Selama Kita tersesat di Kepalan Tangan Kita Sendiri-Sendiri
Bertahun-tahun lalu, dengan rasa sedih tak tanggung-tanggung—hingga tak tersingkirkan dari paras rupanya—yang suram dan menyedihkan, ia mengubur sebuah ari-ari dan memutuskan memilih jalan yang berbeda dari yang ditempuhnya sebelumnya.
Namun, sejak langkah pertama ia meninggalkan sebuah keranjang berisi bayi merah di dalam rumah yang semula ia tinggali, tidak putus-putus pula air matanya menggenang.
Sesungguhnya, dunianya sudah kiamat tiga puluh menit sebelum bayi itu lahir. Bayi merah dan sangat sempurna yang kepadanya seluruhnya ia berikan. Tak ia pedulikan perkataan orang-orang, tak ia ambil pusing ketika Ibunya memakinya lantas menangis memohon-mohon agar ia mau menyesap ramuan peluruh seperti yang sudah biasa dilakukan Ibunya.
Namun ia bukan lacur. Bukan pula seorang perempuan yang bersuami. Seperti Ibunya, ia juga tidak pernah menemukan cinta sejati sampai hari di mana ia harus memiliki perut yang menjulang bagai menara yang angkuh, tidak pernah diperkenalkan dengan lelaki manapun, dan tidak pernah pula begitu digilai oleh lelaki sehingga lelaki itu mati-matian mengambil dirinya dengan cara terkeji sekalipun.
Lain dia, lain pula Ibunya. Melacur adalah jalan satu-satunya yang diberikan kepada Ibunya ketika masih sangat belia dan dangkal menafsir hidup. Semula Ibunya menolak, bahkan murka ketika ia diminta untuk melakukannya. Namun, ketika banyak napas-napas yang bergantung kepada napasnya yang tersengal dan menyesakkan lehernya sendiri, maka ia rela—walau harus membunuh dirinya sendiri.
Berbulan-bulan ia marah kepada Tuhannya. Namun, kisah segera berubah ketika malam yang angkuh itu begitu dingin dan menusuk. Langkah-langkah kecil yang berderak sangat cepat di lantai rumah kayu mereka membuat dadanya bergetar cepat.
Secepat kilat ia sudah menyongsong langkah kaki itu—bahkan di luar dugaannya—setelah memastikan adik kecilnya tidak terbangun oleh gerakan tubuhnya, “Bagaimana mama, Boy?” tanyanya. Napasnya memburu seolah-olah dialah yang baru saja berlari dengan gerakan sungguh terburu-buru itu.
“Pendarahan … butuh darah … harus operasi!” kata Boy, adiknya yang kedua, sementara yang ketiga sedang lelap di pembaringannya. Napas Boy masih tersengal, wajahnya pucat, bajunya lusuh, dan keringatnya yang bercampur dengan daki beberapa hari menguarkan bau apak yang sungguh dahsyat.
“Kita harus cari duit dari mana, Kak?” tanya Boy.
Kala itu dia diam saja. Tak menjawab, ataupun menangis. Lantas ia menyuruh Boy masuk dan menyodorkan sepiring ubi rebus tak bergaram. Telah dua hari ia kehabisan garam.
“Sisakan satu untuk Ree. Ia suka terbangun tengah malam semenjak tidak bisa menyusu kepada mamak.” Boy mengangguk menyahut perkataan sang kakak dan tetap makan dengan lahap.
“Berapa hari kau tak makan?” Boy tak menjawab.
***
Ia yang masih perawan lantas memutuskan menemui seseorang. Ia masuk ke sarang penyamun yang sudah lama meminta dirinya menjadi sajian untuk para penyamun. Namun, malam itu dialah yang menawarkan diri.