Ada Laut di Bola Matamu
18+
Serupa kotoran, orang-orang pernah menajiskan namanya dan menganggap aib terbesar desa mereka adalah memiliki warga lacur. Sinting pula. Gelar kedua ini semakin santer setelah badannya mulai menguarkan aroma apak dan rambutnya tak terurus, walaupun harus diakui, kemolekan dan tubuhnya masih tetap saja cantik seperti dulu. Ketika bersitatap, orang-orang berpura-pura tidak mengenalnya, tetapi siang dan malam pula orang-orang itu mengunjingkannya. Tak putus-putus! Dan ia mengingat setiap gunjingan itu dengan baik-baik di dalam hatinya.
Memang gunjingan itu serupa aroma masakan Ibumu yang dengan mudah menguap ketika api kian menyala-nyala. Menguarkan seluruh aroma rempah yang dicemplungkan, lantas menyerbu penciuman setiap orang hingga membuat mereka bersin. Beginilah gunjingan itu bermula hingga sampai ke telingamu.
“Lihat! Perutnya menjadi menara!”
“Ya, ampun. sebentar-sebentar ia memukul-mukul perutnya, sebentar mengelusnya, lantas sedetik kemudian marah untuk akhirnya tersenyum-senyum sendiri. Apakah orang gila ini sedang hamil?”
“Ia gila karena hamil!"
“Atau ia hamil karena gila?” Seorang Ibu menanggapi pernyataan temannya dengan kening berkedut. “Orang-orang mabuk serupa setan: meski gila perempuan tetap ditelan.”
“Amit-amit!” timpal seorang perempuan yang tengah hamil pula.