Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #11

Kunjungan Tanpa Ketukan

Ibumu bilang, jika kau berlayar keliling dunia, kau akan pulang dengan dunia di dalam genggaman dan impaslah seluruh cemoh serta tudingan orang-orang yang telah dan masih menginjak-injak harga diri Ibumu.

“Berangkatlah dan jangan cemas akan Ibu. Belajarlah sungguh-sungguh!” katanya dengan tetap sIbuk melipat pakaianmu ke dalam tas sekolah lusuh yang di beberapa bagian baru saja ia jahit. Dalam posisi membelakangi, terlihat jelas bagimu tubuh Ibumu sudah bengkok delapan. Tubuh itu bergerak seirama napasnya yang pendek-pendek dan berat. 

Rambutnya yang walaupun masih hitam menggambarkan jelas kerasnya hidup yang ia lalui. Helai demi helainya telah suram, nyaris kehilangan cahaya, bahkan telah begitu tipis. Namun, helaian itu tak juga menyerah rontok, seperti mimpi yang Ibumu ukir di dalam dirimu.

Hari itu adalah hari Sabtu yang cerah dan kau satu-satunya anak yang lulus sekolah menengah dari desamu. 

Satu-satunya alasanmu sekolah dengan giat tanpa memedulikan ajakan berburu teman sepermainanmu adalah: kata-kata Ibumu—yang bahkan terbawa dalam mimpimu—seperti kilatan-kilatan cahaya yang berpijar mengguratkan kata-kata Ibumu yang terus-menerus berulang di dalam alam bawah sadarmu.

“Sekolahlah dan bunuh kutukan ini!” Ucapan Ibumu lantas berulang dan seolah berputar-putar dalam isi kepalamu walaupun Ibumu telah berangkat membuka lahan-lahan baru—yang harus kau akui—kadang sungguh menyebalkan. 

Ibumu percaya dan selalu percaya bahwa Tuhan memegang kehidupan dan takdir setiap orang. Ia telah melalui berbagai-bagai kemelut dan Tuhan selalu menyelesaikannya dengan kejutan-kejutan keajaiban yang mencengangkan. 

Ketika Ibumu tengah membawamu dalam perutnya yang membesar dengan tubuh cekingnya, Ia bahkan pernah dilempari oleh anak-anak kecil dengan kerikil sambil menertawakan Ibumu seraya berlari terbirit-birit ketika Ibumu marah. 

“Tolong! Ada orang gila!” 

*** 

Demi melihat mata Ibumu yang redup, dan cemohan yang menyebutnya wanita murahan, maka kau tidak pernah diberi pilihan lain selain: menurut.

Lihat selengkapnya