Panggora

Erlina Siahaan
Chapter #25

Hitam Putih Ibu dan Rara

Hitam Putih Ibu dan Rara

Malam itu ia keluar rumah, lewat pintu belakang, ketika aku memilih tidur bersamanya, dan aku belum benar-benar lelap. 

Jika ia ingin kencing, tentu ia akan takut sendirian—sebab kamar mandi kami terpisah dengan bangunan utama—dan ya, dasar memang ia penakut yang keterlaluan.

Lantas apa yang membuatnya harus membuka pintu belakang? Tapi tunggu! Ada suara Ibu!

“Kau harus tiba sebelum subuh,” kata Ibu setengah berbisik kepadanya. Aku mendengar kata-kata itu jelas. Ketika aku keluar kamar dan mengamati keduanya dari ruang tamu yang gelap—sepertinya lampu memang sengaja dibiarkan padam. Kuurungkan memanggil salah satu dari mereka atau menyatakan kepada mereka bahwa aku melihat mereka—karena mereka sepertinya tidak ingin diketahui. 

“Bu, apa perempuan itu akan mau?” tanyanya.

“Seperti Ibu, kutuk lelaki itu juga menguasainya. Kami harus menemukannya. Kau ingat, tabur di empat sudut rumahnya dan kau aman bahkan dia akan menurut kepadamu. Paham? Jika tidak kau memang ditakdirkan harus diusir. Jangan berharap Gora ataupun Biru bisa membelamu lagi. Kutuk itu bisa lebih menyiksamu!” kata Ibu kepadanya sambil menyerahkan sesuatu. Aku kesulitan melihatnya dalam semedan kegelapan seperti ini.

Jelas bagiku kini: Ibu menyuruhnya menemui perempuan bermata sayu itu. Lantas, mengapa ia tidak memberitahukan kepadaku? Lagi pula, semalam aku sudah mengatakan kepada Ibu bahwa tidak ada kutuk yang mampu menguasai garis takdir yang disuratkan Tuhan. Lantas mengapa ia juga menyembunyikan ini daripadaku? 

Apakah mereka berdua sepakat menipuku? Atau ... Ibu sengaja memperalatnya? 

Ketika ia akan keluar, ia pamit kepada Ibu. 

“Rara akan kembali sebelum subuh seperti yang Ibu bilang,”

“Jangan takut, matamu akan jelas menatap dalam kegelapan, dan kau tidak akan dilanda rasa takut,” kata Ibu masih setengah berbisik. “Berangkatlah!”

Ibu memastikannya telah beranjak jauh—menembus kegelapan malam—ketika menutup daun pintu belakang dengan sangat hati-hati. Aku merapatkan tubuh ke dinding dan terhalang lemari kayu tua di ruang tengah ketika Ibu masuk ke kamarnya dengan sangat hati-hati. Pintu itu tertutup, lalu dengan sangat hati-hati pula aku melakukan hal yang sama. Masuk ke kamarku.

Terlalu beresiko jika aku keluar rumah sekarang, sebab Ibu akan segera menyadarinya pula. Maka aku memilih tetap berjaga di kamarku dan mungkin Ibu juga sedang melakukan hal yang sama di kamarnya. 

Ia kembali sebelum subuh. Langkah kakinya lebih ringan dan lincah, sebab tak perlu waktu lama ia sudah di depan kamar Ibu, dan Ibu segera menyongsongnya tepat di ambang pintu kamarnya. Sementara aku berdiri di balik pintu kamarku—tepat di sisi kamar Ibu.

“Beres, Bu. Aku melakukan persis seperti yang Ibu katakan. Aku masuk ke rumahnya dan ia menyambutku, lantas aku menerangkan apa-apa yang harus ia lakukan, dan ia mengiyakan. Ibu hebat,” kata Rara istriku. Ia tampak berbeda dari Rara yang kukenal. Sebab Rara itu perempuan yang takut gelap dan paling tidak suka apa-apa yang terselubung, siasat, bahkan guna-guna seperti ini. Aku yakin, yang Ibu serahkan sebelum Rara berangkat adalah penyampai ajian guna-guna.

“Bagus. Sekarang masuklah ke kamarmu dan tidur.” kata Ibu. 

Rara masuk ke kamar ketika aku sempurna terbaring dengan tubuh miring, menghadapnya, dan berpura-pura lelap kembali. Ia terbaring dan mengecupku. Aku masih harus menahan diri atas yang mereka lakukan ini. Sebab malam itu aku mendapati satu hal: Rara menipuku dengan merahasiakan hal ini, dan ia menyembunyikan hal ini dariku. 

Aku yakin, meski ia dinujum Ibu sekalipun, ia seharusnya memberiku sebuah pertanda, bukan menghadapinya sendiri, meski Ibu mengancamnya dengan pengusiran tersebut. Tapi tak mengapa, sebab aku yakin besok akan menceritakannya kepadaku atau Ibu dan Rara akan menceritakannya kepadaku, meski terpaksa.

***

Ia berduka, meski tak meraung, juga kehilangan, meski tak menangis, tetapi matanya jelas-jelas menyatakannya, meski ia selalu menghindari tatapanku. 

Lihat selengkapnya