Ketakutan terbesarku adalah dikelilingi perempuan cantik dengan kecerdasan yang meluap. Sebab suatu saat bisa saja ia berubah menjadi laut dan menghanyutkanku jauh ke kedalamannya yang gelap, kelam, dan tak terduga tanpa bisa kembali dan akhir ceritaku adalah karam yang tragis. Lantas Ibuku akan menjadi perempuan yang paling malang.
Aku tidak akan pernah membiarkannya terjadi.
Seperti Ibu, perempuan selalu memelihara pelita yang menyala-nyala pada kedua bola matanya. Dari sanalah terpancar cinta, cemburu, dan godaan. Seperti kedua istriku, yang tentu saja kupersunting bukan sebagai kerasukan birahi yang tidak puas memiliki satu, percayalah! Perempuan cantik itu memang penuh misteri yang melumpuhkan.
Biru Samudra, istriku yang kedua, memiliki kecerdasan, ambisi, dan kecantikan luar biasa; dia genit, lincah, pemberani, dan tangguh; dia memakai semua pesonanya untuk menawanku dan memberiku hanya satu pilihan: menikahinya, dan hampir selalu disukai siapa saja yang ditemuinya termasuk istri pertamaku, Rara—yang tentu tidak kalah dengannya.
Aku tak pernah khawatir keduanya tidak akur, sebab perempuan semacam mereka telah selesai dengan perkara remeh; cemburu misalnya. Beginilah yang menjadi ketakutanku: Sekali aku pernah mendengar epos tentang perang Troya yang luar bisa itu. Konon perang ini tercetus karena kecantikan seorang perempuan. Kecantikan Helen, demikian nama perempuan itu melegenda sampai sekarang sebagai perempuan tercantik di muka bumi. Namun, ketika ia melihat Paris, pangeran Troya yang gagah, ia memilih kabur meninggalkan suaminya Menelaus, raja Sparta.
Kadang aku mencemoh diriku, sebab aku bukanlah raja, bukan orang kaya di desa, bahkan sedang terdampar di desa ini. Ketakutan terbesarku adalah: Perempuan-peremuan cantik akan memilih mendiami rumahku dan merengek tidak bisa hidup tanpaku. Ha-ha-ha! Ini kutukan! Seperti kata Ibu.
Jika itu sampai terjadi, Boy sepupuku yang bermulut celupar itu akan sibuk mengomel dan menyebut-nyebutku sebagai lelaki yang menyukai perempuan yang menjengkelkan, Ibu akan lelah sekadar bercakap-cakap dengan menantunya, atau Ibu akan kelelahan menghapal nama cucunya dan akhirnya memilih meninggalkan rumah bersama Boy.