Hilangnya Si Lelaki Penyembah Rembulan
Lelaki itu dinyatakan hilang dari desa kami tepat sehari sebelum Nauli—perempuan bermata sayu itu ditemukan tewas di gubuknya—yang juga tua dan sepuh.
Tidak ada yang memedulikan menghilangnya lelaki itu, selain Ibuku, barangkali. Aku tidak yakin, jika ada yang merindukannya, dalam artian perempuan lebih tepatnya sebab para lelaki tidak menyukai nujuman mata juga ajiannya yang mampu menjadikan pikiran siapa saja menjadi semedan keping-keping yang dengan mudah ia satukan menjadi sebentuk pola kesenangannya, bahkan ia akan dituruti dengan sukacita oleh orang-orang yang berhasil ia tenung. Kepada perempuan, misalnya. Ia anjing yang rakus!
Ibu berulang-ulang meminta Boy, saudara tiriku, yang ia temukan ketika berusia lima tahun di perempatan menuju desa kami, ketika hujan deras dan Boy serupa anak ayam kehilangan induk. Tapi kupikir ia lebih buruk dari situ sebab ia tidak mengingat apa-apa sama sekali. Termasuk siapa namanya. Ini terus berlanjut bahkan sampai sekarang.
Itu sebab Ibu menamainya Boy. Pendek dan mudah diingat, kata Ibu kepadaku ketika penasaran dengan nama yang terkesan terlalu dikota-kotakan itu. Di desa ini orang-orang memiliki budaya memberikan nama kepada bayi-bayi yang baru lahir, atau serupa si Boy ini, meski ini kejadian pertama ada seorang anak terdampar di desa kami tanpa tahu namanya sama sekali, dengan nama-nama yang diambil dari bahasa Batak. Sebut saja Duma, Sahat, Sahala, Horas, dan seperti namaku misalnya, Panggora. Pemanggil!
Sore itu begitu sendu dan daun-daun beterbangan sebab angin berhembus kencang. Boy lantas muncul terbirit-birit serupa orang kesurupan. Ia terengah beberapa kali, lantas berkata: “Lelaki itu semalam mengamuk di Pajak Horas,” katanya. “Bisa saja ia sedang ditahan di kantor polisi karena bikin onar!” Boy tersenyum hendak masuk ke kamarnya. Namun, Ibu belum menyerah.
“Kau cari dia di lapo-lapo (kedai) tuak dan bunuh dia jika bisa,” katanya. Namun, semenjak hari itu lelaki itu menghilang dan Ibu tidak bisa tidur, entah memikirkan apa.
“Kenapa jika dia hilang, Bu? Apa untungnya bagi kita jika ia ada di sini, Bu?”