Si Pembual
Serupa turis, ia muncul dengan perahu yang megah dan dengan mata teduh, berwajah ramah, tetapi licik seperti ular memuji-muji betapa berkat Tuhan melimpah ruah di desaku: tanah yang subur makmur dengan perempuan berparas cantik dan santun pula. Begitulah kisah yang dituturkan Ibu tentangnya. Ia, yang olehnya, aku mendiami rahim Ibu dan aku mengetahuinya tepat lima belas hari yang lalu dan tentu saja aku harus memanggilnya bapak.
Aku menatapnya memasuki lapo dan mengawasinya dengan ekor mata sembari meneguk tuak dengan perasaan murung, dengan ingatan pada keping-keping kisah tentangnya yang selalu kudengar sebagai tembang tidur dari Ibu yang seluruhnya hanyalah kisah suram yang kelam dan selalu disertai dengan air mata Ibu. Itu sebab, aku memiliki dendam yang dalam untuknya.
Lapo dekat perempatan itu hanyalah warung yang sederhana. Namun, riuh dan gempita, penjualnya terlihat norak dengan rambut berwarna blonde yang kusam bergerak dengan malas menyambut bapak yang kata Ibu bahkan kata perempuan bermata sayu itu adalah lelaki penyembah rembulan.
Aku sering merayu Ibu mengisahkan semacam apa upacara yang bapak lakukan ketika akan menyembah bulan. Namun, Ibu selalu menjawab tidak tahu lantas bermuram durja dan meninggalkanku begitu saja.
Lelaki itu duduk tepat di mejaku dengan mengenakan batik lusuh bergambar burung garuda di dadanya, ia berkopiah hitam, dan badannya memang kekar dan ia terus menatapku. Dadaku bergetar dan kenangan-kenangan akan kejahatan dan bejatnya bangkit menari dalam kepalaku dan ia pun berubah: dengan mata teduh, berwajah ramah, tetapi licik seperti ular.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Gora ….” katanya berhenti. “Kau mengenaliku, bukan?” Ia berbisik sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku.
“Tentu, jika Anda memperkenalkan diri!” sahutku, tiba-tiba mengenang wajah Ibuku yang sendu sedang berkata: “Jangan pernah percaya kepada pendengaranmu jika ia tengah berada di dekatmu!”
Mendengar jawaban ketusku, ia menahan diri untuk duduk pada meja di hadapanku.
“Apakah Ibumu tidak pernah menceritakan besar cintaku kepadanya sampai kau lahir? Atau seberapa besar rasa cintaku kepadamu, atau sebab mengapa ia tidak datang kembali kepadaku? O’ putraku, siang malam aku hanya memikirkanmu!”