Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #24

Perempuan Penenun Nujum

Perempuan Penenun Nujum

Kematian datang seperti pencuri di tengah malam yang dalam, lantas mencabik-cabik memecahkan tangis, memperkarakan kenapa dan andai saja. 

Namun, bagi kematian Nauli, akhir hidupnya tanpa menyisakan air mata, sebab ia sebatang kara, gila, dan menjengkelkan pula. 

Orang-orang mengenalnya sebagai perempuan bermata sayu dengan baju lusuh dan suka mengejar anak kecil yang bermain jauh dari penjagaan Ibunya sambil meneriakkan: ‘‘Mari denganku … mari denganku!’’

Meski begitu, belum ada kematian yang menggemparkan desa selain kematiannya. Orang-orang berbondong-bondong mengunjungi rumahnya, para lelaki membicarakannya di kedai tuak, dan mulut Ibu-Ibu menjelma mulut Tuhan. Mereka mengaitkan kematian itu dengan hilangnya si lelaki penyembah rembulan. 

Kira-kira beginilah cerita Ibu-Ibu itu menjadi sebuah semesta yang bisa saja salah atau siapa tahu benar: perempuan itu menujum si lelaki penyembah rembulan agar jatuh cinta kepadanya, tetapi nujum itu akhirnya menjadi kutuk yang membuatnya menjadi gila. Ia bahkan dihukum tidak bisa mempunyai anak.

Hanya satu dari Ibu-Ibu itu yang tetap bungkam tanpa ikut menuhankan mulutnya; Ibuku. Aku tahu betul bagaimana kacaunya pikiran Ibu menghadapi ketakutannya kepada kutuk yang entah bagaimana bisa mencuri akal sehatnya. 

Malam itu aku mengajaknya bicara, “Bagaimana mungkin ini begitu kebetulan, Bu?” tanyaku. “Apa perempuan itu membunuh bapak lantas ia melakukan hal yang sama kepada dirinya sendiri?”

“Kau cerdas!” jawab Ibu.

“Apa mayat bapak sudah dikebumikan atau masih disembunyikannya di suatu tempat?”

“Kau cerdas!” jawab Ibu kembali dengan mata yang menerawang jauh. Kosong.

Aku menyadari besarnya guncangan kejadian ini kepada Ibu. Bahkan aku menyangsikan: jangan-jangan Ibu menangisi kematian bapak dan menertawakan kematian perempuan bermata sayu itu. 

“Apakah Ibu menangisi hilangnya bapak?” Tidak ada jawab, tetapi air mata Ibu kini mengalir.

“Perempuan itu sangat jahat, Gora! Kau bayangkan, ia membunuh bapakmu dan kemudian membunuh dirinya. Dia selalu senang membuatku kalah. Dia selalu ingin berperang denganku lantas mengalahkanku.”

“Ibu merasa kehilangan bapak?”

Lama Ibu diam tak menjawab. “Apa Ibu mencintainya?” tanyaku kembali.

Ibu mendesah panjang. “Tentu aku mencintainya. Tapi dia anjing! Dia bajingan! Makanya kunujum dia agar melupakan rumah dan tidak pulang.”

“Lalu haruskah Ibu membenci Nauli? Ia sudah mati, Bu. Lupakanlah … hati Ibu perlu tenang!”

“Apa? Melupakan kejahatannya?” Ibu tampak tidak senang.

Lihat selengkapnya