Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #19

Perempuan Pemikul Dendam (2)

Perempuan Pemikul Dendam (2)

Sesungguhnya yang kau miliki hanyalah hati yang rapuh, diri yang sungguh-sungguh ingin meniada, sebab kau lelah merasakan anak-pinak kepedihan—keberadaannya yang mencengkeram jasadmu begitu sarat hingga kau tak berdaya, jiwamu kosong, mati rasa mati daya. Meniada. Namun, kau melawan, meski kau tahu, kau menumbalkan dirimu. Kau membawa bungkusan yang diberikan si lelaki tua. Ia melepasmu terbang menuju rumahmu—dengan sebuah rencana besar: pembunuhan. 

Semula kau yakin dan percaya, seperti orang-orang, kau juga diharuskan menjadi anak manis, orang kudus dengan hati yang tulus, tetapi kini kau tak lagi percaya amal, tak lagi peduli wajah ramah, senyum-sapa, dan semacamnya. Bahkan kau mengutuk cinta. Keluarga yang kau bangun dengan sungguh dan berlarut malam penuh doa-doa tulus runtu begitu saja hanya karena birahi lelakimu yang seolah tak bisa kau tumpas.

Kau tertimbun dalam reruntuhan perselingkuhan si lelaki penyembah rembulan, suamimu, yang semula kau yakini serupa Tuhan Yang Agung dan kini menjadi anjing; menggelapkan matamu, menyesatkan imanmu, yang kini menyalakan semedan lautan api yang meledak-ledak dalam dirimu. 

Kau berjalan tersenyum, memeluk erat bungkusan pemberian si kakek tua, yang di dalamnya menari-nari segala harapan-harapanmu. Ada bayang-bayang imaji yang meluap menyala-nyala di pelupuk matamu: perempuan murahan itu akan binasa! Mati!

Dengan begitu hati-hati kau membuka lemari pakaian suamimu, yang belakangan jarang ia sentuh, sebab ia memang tidak lagi pulang ke rumah. Lalu kau meletakkan pemberian si lelaki tua sesuai aturan: di sudut kiri, kanan, atas, dan bawah. Kau merapalkan beberapa ajian, lalu menyebutkan nama si lelaki penyembah rembulan dengan lantang.

Semula kalian adalah pasangan suami istri yang sepadan. Si lelaki penyembah rembulan dan kau perempuan yang memiliki mata paling cantik di dunia. 

Bulan bermata cantik, demikian ia menyebutmu, sebab ia gemar mengajakmu menelusuri pantai ketika bulan penuh dan terang. Ia memujimu serupa bulan yang penuh rahasia, misterius, tetapi menawan dan selalu mengabulkan permintaannya. Maka ia menamaimu: Bulan bermata cantik.

Lihat selengkapnya