Kau tahu bahwa bajingan yang membuang Ibumu memang layak ditumpas. Setelah merayu, menindih, lantas mencampakkan ke tempat sampah. Seolah Ibumu lebih hina dari sisa-sisa makanan basi dan tengik yang masih terlalu sayang untuk dibuang sebab masih akan sangat membinarkan mata lapar kucing dan anjing-anjing liar. Namun, berita kematian bajingan itu sungguh tidak manusiawi: Sebab kautahu ia adalah ayahmu—dan kau baru saja mengetahuinya—dua menit setelah ia dikatai bangkai oleh kakekmu dan selepas mendengarkan kebenaran itulah kau merasa itu tak bisa dimaafkan.
Beginilah kakekmu membawa berita itu dengan menembus hujan deras dan tiba dengan napas memburu tanpa memedulikan air dari tubuhnya yang membasahi lantai rumah. Seolah membawa kabar sukacita yang meledak-ledak tak tertahankan: selamat ada surga yang bisa kau bawa pulang untuk dibagikan kepada istri dan cucumu. Ketika itu waktu tengah bercumbu di antara senja dengan malam purnama, sementara nenekmu, seperti biasanya, sedang memasak mimpi-mimpinya di atas kursi tuanya. Tanpa sedikit pun memedulikan kedatangan kakekmu. Nenekmu tetap melanjutkan ritualnya merayakan mimpi. Ketika mimpinya matang, ia tertawa. Lantas, ketika mimpinya masuk ke dalam pembakaran lalu menghilang tanpa sisa uap, ia meraung. Mengumpat-umpat ada setan sedang mencuri putrinya.
“Bajingan itu sudah menjadi bangkai!” kata kakekmu masih dengan napas memburu.
Nenekmu masih mengumpat dan bercakap-cakap kepada dirinya sendiri. Sebab ia juga yang akan membalas dirinya sendiri, dan sesekali memukul perut dan kepalanya sendiri.
Sementara kau menendengkan telinga. Kau mendekat dan tatapanmu penuh kepada kakekmu. Pada menit kedua akhirnya kakek berkata: “Mayat lelaki yang menyebabkan Mega hamil, kukasih dimakan anjing!”
Kaupikir kau memang tidak cukup cerdas, tetapi ada dua kebenaran yang kau dapatkan setelah mendengarkan kakek: ayahmu mati dimakan anjing, dan kakekmu sangat bahagia.
Nenekmu yang cekikikan segera berhenti.
“Mayatnya dimakan anjing? Ha-ha-ha … sungguh?” Perempuan itu tiba-tiba memandang kakekmu.
“Dia memang pantas dibunuh! Dendamku sudah usai!” sambung nenekmu.
Sejak saat itu nenekmu berubah. lebih bahagia dan tidak lagi memasak mimpi-mimpinya. Ia menjadi senang berangan-angan duduk di teras rumahnya dan berkata: “Sedang menunggui Mega. Ia lagi di perjalanan membawa jantungku!” Namun, semenjak hari itu kau membayangkan tubuh ayahmu dimakan anjing siang dan malam.
Di suatu malam yang tak dapat lagi kau tahankan, kau kemudian menemui kakekmu. Lantas membangunkan lelaki sepuh itu dengan hati-hati dan dengan suara yang nyaris tidak kedengaran.
“Kau kesurupan?” Ia heran sebab kau hampir tidak pernah memasuki kamar kecilnya.
“Tidak, Kek. Aku pensaran,” jawabmu.