu ke surga itu berbaring dengan adikmu yang telah kau ikat hatinya denganmu. Tidak lelap, mereka hanya berbaring-baring saja.
Samar-samar kaudengar adikmu tertawa begitu manja dan lelaki itu menciumnya. Lama pula. Maka kau merasakan gemuruh bertalu-talu yang menghantam ulu hatimu. Maka di pagi yang muram dan menusuk itu kau meyakini: kau tidak memahami dirimu sendiri. Sebab kau tidak tahu bagaimana seharusnya bertindak.
Dua hari kau uring-uringan dan berlaku seolah kau baik-baik saja ketika kalian bersitatap di dalam rumah yang hanya memiliki lima petak itu. Ruang utama, kamarmu, kamar adikmu, sebuah kamar mandi kecil dengan warna dan pengaturan sesuai selera adikmu, dan sebuah dapur.
Kau selalu bangga dengan lelaki itu. “Aku rela tidak memiliki kamar, sebab aku selalu mengutamakan kalian berdua. Kalian harus nyaman di dalam kamar!” katanya suatu ketika.
Dan kau gila terpesona dengan pengorbanannya yang meniadakan diri itu. Bukankah lelaki di mana-mana selalu mau menang sendiri?