Kertas-Kertas Takdir
Tak ada yang berubah dari rumah ini, masih sama seperti tiga hari yang lalu, ketika mayat perempuan bermata sayu dengan tubuh yang lusuh dan sering dikatai sebagai orang gila itu ditemukan terkapar di pembaringannya.
Tidak ada yang berbeda meski tuan rumahnya telah tiada. Andai saja rumah tua ini tidak begitu mengibakan, mungkin saja sudah dijadikan markas atau tempat bermain oleh para gelandangan.
Namun, sepertinya ketuaan dan derita yang tergambar di sana membuat orang-orang termasuk gelandangan yang paling malang pun tidak menjadikan rumah ini sebagai tujuan lelap satu malam panjangnya.
Namun, ada beda yang benar-benar berbeda, setelah tawanya yang muncul tiba-tiba meski tidak ada yang lucu, kerling mata yang nakal dan ingin memelukku, perempuan itu tidak akan pernah lagi kulihat menatapku dengan mulut terkatup, tangan bergetar, dan matanya berbicara kepadaku: “Aku Ibumu, yang memberimu nama, yang menolong kelahiranmu, bahkan yang menyambutmu dengan luas dadaku!”
Tidak akan ada lagi tatapannya, meski kosong, dan hampa sebab ia telah mati.
Ia ditemukan dengan nyawa yang sudah tawar pada hari Rabu yang kelabu. Namun, mengapa aku begitu kehilangannya?
Sebab tujuanku kemari bukan tanpa maksud dan jelas bukan pula karena rindu. Perkara rindu, meski ia istri pertama bapakku, si lelaki dengan sejuta nujum di kedua bola matanya, lelaki yang oleh karena ia bisa mengendalikan malam, ia disebut dengan menamai dirinya sendiri sebagai: lelaki penyembah rembulan.