Pesan dari Langit
Ini kisah duka. Bisa membuat orang gila. Jangan takut, sebab gila bukan kusta, sipilis, atau semacamnya. Ini dijamin tidak menular. Lantas, jika kita sudah sepakat, mari, tendengkan telingamu dan katupkan bibirmu, sebab sempurnalah jika kau menjadi pendengar setia.
Sebab kisah ini selain penuh kegilaan, ini terlalu suram: Ibu pertamaku adalah misteri yang menimbun rahasia di bola matanya: membentuk semedan kutuk, sementara bapak adalah lelaki penyembah rembulan yang tidak peduli kekudusan; baginya, mati satu tumbuh serIbu, sementara aku lahir ketika waktu selingkuh di antara senja dan malam, ketika rintik gemiris mengundang, dan aku memiliki Ibu kedua serupa binatang. Aku bahkan memiliki dua istri yang tidak mempersoalkan apa-apa yang berhasil melumpuhkan helai-helai rambutku.
***
Tangismu pecah dan masih tak menghabis ketika aku berlari, memeluk, lantas membisikkan “Jangan menangis … kumohon,” pintaku, tetapi kau masih saja menangis, yang kini disertai sedu sedan yang tersekat di kerongkonganmu, kubelai masai rambutmu yang lepek oleh garam air matamu.
“Ra … jangan menangis, Sayang,” kataku sesekali mengecup kepalamu dan kau menjawabku dengan tanpa sepatah kata pun. Namun, kau berubah manis, tidak lagi menangis, mesti menatap sinis dengan wajah dan mata yang kian sembab, sesenggukan sesekali, dengan wajah sendu dan letih. Suram!
“Ada apa?” tanyaku. Pagi itu, hari kedua di bulan keenam, ketika sebentuk rahasia kau pamerkan dengan emosi yang menghiasi.
“Jangan menangis, Ra. Aku bisa mati!”
Ia masih bisu. Lantas duduk di tepi tempat tidur.
“Bawa aku pergi, Gora! Ke mana saja, asal jangan di desa ini!”
“Ada apa? Apakah Biru, madumu itu mengganggumu?” tanyaku memburu menerka kemungkinan-kemungkinan, sebab-akibat yang kureka dalam imaji: bisa saja keduanya berduel lalu menyebut namaku bergantian, lantas salah satu mendapatkanku utuh, yang kalah hanya berhak pada bayanganku. Semu dan tiada.
“Tidak!” katanya, lantas beginilah kisah yang kelak, dengannya aku harus mempertaruhkan hidup matiku, yang ia sampaikan dengan kilatan-kilatan ketakutan yang menyala:
Ibuku bilang, tentu kepada Rara dan Biru sebab mereka berdualah istriku. Sebuah kutuk, adalah warisan jika tidak dilunaskan, atau bahkan dIbunuh. Kutukan, yang ketika Ibuku bercinta dengan bapak, maka Nauli, istri bapak, mengirim nujum dan kini nujum itu akan melekat jika tidak dIbunuh, atau dikirimkan kembali kepada tuannya.
Namun, kelemahan terbesar Ibu, bahkan sampai detik ini adalah bapak. Itu sebab, ia memikirkan nalar baik-buruknya, dan ia memilih sebuah jalan: Rara akan menyempurnakan tugas itu, sebab perempuan itu tidak bisa hamil. Ia mandul.
“Kutuk ini akan menjadi penguasa atas kita jika tidak kita tumpas. Caranya: mengorbankan salah satu dari kita!” kata Ibu.
“Tak baik begitu, Bu! Sebab tidak ada kuasa yang mampu menebak takdir bahkan kematian. Kutuk atau katakanlah apa saja, tidak kuasa melakukan apa-apa selain sebatas bagiannya sendiri-sendiri.” kata Biru kepada Ibu.
Biru memang ringkas dan cerdas, tapi membangkang dalam diam. Maka, ia meninggalkan Ibu berdua bersama Rara.
Lantas Ibuku, tidak ada pilihan, meminta Rara demi sebuah abdi kepadaku. Dan kini ia ketakutan, memintaku membawanya dan ia menangis. Adalah siksa terbesar ketika menatap air matanya menggenang, dan bukan demikian seharusnya. Ah!
Maka kutemui Ibu yang sepertinya sedang menunggu, lantas mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, duduk mendesah, lalu matanya mulai berkaca-kaca.
“Waktunya semakin dekat, Gora!”
“Waktu apa?” usutku tanpa basa-basi.
“Rara atau Biru. Harus pergi, Gora. Sebelumnya ini pernah terjadi, ketika kau lahir, Gora!"
“Nujum telah tawar oleh waktu. Percayalah, Bu!” kataku.
“Tidak! Kau tidak tahu apa-apa, Gora—”