Penjaga Jiwa
Aku bermimpi, atau lebih tepat dikatakan aku melihat sebagian mimpi yang selalu berulang-ulang yang ketika aku terbangun, aku hanya mampu mengingatnya secara tidak utuh. Serupa potongan-potongan diriku yang tidak utuh. Bahkan ada kalanya kosong.
Kenangan masa kecil tergambar suram dan samar tanpa wajah. Kenangan masa kecil itu terus melompat-lombat dalam isi kepalaku bagai seekor kelinci, yang sepertinya berusaha keras menuliskan huruf-huruf cahaya dan seperti apa wajah masa laluku.
Di samping kiriku, kakek mendengkur. Keras dan selalu begitu-begitu saja. Kakek itu memiliki dengkur bertipe cempreng dan nyaring. Diperlukan kekebalan pendengaran untuk mampu mendengarkannya. Tapi aku sudah melatih telingaku menyukainya dan menganggapnya semacam dongeng-dongeng dari negeri fantasi mengantarkanku ke alam mimpi. Tapi sekali lagi, mimpi berulang ini begitu samar.
Yang kuingat hanyalah: aku ingin bertemu bapak dan Ibuku.
Di sana, di mimpi yang tidak utuh dan terputus-terputus itu semua bergerak cepat; bergulir lantas berputar seperti pertunjukan dan ujung-ujungnya malah tiada. Penuh imaji. Ilusif. Fantasmagoria.
Kukira itu semacam tipuan yang memperdaya kerinduanku akan sosok ayah dan Ibu. Di sana, ada keping-kepingan wajah Ibu yang suram. Wanita dengan rambut tergerai panjang, berwajah sendu, manis, dengan hidung yang dengan mudah mengendus apakah aku hari ini menyenangkan atau menyebalkan. Kulit wajahnya seputih porselen dan guratan-guratan di keningnya menyatakan ia pemikir keras. Hm, aku menebak, atau katakanlah berusaha keras menerka apa gerangan yang seorang Ibu pikirkan ketika bertemu putranya: dia tidak menanyakan kabarku, akau sekadar memeluk, atau bahkan hanya menatap penuh rindu yang menggebu.
Dia diam dan menatap sayu. Dalam diam seolah menceritakan: anakku, selamatkanlah Ibu dan ketika aku tersadar, seluruh tubuhku dibanjiri keringat dan ketika aku memaksa diriku mengingat-ingat wajah Ibu di dalam mimpi yang tak utuh itu, yang ada hanya kesuraman dan rasa penasaranku semakin menjadai-jadi.
Malam itu aku mendengar nyanyian: “Tidurlah … tidur, bukankah bayi tidur itu manis?”
Apakah itu suara seorang Ibu? Namun belum sempat aku sekadar melihat siapakah gerangan yang muncul, lagi-lagi aku terjaga. Kuhantam meja di sisi tempat tidurku dengan kuat.
“Sial! Kau gila sungguhan!” Sebuah bentakan itu membuatku terjaga.
“Biru?”
“Kau gila, Gora! Tidak punya uang tidak lantas harus menjadi sinting, bukan?” Perempuan itu mengomel dengan bibir yang mengumpul di depan. Cemberut. Eh, tapi cantik pula.