Mari! Kubawa Kau ke Negeri Seribu Menara
Aku menyukai bibirnya dan matanya dan aroma tubuhnya yang harum; aku menyukai manjanya dan bisikan merdu yang ia dendangkan di dekat telingaku ketika ia mengajakku ke negeri seribu menara di malam-malam panjang—yang sungguh tidak akan pernah puas kudaki, tetapi aku tidak menyukai ikatan kami.
Tak pernah aku berpikir membuatnya menjadi istri kedua, tinggal bersama istri pertamaku pula: di atap yang sama, di ranjang yang sama, dan dengan kisah yang sama—yang tentu berbeda dengan seribu satu kisah yang pernah ada.
Biru Samudra, seperti namanya, ia menyukai laut, debur ombak, dan desir angin; ia menyukai musik yang dihasilkan debur ombak yang bertubrukan dengan bongkah-bongkah batu, tetapi ia tidak menyukai kesendirian. Tak pernah ia berpikir akan duduk sendirian di tepi pantai itu, di atas bongkah batu yang sama, dengan hari yang sama: Senin, empat belas Februari. Namun, bukan seperti kali itu: ketika aku pertama kali menyetujui untuk menjadikannya yang kedua.
Hari itu, ia terlihat sangat cantik dengan bulu mata pelangi berwajah laut teduh, membawaku ke dasarnya, lantas merayu: “Pinanglah aku,”
Aku adalah lelaki yang pantang mengecewakan perempuan, pantang membuat mereka menangis, pantang pula bermain-main dengan serIbu satu menara mereka; itu sebab aku membawanya kembali dan mewujudkan cita-cita mulianya itu.
***
Malam itu, dengan memohon, aku mendapatkan restu Rara, istri pertamaku, agar tidur di kamar Biru. Bukan lantas tergoda istri muda, tetapi begitulah adanya: Seperti perputaran siang dan malam, hitam dan putih, begitu pulalah sepertinya Tuhan memberiku sebuah kisah untuk kujalani—aku bahkan harus membuat jadwal khusus, menempelkannya pada masing-masing kamar mereka, dan ada kalanya aku ingin mati dan menghilang saja.
Ah, Boston dan London terpaksa kutinggalkan demi menghindari perempuan, lantas apakah aku juga harus berlalu dari desa ini? Lantas ke mana?
“Aku sakit,” kataku, ketika terbaring dengan dada yang masih berperang.
“Ah, Alasan! Bilang saja rindu,” katanya manja, selalu begitu, selalu manja, dan aku dibuat gila setengah mati.
“Rindu tidak akan pernah habis, Bi. Tapi aku lelah,” kataku memejamkan mata, mendesah berat dan panjang. “Kau tidak mengantuk?”
Bukan Biru jika ia tidak jeli, juga bukan Biru jika meminta penjelasan-penjelasan, sebab baginya sebuah sebab akibat tidak perlu dipertanyakan pun tak perlu penjelas—ia diam—tapi ketika seperti itu pulalah ia menjelaskan penawar kekaburan yang sedang menawanku: Ia menjawabku dengan tanpa sepatah kata pun.
“Kau marah?” tanyaku. Sebab aku tahu, ia sedang ingin mengajakku menaklukkan negeri seribu menara. Namun, aku tak sedang ingin berperang, aku sedang ingin lelap, melupa, dan tiada.