Rara dan Biru Samudra
Mendapati penolakan itu, harapan Rara meredup dan kemudian padam sama sekali. Mungkin hanya mukjizat yang bisa membuatnya kembali menyala. Dan ia mendapatkan mukjizat itu pada sabtu sore yang sendu dan kelabu. Harapannya kembali menyala ketika Biru, madunya yang berhati mulia, membelanya mati matian dan menentang Ibu mertuanya yang selalu dihantui rasa takut terhadap kutuk, terhadap nujum, dan terhadap kematian.
Jika tidak, nasibnya mungkin akan lebih mengibakan dari seekor kucing yang dIbuang tuannya di dalam karung ke pinggir kali, lebih menyedihkan dari seekor anjing yang disembelih, dan ia akan terlunta tanpa tempat untuk dituju.
“Kalian menantu durhaka! Berani bersiasat di belakangku!” ketus Ibu Panggora.
“Ibu dihantui oleh ketakutan Ibu sendiri, memupuk kemarahan hingga membakar diri Ibu sendiri, dan Ibu merawat dendam seperti merawat anak kesayangan Ibu sendiri, mampu meluapkan apa yang selama ini mengganjal di dalam hatinya.” jawab Biru ketus sebab perlakuan Ibu Panggora sangat tidak logis menurutnya. Demi melihat mertuanya hanya diam, ia melanjutkan kata-katanya, “Apa yang akan berubah jika Rara pergi? Tidak akan ada, Bu!” sambungnya.
Perempuan sepuh itu menjawabnya dengan tanpa sepatah kata pun, tetapi matanya terbakar amarah. Mata itu melotot, membesar, dengan disertai oleh gemertakan gigi-gigi yang merapalkan emosi yang meluap-luap, ia berubah menjadi setan: lantas membuka mulut dan ia pun angkat bicara.
Ia menyumpah, memaki, dan menjemoh kedua menantunya, tetapi ketika ia akan melanjutkan sumpah serapahnya pada menit ke sepuluh, Panggora pulang dengan senyum yang ganjil.
Lelaki itu hanya membeku di ambang pintu utama, memandangi Rara dan Biru bergantian, juga Ibunya. Dan tetap begitu ketika Biru berkata, dengan suara cemas dan begitu pelan-pelan dengan pipi yang berurai air mata, tepat di samping telinganya: “Rara tidak akan pergi dari rumah ini. Aku sudah menyelesaikannya,” bisik Biru dengan dada yang mekar dan ia bangga akan pencapaiannya bisa meyakinkan Ibu mertuanya dan tentu saja menjadi istri kesayangan sang suami.